Tuesday, December 22, 2009

Siapakah Pribumi di Indonesia?

Siapakah Pribumi di Indonesia?

Dalam berbagai kamus bahasa Indonesia kata pribumi didefinisikan sebagai penduduk asli suatu wilayah, bukan penduduk pendatang. Disini jelas bahwa persoalan waktu kedatangan bukan menjadi parameter, tapi sekali lagi keaslian. Tidak perduli kapan mereka datang dan menetap, selama mereka bukan penduduk asli, mereka adalah non-pribumi.

Sejauh ini, jika kita percaya pada teori evolusi, maka satu-satunya pribumi di dunia ini adalah orang Afrika. Karena itulah Afrika dikenal sebagai cradle of humankind, tempat terlahirnya manusia, yang kemudian menyebar keseluruh penjuru dunia. Memang ada juga teori yang mengatakan bahwa manusia berkembang di dua tempat - Afrika dan Asia - lalu kemudian menyebar ke berbagai wilayah. Dan Indonesia merupakan salah satu tempat berkembangnya manusia di Asia menurut teori tersebut. Apakah ini yang menyebabkan kita mengklaim diri kita sebagai pribumi di Indonesia? Mungkin, tapi tidak valid.

Secara samar-samar kita memang telah diajarkan mengenai keberadaan rumpun kita di wilayah ini. Namun entah disengaja atau tidak, sejak di bangku Sekolah Dasar kita diajarkan bahwa nenek moyang kita (Melayu) berasal dari Cina, titik. Seolah sejak dari daratan Cina nenek moyang kita sudah merupakann rumpun Melayu. Kita tidak diajarkan secara eksplisit bahwa nenek moyang kita tidak saja berasal dari Cina tapi juga orang Cina.

Habgood (1989) mengatakan bahwa manusia modern Indonesia berasal dari Cina daratan. Gelombang migrasi nenek moyang kita yang merupakan para petani Cina dimulai pada 5000 tahun yang lalu dan mencapai bagian barat Indonesia pada 3000 tahun yang lalu. Sebagai petani, nenek moyang kita memiliki teknologi yang lebih maju dibandingkan mereka, kaum negrito, yang terlebih dahulu mendiami wilayah ini dan sumber kehidupannya hanya dari berburu dan mengumpulkan makanan dihutan. Oleh karena memiliki teknologi yang lebih maju, maka dengan mudahnya nenek moyang kita menggusur kaum negrito keluar dari wilayah yang mereka diami selama ini. Keturunan dari kaum negrito yang tergusur ini masih bisa kita temukan diwilayah pedalamam Irian, yang masih tetap mempraktekan pola hidup berburu dan mengumpulkan makanan.

Baik dari sejarah maupun dari konteks kata pribumi itu sendiri, sudah jelas bahwa kita - rumpun Melayu - bukanlah penduduk asli di wilayah nusantara ini. Kita adalah pendatang sebagaimana halnya mereka yang kita labelkan sebagai non-pribumi. Lalu jika demikian mengapa klaim sebagai pribumi tetap ingin kita kibarkan dan kita arak dalam kehidupkan bernegara kita? Mungkin - walaupun dahulunya merupakan virus yang disebarkan oleh penjajah Belanda - istilah ini tetap dikampanyekan karena jika tidak ada klaim sebagai pribumi maka berarti menegasikan keberadaan Orang Indonesia Asli. Mengatakan Orang Indonesia Asli tidak ada berarti menyatakan bahwa UUD 45 harus diubah serta banyak kebijakan di negeri ini harus ditinjau ulang, dan yang jauh lebih berdampak, banyak orang akan kebakaran jenggot karena privilege mereka sebagai 'tuan tanah' akan terpangkas.

Sebaliknya, jika tetap bersikukuh bahwa Orang Indonesia Asli ada dan kita ingin semua berjalan sesuai dengan konstitusi, mungkin kita harus mempersiapkan diri untuk tidak memiliki presiden. Sebab di abad modern ini tak ada satu manusiapun, apalagi sebuah bangsa, di muka bumi ini yang mampu menjaga kemurnian garis keturunannya. Lalu kita mesti bertanya masih adakah sesuatu yang imun dari perubahan di era reformasi ini, sekalipun itu sesuatu yang selama ini kita sakralkan?

Mungkin kita perlu belajar dari negara-negara Amerika Latin akan makna bernegara dalam komponen bangsa yang majemuk. Bahwa bangsa dan nasionalisme adalah suatu idea, bukan pakaian seragam kodian yang dapat dibuktikan keasliannya, sededar dari kenampakan fisik belaka.

Siapakah pribumi asli Nusantara?

Kembali ke masa prasejarah, penduduk wilayah Nusantara hanya terdiri dari dua golongan yakni Pithecantropus Erectus beserta manusia Indonesia purba lainnya dan keturunan bangsa pendatang di luar Nusantara yang datang dalam beberapa gelombang.

Berdasarkan fosil-fosil yang telah ditemukan di wilayah Indonesia, dapat dipastikan bahwa sejak 2.000.000 (dua juta) tahun yang lalu wilayah ini telah dihuni. Penghuninya adalah manusia-manusia purba dengan kebudayaan batu tua atau mesolithicum seperti Meganthropus Palaeo Javanicus, Pithecanthropus Erectus, Homo Soloensis dan sebagainya. Manusia-manusia purba ini sesungguhnya lebih mirip dengan manusia-manusia yang kini dikenal sebagai penduduk asli Australia.

Dengan demikian, yang berhak mengklaim dirinya sebagai “penduduk asli Indonesia” adalah kaum Negroid, atau Austroloid, yang berkulit hitam. Manusia Indonesia purba membawa kebudayaan batu tua atau palaeolitikum yang masih hidup secara nomaden atau berpindah dengan mata pencaharian berburu binatang dan meramu. Wilayah Nusantara kemudian kedatangan bangsa Melanesoide yang berasal dari teluk Tonkin, tepatnya dari Bacson-Hoabinh. Dari artefak-artefak yang ditemukan di tempat asalnya menunjukan bahwa induk bangsa ini berkulit hitam berbadan kecil dan termasuk type Veddoid-Austrolaid.

Bangsa Melanesoide dengan kebudayaan mesolitikum yang sudah mulai hidup menetap dalam kelompok, sudah mengenal api, meramu dan berburu binatang.Teknologi pertanian juga sudah mereka genggam sekalipun mereka belum dapat menjaga agar satu bidang tanah dapat ditanami berkali-kali. Cara bertani mereka masih dengan sistem perladangan. Dengan demikian, mereka harus berpindah ketika lahan yang lama tidak bisa ditanami lagi atau karena habisnya makanan ternak. Gaya hidup ini dinamakan semi nomaden. Dalam setiap perpindahan manusia beserta kebudayaan yang datang ke Nusantara, selalu dilakukan oleh bangsa yang tingkat peradabannya lebih tinggi dari bangsa yang datang sebelumnya.

Dari semua gelombang pendatang dapat dilihat bahwa mereka adalah bangsa-bangsa yang mulai bahkan telah menetap. Jika kehidupannya mereka masih berpindah, maka perpindahan bukanlah sesuatu hal yang aneh. Namun dalam kehidupan yang telah menetap, pilihan untuk meninggalkan daerah asal bukan tanpa alasan yang kuat. Ketika kehidupan mulai menetap maka yang pertama dan yang paling dibutuhkan adalah tanah sebagai media untuk tetap hidup. Mereka sangat membutuhkan tanah yang luas karena teknologi pertaniannya masih rendah. Mereka belum sanggup menjaga, apalagi meningkatkan, kesuburan tanah. Mereka membutuhkan sistem pertanian yang ekstensif, dan perpindahan untuk penguasaan lahan-lahan baru setiap jangka waktu tertentu. Sebelum didatangi bangsa-bangsa pengembara dari luar, tanah di Nusantara belum menjadi kepemilikan siapapun.

Hal ini berbeda dengan Manusia Indonesia Purba yang tidak memerlukan tanah sebagai modal untuk hidup karena mereka berpindah-pindah. Ketika sampai di satu tempat yang dilakukannya adalah mengumpulkan makanan (food gathering). Biasanya tempat yang dituju adalah lembah-lembah atau wilayah yang terdapat aliran sungai untuk mendapatkan ikan atau kerang (terbukti dengan ditemukannya fosil-fosil manusia purba di wilayah Nusantara di lembah-lembah sungai) walaupun tidak tertutup kemungkinan ada pula yang memilih mencari di pedalaman. Ketika bangsa Melanesoide datang, mereka mulai menetap walaupun semi nomaden. Mereka akan pindah jika sudah tidak mendapatkan lagi makanan. Maka pilihan atas tempat-tempat yang akan ditempatinya adalah tanah yang banyak menghasilkan. Wilayah aliran sungai pula yang akan menjadi targetannya. Padahal, wilayah ini adalah juga wilayah di mana para penduduk asli mengumpulkan makanannya.

Ini mengakibatkan benturan yang tidak terelakan antara kebudayaan palaeolithikum dengan kebudayaan yang mesolithikum. Alat-alat sederhana seperti kapak genggam atau choppers, alat-alat tulang dan tanduk rusa berhadapan dengan kapak genggam yang lebih halus atau febble, kapak pendek dan sebagainya. Pertemuan ini dapat mengakibatkan beberapa hal yaitu:
1. Penduduk asli ditumpas, atau
2. Mereka diharuskan masuk dan bersembunyi di pedalaman untuk menyelamatkan diri, atau
3. Mereka yang ditaklukkan dijadikan hamba, dan kaum perempuannya dijadikan harem-harem untuk melayani para pemenang perang.

Sekitar tahun 2000 SM, bangsa Melanesoide yang akhirnya menetap di Nusantara kedatangan pula bangsa yang kebudayaannya lebih tinggi yang berasal dari rumpun Melayu Austronesia yakni bangsa Melayu Tua atau Proto Melayu, suatu ras mongoloid yang berasal dari daerah Yunan, dekat lembah sungai Yang Tze, Cina Selatan. Alasan-alasan yang me-nyebabkan bangsa Melayu tua meninggalkan asalnya yaitu :
1. Adanya desakan suku-suku liar yang datangnya dari Asia Tengah;
2. Adanya peperangan antar suku;
3. Adanya bencana alam berupa banjir akibat sering meluapnya sungai She Kiang dan sungai-sungai lainnya di daerah tersebut.

Suku-suku dari Asia tengah yakni Bangsa Aria yang mendesak Bangsa Melayu Tua sudah pasti memiliki tingkat kebudayaan yang lebih tinggi lagi. Bangsa Melayu Tua yang terdesak meninggalkan Yunan dan yang tetap tinggal bercampur dengan Bangsa Aria dan Mongol. Dari artefak yang ditemukan yang berasal dari bangsa ini yaitu kapak lonjong dan kapak persegi.Kapak lonjong dan kapak persegi ini adalah bagian dari kebudayaan Neolitikum. Ini berarti orang-orang Melayu Tua, telah mengenal budaya bercocok tanam yang cukup maju dan bukan mustahil mereka sudah beternak. Dengan demikian mereka telah dapat menghasilkan makanan sendiri (food producing). Kemampuan ini membuat mereka dapat menetap secara lebih permanen.

Pola menetap ini mengharuskan mereka untuk mengembangkan berbagai jenis kebudayaan awal. Mereka juga mulai membangun satu sistem politik dan pengorganisasian untuk mengatur pemukiman mereka. Pengorganisasian ini membuat mereka sanggup belajar membuat peralatan rumah tangga dari tanah dan berbagai peralatan lain dengan lebih baik. Mereka mengenal adanya sistim kepercayaan untuk membantu menjelaskan gejala alam yang ada sehubungan dengan pertanian mereka. Sama seperti yang terjadi terdahulu, pertemuan dua peradaban yang berbeda kepentingan ini, mau tidak mau, melahirkan peperangan-peperangan untuk memperebutkan tanah. Dengan pengorganisiran yang lebih rapi dan peralatan yang lebih bermutu, kaum pendatang dapat mengalahkan penduduk asli. Kebudayaan yang mereka usung kemudian menggantikan kebudayaan penduduk asli. Sisa-sisa pengusung kebudayaan Batu Tua kemudian menyingkir ke pedalaman. Beberapa suku bangsa merupakan keturunan dari para pelarian ini, seperti suku Sakai, Kubu, dan Anak Dalam.

Arus pendatang tidak hanya datang dalam sekali saja. Pihak-pihak yang kalah dalam perebutan tanah di daerah asalnya akan mencari tanah-tanah di wilayah lain. Demikian juga yang menimpa bangsa Melayu Tua yang sudah mengenal bercocok tanam, beternak dan menetap. Kembali lagi, daerah subur dengan aliran sungai atau mata air menjadi incaran.

Wilayah yang sudah mulai ditempati oleh bangsa melanesoide harus diperjuangkan untuk dipertahankan dari bangsa Melayu Tua.Tuntutan budaya yang sudah menetap mengharuskan mereka mencari tanah baru. Dengan modal kebudayaan yang lebih tinggi, bangsa Melanesoide harus menerima kenyataan bahwa telah ada bangsa penguasa baru yang menempati wilayah mereka.

Namun kedatangan bangsa Melayu Tua ini juga memungkinkan terjadinya percampuran darah antara bangsa ini dengan bangsa Melanesia yang telah terlebih dahulu datang di Nusantara. Bangsa Melanesia yang tidak bercampur terdesak dan mengasingkan diri ke pedalaman. Sisa keturunannya sekarang dapat didapati orang-orang Sakai di Siak, Suku Kubu serta Anak Dalam di Jambi dan Sumatera Selatan, orang Semang di pedalaman Malaya, orang Aeta di pedalaman Philipina, orang-orang Papua Melanesoide di Irian dan pulau-pulau Melanesia.

Pada gelombang migrasi kedua dari Yunan di tahun 2000-300 SM, datanglah orang-orang Melayu Tua yang telah bercampur dengan bangsa Aria di daratan Yunan. Mereka disebut orang Melayu Muda atau Deutero Melayu dengan kebudayaan perunggunya. Kebudayaan ini lebih tinggi lagi dari kebudayaan Batu Muda yang telah ada karena telah mengenal logam sebagai alat perkakas hidup dan alat produksi. Kedatangan bangsa Melayu Muda mengakibatkan bangsa Melayu Tua yang tadinya hidup di sekitar aliran sungai dan pantai terdesak pula ke pedalaman karena kebudayaannya kalah maju dari bangsa Melayu Muda dan kebudayaannya tidak banyak berubah. Sisa-sisa keturunan bangsa melayu tua banyak ditemukan di daerah pedalaman seperti suku Dayak, Toraja, orang Nias, batak pedalaman, Orang Kubu dan orang Sasak. Dengan menguasai tanah, Bangsa Melayu Muda dapat berkembang dengan pesat kebudayaannya bahkan menjadi penyumbang terbesar untuk cikal-bakal bangsa Indonesia sekarang.

Dari seluruh pendatang yang pindah dalam kurun waktu ribuan tahun tersebut tidak seluruhnya menetap di Nusantara. Ada juga yang kembali bergerak ke arah Cina Selatan dan kemudian kembali ke kampung halaman dengan membawa kebudayaan setempat atau kembali ke Nusantara. Dalam kedatangan-kedatangan tersebut penduduk yang lebih tua menyerap bahasa dan adat para imigran. Jarang terjadi pemusnahan dan pengusiran bahkan tidak ada penggantian penduduk secara besar-besaran. Percampuran-percampuran inilah yang menjadi cikal bakal Nusantara yang telah menjadi titik pertemuan dari ras kuning (mongoloid) yang bermigrasi ke selatan dari Yunan, ras hitam yang dimiliki oleh bangsa Melanesoide dan Ceylon dan ras putih anak benua India.

Sehingga tidak ada penduduk atau ras asli wilayah Nusantara kecuali para manusia purba yang ditemukan fosil-fosilnya. Kalaupun memang ada penduduk asli Indonesia maka ia terdesak terus oleh pendatang-pendatang boyongan sehingga secara historis-etnologis terpaksa punah atau dipunahkan dalam arti sesungguhnya atau kehilangan ciri-ciri kebudayaannya dan terlebur di dalam masyarakat baru. Semua adalah bangsa-bangsa pendatang.

Daftar Pustaka:
D. G. E. Hall. Sejarah Asia Tenggara. Cet.I. Surabaya-Usaha Nasional. 1988
Stanley. Makalah Arus Dari Utara. 1998
T. Parakitri Simbolon. Menjadi Indonesia, buku I “Akar-akar kebangsaan Indonesia”. Cet.I. Jakarta-Kompas-Grasindo. 1995.
Dr. M. Prijohutomo & P.J. Reimer. Tentang Orang dan Kejadian Jang Besar Djilid I. Tjet.V. Djakarta-Amnsterdam: W.Versluys N.V.
Pramoedya Ananta Toer. Hoakiau di Indonesia. Jakarta-Garba Budaya.1998

Baca Juga Sejarah Kerajaan Indonesia

http://www.kaskus.us/showthread.php?t=2621150

AWAL PENDARATAN AUSTRONESIA DI PANTAI UTARA JAWA

AWAL PENDARATAN AUSTRONESIA DI PANTAI UTARA JAWA,
SEBUAH PROSPEK MELACAK NENEK MOYANG ETNIS JAWA
Sofwan Noerwidi
Balai Arkeologi Yogyakarta

Abstrak
Pulau Jawa merupakan pulau yang paling padat penduduknya di Kepulauan
Nusantara. Berdasarkan kajian linguistik, Robert Blust (1984/1985) berpendapat
bahwa proses pembentukan proto bahasa Jawa, Bali, Sasak dan Sumbawa bagian
barat baru terjadi pada 2500 BP yang kemungkinan berasal dari suatu daerah di
Borneo atau Sumatra. Namun, bukti arkeologis yang dapat digunakan untuk menguji
hipotesis tersebut masih sangat terbatas, sehingga proses awal penghunian pulau
Jawa oleh masyarakat neolitik Austronesia masih menjadi misteri. Mungkin saat ini
situs-situs neolitik awal di pantai utara Pulau Jawa telah terkubur beberapa meter di
bawah endapan aluvial. Data geologi dan geomorfologi memiliki peran yang sangat
penting untuk mengungkap kasus tersebut. Selain itu juga perlu diperhatikan
perubahan muka air laut pada masa lampau. Metode pencarian data dari bidang lain
mungkin sangat membantu dalam hal ini, seperti geoelektrik misalnya.
Abstract
Java Island is the densest island in the Indonesian Archipelago. From linguistic
evidence, Blust (1985) argued that there are the created process of proto Javanese,
Balinese, Sasak and West Sumbawa language took place approx. in the last 2500
years, which came from a language spoken somewhere in Sumatera or Borneo. The
archaeological evidence, which can support these linguistic hypotheses is very rear
uncovered, this causes reconstruction of the process of colonization in Java Island by
Austronesia speaking people to still be a mystery. Maybe, early Neolithic sites along
north coast of Java buried under alluvial deposit at the present time. Geomorphology
and Geological data are very important to answer this case. Another hand, ancient
sea level fluctuation will be an important factor. Survey methodology from other
discipline will very helpful, such as Geo-electric.
Terminologi Austronesia
Rumpun bahasa Austronesia merupakan salah satu rumpun bahasa terbesar yang
digunakan di lebih dari separuh belahan dunia, membentang dari Madagaskar di
barat hingga Pulau Paskah di Timur, serta membujur dari Taiwan dan Hawai�i di
utara hingga Selandia Baru di selatan. Luas persebarannya menjadikan rumpun
bahasa Austronesia sebagai bahasa terbesar sebelum masa kolonialisme bangsa
Eropa. Turunan rumpun bahasa Austronesia beranggotakan sekitar 1200 bahasa yang
berkerabat, serta digunakan oleh lebih dari 350 juta orang, dengan jumlah penutur
terbesar terdiri dari bahasa Melayu-Indonesia, Jawa dan Tagalog. Saat ini, bahasa
Austronesia secara mayoritas digunakan di negara-negara; Indonesia, Malaysia,
Filipina, Singapura, Brunei, serta oleh etnis tertentu di Taiwan (seperti; Atayal, Tsou
dan Paiwan), Vietnam, Kamboja (etnis Cham), Birma (pengembara laut di Kep.
Mergui), Timor Leste (seperti; Tetum, Quemac, dan Tocodede) dan beberapa etnis di
pantai utara Papua (lihat: Tryon, 1995: 17-19 dan Martins, 2000: 78).
Persebaran Berbagai Rumpun Bahasa Manusia (www.wikipedia.com)
Istilah Austronesia pada awalnya diberikan oleh ahli linguistik untuk menyebut suatu
rumpun bahasa yang hampir secara mayoritas dituturkan di Asia Tenggara
Kepulauan, Micronesia, Melanesia Kepulauan dan Polynesia. Pada
perkembangannya, istilah Austronesia juga digunakan untuk menyebut suatu
komunitas yang berbudaya Austronesia serta menuturkan bahasa Austronesia.
Perhatian terhadap kajian rumpun bahasa Austronesia dapat dirunut hingga awal
abad 16, ketika para pengembara mengumpulkan daftar kosa kata bahasa Austronesia
dari tempat-tempat yang mereka kunjungi, seperti misalnya Antonio Pigafetta
(seorang berkebangsaan Italia) yang ikut dalam ekspedisi Magellan 1519-1522 (Fox,
2004: 3). Kapten Cornelis de Houtman seorang kapten kapal Belanda yang berlayar
menuju Hindia Timur (mendarat di Banten) melalui Madagaskar pada tahun 1596,
mengamati berbagai kemiripan antara bahasa Malagasy dan bahasa Melayu
(Tanudirjo, 2001:9).
William von Humboldt adalah tokoh yang pertama kali mengajukan istilah �Malayo-
Polynesia� untuk menyebut bahasa-bahasa di kawasan Malaya sampai Polynesia
yang memiliki kemiripan. Pada tahun 1889, berdasarkan pada kajian linguistik yang
detail dan sistematis, Hendrik Kern membagi rumpun bahasa �Malayo-Polynesia�
menjadi bahasa �Malayo-Polynesia Barat� yang terdiri dari bahasa-bahasa di Asia
Tenggara Kepulauan serta Micronesia bagian barat, dan bahasa �Malayo-Polynesia
Timur� yang terdiri dari bahasa-bahasa di Melanesia Kepulauan dan Polynesia.
Kemudian pada tahun 1906, Wilhelm Schmidt memperkenalkan terminology
�Austronesia�, untuk menyebut bahasa �Malayo-Polynesia�. Selain itu beliau juga
mengajukan hipotesis bahwa pada masa lampau di Asia daratan terdapat bahasa
�Austric� yang merupakan nenek moyang bahasa Austronesia dan Austroasiatic.
Selain itu, di Asia Daratan juga terdapat beberapa rumpun bahasa besar lainnya,
antara lain adalah; Indo-Eropa, Sino-Tibetan, Tai-Kadai, Altaic, Korea, dan Hmong
Mien. Bahasa Austronesia kemudaian menurunkan bahasa-bahasa di Asia Tenggara
Kepulauan dan Pasifik, sedangkan bahasa Austroasiatic berkembang menjadi dua
rumpun besar bahasa yaitu; bahasa Mon-Khmer di Indochina dan bahasa Munda di
India bagian timur (lihat: Anceaux, 1991:73 serta Blench dan Dendo, 2004: 13).
Robert von Heine Geldern adalah ahli arkeologi yang pertama kali mengadopsi
konsep budaya Austronesia dari para linguist. Beliau berpendapat bahwa luas
persebaran budaya Austronesia ditunjukkan dengan persebaran kompleks budaya
Vierkantbeil Adze, dengan ciri utamanya adalah kehadiran beliung berpenampang
lintang persegi. Roger Duff kemudian melakukan kajian berdasarkan hasil penelitian
Geldern. Beliau melakukan klasifikasi tipologi beliung persegi berdasarkan bentuk
irisan, bentuk tajaman dan bentuk pangkal (Duff, 1970:8). Akhirnya Duff sampai
pada kesimpulan bahwa persebaran komunitas Austronesia di Kepulauan Indonesia
(kecuali Papua) yang didukung dengan pola subsistensi pertanian berasal dari
Semenanjung Malaya bagian selatan. Hal tersebut tercermin oleh persebaran beliung
paruh (Malayan Beacked Adze) dan belincung (Indonesian Pick Adze) (Duff,
1970:14). Ahli lainnya adalah Wilhelm G. Solheim II yang mengajukan teori bahwa
wilayah geografis persebaran gerabah Sa-Huynh dan Kalanay di Asia Tenggara
Kepulauan dan Lapita di Melanesia bagian barat memiliki hubungan dengan
persebaran orang Austronesia. Namun, beliau mengajukan istilah Nusantau untuk
menyebut kelompok orang Austronesia dan budayanya tersebut.
Persebaran Austronesia
Sangat mengagumkan melihat persebaran rumpun bahasa Austronesia yang
dituturkan pada hampir seluruh kawasan kepulauan Indo-Pasifik. Banyak ahli yang
berpendapat bahwa persebaran rumpun bahasa Austronesia yang luas disebabkan
oleh proses ekspansi komunitas penutur rumpun bahasa tersebut ke luar dari daerah
asalnya. Hendrik Kern mencoba untuk mencari daerah asal persebaran bahasa
Austronesia menggunakan metode pemilihan kosa kata sebagai bentuk bahasa
Austronesia purba dari kosa kata yang maknanya bersangkutan dengan unsur-unsur
flora, fauna dan lingkungan geografis. Hasil kajian tersebut membawa beliau pada
suatu kesimpulan bahwa tanah asal nenek moyang rumpun bahasa Austronesia
terletak di suatu pantai daerah tropis (Anceaux, 1991: 74-75, Blust, 1984-1985:47-
49).
Robert Blust (1984-1985) seorang linguist, berusaha menyusun silsilah kekerabatan
bahasa Austronesia dengan menggunakan metode �W�rter und Sachen Technique�,
yaitu dengan menggunakan kosa kata sebagai dasar untuk menyimpulkan berbagai
referensi yang diketahui oleh penutur bahasa yang direkonstruksi. Kosa kata tersebut
juga digunakan sebagai dasar untuk merekonstruksi budaya dan lingkungan alam
penutur bahasa yang direkonstruksi. Hasil reksonstruksi Blust adalah; nenek moyang
bahasa Austronesia dituturkan di sekitar daerah yang tidak jauh dari Pulau Taiwan
(Formosa) pada kurun sebelum 4.500 SM. Kemudian bahasa tersebut memisahkan
diri menjadi bahasa Austronesia Formosa (Atayal, Tsou dan Paiwan) dan Proto
Melayu-Polynesia (seluruh bahasa Austronesia di luar Taiwan) pada 4.500 SM.
Melayu-Polynesia kemudian berkembang menjadi Melayu-Polynesia Barat dan
Melayu-Polynesia Timur-Tengah pada 3.500 SM. Pada 3.000 SM, bahasa Melayu-
Polynesia Barat berkembang menjadi bahasa-bahasa Austronesia di kawasan antara
Filipina Selatan, Sumbawa bagian Barat dan Sumatra, sedangkan Melayu-Polynesia
Timur-Tengah berkembang menjadi Melayu-Polynesia Tengah dan MelayuPolynesia
Timur. Akhirnya, pada 2.500 SM bahasa Melayu-Polynesia Timur
berkembang menjadi bahasa Halmahera Selatan-Nugini Barat dan bahasa Oseania.
Silsilah Rumpun Bahasa Austronesia (Blust, 1978)
Saat ini berkembang beberapa teori persebaran Austronesia yang diajukan oleh para
ahli dari berbagai sudut pandang yang berbeda, diantaranya adalah; The Express
Train from Taiwan to Polynesia (Bellwood), The Taiwan Homeland concept (Reed),
Island Southeast Asia Origin (Solheim), From South America via Kon Tiki
(Heyerdahl), An Entangled Bank (Terrell), The Geneflow Model (Devlin), The
Genetic Bottleneck in Polynesia (Flint), The Eden in the East concept
(Oppenheimer), Voyaging Corridor Triple I account (Green) (lihat Chambers,
2006:303). Berdasarkan beberapa teori yang berkembang tersebut, pada intinya
terdapat tiga kubu model persebaran Austronesia yang berbeda, yaitu; (1)
Austronesia berasal dari Pulau Taiwan, (2) Austronesia berasal dari dari kawasan
Asia Tenggara Kepulauan dan (3) Austronesia berasal dari dari kawasan Melanesia.
Diantara beberapa teori tersebut, salah satunya yang terkuat dan mendapat banyak
dukungan dari berbagai sudut pandang keilmuan adalah model yang diajukan oleh
Bellwood. Beliau menyarankan bahwa Austronesia berasal dari Taiwan dan Pantai
Cina bagian selatan. Kawasan tersebut oleh berberapa ahli linguistik dianggap
sebagai tempat asal bahasa proto-Austronesia. Disamping itu, secara arkeologis
daerah tersebut menghasilkan bukti pola subsistensi bercocok tanam dan aspek
budaya Austronesia lainnya yang paling tua di kawasan ini berupa beliung persegi
dan gerabah, seperti yang ditemukan di situs Hemudu di Teluk Hangzou, Propinsi
Zhejiang yang berumur 7000 tahun (Bellwood, 1995:97-98).
Kolonisasi Austronesia di Jawa
Pulau Jawa merupakan salah satu pulau yang paling padat penduduknya di
Kepulauan Nusantara. Dari sudut pandang genetik dan linguisik, pada saat ini
mayoritas penduduk Pulau Jawa adalah masyarakat dengan ciri genetik Mongoloid
serta menuturkan bahasa yang termasuk dalam rumpun Austronesia. Sampai saat ini,
penjelasan yang paling luas diterima bagi kasus penyebaran masyarakat penutur
bahasa Austronesia adalah Blust-Bellwood model yang dibangun berdasarkan
gabungan antara data linguistic historis dan arkeologi. Teori yang diajukan mereka
disebut juga model Out of Taiwan atau Express Train from Taiwan to Polynesia yang
intinya bahwa masyarakat penutur bahasa Austronesia berekspansi dari Taiwan sejak
5.000 BP menuju Asia Tenggara Kepulauan, Melanesia Kepulauan, Micronesia
hingga Polynesia, dengan cepat selama satu millennium berikutnya via Filipina. Pada
masa sebelumnya, Taiwan dikoloni oleh sekelompok populasi petani dari daratan
Cina Selatan via Pulau Peng Hu (Pascadores) pada sekitar 6.000 BP akibat tekanan
demografi (Tanudirjo, 2006: 87).
Persebaran Geografis Bahasa Austronesia (Diamond, 2000)
Berdasarkan kajian linguistik, Robert Blust (1984/1985) berpendapat bahwa
kelompok bahasa Jawa-Bali-Sasak memiliki hubungan yang erat dengan kelompok
bahasa Malayo-Chamic dan Bahasa Barito di Kalimantan Selatan (termasuk
Madagaskar). Beliau menduga bahwa proto kelompok bahasa-bahasa tersebut
dituturkan di bagian tenggara Kalimantan pada periode 1000-1500 SM. Kemudian
mengalami pemisahan yang pertama menjadi nenek moyang Bahasa Barito, Bahasa
Malayo-Chamic dan Bahasa Jawa-Bali-Sasak. Proses pemisahan berikutnya yang
dialami oleh proto bahasa-bahasa tersebut terjadi pada 800-1000 SM. Namun proses
pembentukan proto bahasa Jawa, Bali, Sasak dan Sumbawa bagian barat baru terjadi
pada 2500 tahun terakhir yang kemungkinan berasal dari suatu daerah di Borneo atau
Sumatra.
Beberapa Permasalahan
Berdasarkan kajian arkeologi, �paket� budaya neolitik yang dapat diasosiasikan
dengan penyebaran komunitas Austronesia awal dari Taiwan antara lain adalah;
pertanian padi-padian, domestikasi anjing dan babi, gerabah berdasar membulat
berhias slip merah, cap, gores dan tera tali dengan bibir melipat ke luar, kumparan
penggulung benang dari tanah liat, beliung batu dengan potongan lintang persegi
empat yang diasah, artefak dari batu sabak (lancipan) dan nephrite (aksesoris), batu
pemukul kulit kayu, serta batu pemberat jala. Beberapa dari kategori tersebut,
terutama gerabah slip merah berlanjut hingga Indonesia timur kemudian menuju
Oseania dalam bentuk komplek budaya Lapita (3.350-2.800 BP) (lihat: Bellwood,
2000: 313 dan 2006: 68). Namun, bukti arkeologis tersebut di atas yang dapat
digunakan untuk menguji hipotesis linguistik Blust masih sangat terbatas ditemukan
di Pulau Jawa, sehingga proses awal penghunian pulau ini oleh masyarakat neolitik
penutur bahasa Austronesia sampai sekarang masih menjadi misteri.
Data arkeologis yang mengindikasikan adanya kolonisasi Austronesia di Jawa adalah
persebaran berbagai macam tipologi beliung persegi yang telah dicatat oleh H.R van
Heekeren (1974), antara lain dari daerah; Banten, Kelapa Dua, Pejaten, Kampung
Keramat, dan Buni (Jakarta dan Tangerang), Pasir Kuda (Bogor), Cibadak, Cirebon,
Tasikmalaya (Priangan), Pekalongan, Gunung Karangbolang (Banyumas),
Semarang, Yogyakarta, Punung dan Wonogiri, Madiung, Surabaya, Madura, Malang,
Kendeng Lembu dan Pager Gunung (Besuki). Namun sayangnya, sebagian besar dari
temuan tersebut berasal dari laporan penduduk dan situs yang tidak jelas asalusulnya,
kecuali beberapa situs yang saat ini telah di teliti secara intensif seperti
misalnya Punung.
Bukti arkeologis yang langsung dapat digunakan untuk mendukung hipotesis
linguistik masih sangat sedikit yang ditemukan, sehingga proses awal penghunian
Pulau Jawa oleh masyarakat penutur bahasa Austronesia sampai saat ini masih
menjadi misteri. Proses transformasi data arkeologi berpengaruh sangat besar bagi
proses pembentukan dan ditemukannya bukti-bukti arkeologis tersebut. Mungkin
keadaannya pada saat ini situs-situs neolitik awal di pantai utara Pulau Jawa telah
terkubur beberapa meter di bawah endapan aluvial, sehingga sukar untuk ditemukan
dan diteliti (Bellwood, 2000: 337). Hal tersebut disebabkan karena di pulau Jawa
terdapat beberapa sungai besar yang bermuara ke pantai utara, antara lain adalah;
Sungai Cisadane, Sungai Ciliwung dan Sungai Citarum di bagian barat, Sungai Kuto,
Sungai Tuntang, dan Sungai Lusi di bagian Tengah, serta Sungai Bengawan Solo dan
Sungai Brantas yang mengalir ke timur dan bermuara di Selat Madura. Permasalahan
yang serupa mungkin juga terjadi pada situs-situs di pantai timur Sumatra yang
diperkirakan menjadi lokasi pendaratan Austronesia di pulau tersebut.
Prospek Penelitian
Untuk menyiasati permasalahan belum banyaknya bukti arkeologis akibat proses
transformasi tersebut, maka harus dicari situs-situs di kawasan yang diperkirakan
selamat dari proses pengendapan yang cepat oleh material alluvial kegiatan vulkanik
beberapa gunung berapi yang dimulai sejak Jaman Kuarter. Data geologi dan
geomorfologi memiliki peran yang sangat penting dalam hal ini. Selain itu juga perlu
diperhatikan perubahan tinggi muka air laut pada masa lampau. Berdasarkan pada
indicator biogenic dan inorganic untuk merekonstruksi muka air laut pada masa
lampau, dapat dikatahui bahwa di Semenanjung Malaysia dan Thailand yang gerak
tektoniknya stabil, muka air laut lebih tinggi 5 meter dari muka air laut sekarang
yang terjadi pada 5.000 BP (lihat: Tjia, 2006). Jika hal ini juga terjadi di pantai utara
Jawa, maka situs-situs pendaratan Austronesia antara 3.000-2.500 BP harus dicari
pada kawasan pantai yang konturnya lebih tinggi dari 3-4 meter di atas permukaan
laut saat ini.
Berdasarkan pada persyaratan tersebut di atas, maka beberapa kawasan pantai utara
Pulau Jawa bagian tengah dan timur yang memiliki potensi sebagai lokasi pendaratan
Austronesia adalah pantai-pantai di sepanjang Semenanjung Blambangan, Tuban,
Semarang dan Batang. Oleh karena itu, harus dicari situs permukiman neolitik
terbuka di sekitar kawasan pantai-pantai tersebut. Metode pencarian data dari bidang
keilmuan lain mungkin sangat membantu dalam hal ini, seperti geoelektrik misalnya
yang berguna untuk membantu menemukan garis pantai masa lampau sesuai dengan
kronologi yang diinginkan (3.000-2.500 BP untuk awal pendaratan Austronesia di
Pulau Jawa berdasarkan hipotesis linguistik).
Punung
Purbalingga
Kendenglembu
Kondisi Geomorfologi Pulau Jawa, dan Hipotesis pendaratan Austronesia
Mahirta (2006) mengembangkan beberapa model migrasi-kolonisasi yang diajukan
oleh Moore untuk diujikan pada kasus persebaran Austronesia. Beliau berpendapat
bahwa di Kepulauan Indonesia bagian timur terdapat dua macam pola permukiman
prasejarah Austronesia, yaitu (1) permukiman tersebar di sepanjang pantai jika
mengkoloni pulau yang tidak terlalu besar, seperti misalnya Pulau Kayoa dan Pulau
Gebe di Maluku Utara dan (2) permukiman berkembang memanjang ke pedalaman
sejajar dengan alur sungai, seperti misalnya situs-situs Kalumpang di Sulawesi Barat
dan permukiman tradisional etnis Dayak di Kalimantan yang masih bisa kita
saksikan hingga saat ini (lihat: Mahirta, 2006). Melihat beberapa kasus tersebut,
maka sebaiknya dalam eksplorasi situs-situs di pantai utara Jawa juga
memperhatikan keberadaan sungai yang dapat berpotensi sebagai jalur akses menuju
ke pedalaman. Hal tersebut disebabkan karena Pulau Jawa terlalu luas bagi
komunitas Austronesia jika hanya dikoloni pada bagian sekeliling garis pantainya
saja. Selain itu, komunitas petani dan peternak Austronesia tentunya membutuhkan
dataran alluvial gunung berapi yang subur di lokasi yang lebih ke pedalaman untuk
mengembangkan pola subsistensi bercocok tanam biji-bijian di Pulau Jawa. Dalam
hal ini, beberapa sungai besar yang bermuara ke pantai utara Jawa harus mendapat
perhatian khusus, seperti misalnya Sungai Tuntang di Semarang.
Sebagai referensi lainnya, pada situs-situs Austronesia awal di Cina daratan dan
Taiwan, rupa-rupanya telah dikenal sistem pemukiman menetap, dan berkelompok di
tempat terbuka dalam bentuk perkampungan. Situs-situs pemukiman rumah
panggung antara lain terdapat di Xitou, Kequitou dan Tanshishan di Fujian, situs
Hemudu di Zhejiang dan di Guangdong. Situs-situs tersebut berumur 5200 dan 4200
SM. Rumah-rumah tersebut berdenah persegi yang dibangun dengan teknik lubang
dan pasak yang amat rapi dan didirikan di atas deretan tumpukan kayu kecil.
Kemudian pada masa selanjutnya muncul situs desa seluas 40-80 hektar di Peinan
yang bertarik 1500 dan 800 SM. Situs rumah panggung juga terdapat di Feng pi t�ou
di Taiwan yang dihuni 2500-500 SM dan situs Dimolit di Luzon utara, yang dihuni
2500-1500 SM (Bellwood, 2000: hlm. 309, 315, 319, dan 323). Di Pasifik, pola
permukiman budaya Lapita pada umumnya terdiri atas beberapa rumah panggung
yang berada di pinggir pantai atau pulau kecil diseberangnya, seperti di Kepulauan
Mussau dengan luas 7 hektar. Indikasi mengenai situs tersebut biasanya ditandai
dengan sebaran pecahan gerabah, tungku dari tanah, dan bekas perapian (Spriggs,
1995: 118).
Berdasarkan data linguistik, kosa kata Austronesia mengenai rumah dan unsurunsurnya
permukiman lainnya ditemukan di seluruh kawasan barat dan timur
persebaran bahasa ini. Bahkan kata *Rumaq (Ind. Rumah) telah muncul sejak awal
perkembangan bahasa Austronesia di Taiwan (Blust, 1984-1985: 220). Sedangkan
berdasarkan bukti etnografi, sampai saat ini sistem permukiman terbuka tradisional
dengan rumah panggung masih banyak ditemukan pada masyarakat tradisional
Austronesia, seperti: Rumah Gadang (Minangkabau), Lamin (Dayak), Tongkonan
(Toraja).
Implikasi
Banyak situs permukiman neolitik telah ditemukan di Indonesia, dan beberapa
diantaranya telah dilakukan penelitian secara intensif, seperti misalnya; Tipar Ponjen,
Purbalingga (1.180-870 BP), Nangabalang, Kalimantan Barat (2.871 BP), Minanga
Sipakko, Sulawesi Barat (2.570 BP) dan Punung, Pacitan (2.100-1.100 BP)
(Simanjuntak, 2002). Namun dari beberapa situs tersebut hanya Situs Kendenglembu
di Pulau Jawa, yang merupakan satu di antara dua (yang baru ditemukan) kompleks
situs permukiman pure (murni) neolitik di Indonesia berdasarkan kerangka kronologi
(bukan tradisi). Situs sejenis lainnya adalah situs-situs di sepanjang Sungai Karama,
Kalumpang di Sulawesi Barat, mulai dari Tasiu, Sikendeng dan Lattibung di hilir
hingga Minanga Sipakko, Kamassi dan Tambing-tambing di hulu (lihat: Simanjuntak
2006).
Namun, berbeda dengan situs-situs Kalumpang yang terletak di sepanjang Sungai
Karama dari hilir hingga hulu, Situs Kendenglembu merupakan situs pedalaman di
selatan Jawa bagian timur yang kelihatannya tidak memiliki akses sungai menuju ke
pantai utara Jawa, tempat diperkirakannya awal pendaratan Austronesia di pulau ini.
Walaupun demikian, melihat perkembangan yang cukup signifikan dari hasil
penelitian Situs Kalumpang, maka perlu juga dilakukan penelitian secara sistematis
di Situs Kendenglembu dan eksplorasi situs-situs permukiman terbuka neolitik
lainnya di pantai utara, yang diperkirakan merupakan situs koloni awal (pendaratan)
Austronesia di Pulau Jawa, sebagai cikal bakal atau nenek moyang etnis Jawa di
pulau ini.
REFERENSI
Anceaux, J.C. 1991, �Beberapa Teori Linguistik Tentang Tanah Asal Bahasa
Austronesia�, dalam Harimurti Kridalaksana, ed. Masa Lampau Bahasa
Indonesia: Sebuah Bunga Rampai, Yogyakarta: Penerbit Kanisius. hlm.
72-92.
Bellwood, Peter. 1995. �Austronesian Prehistory in Southeast Asia: Homeland,
Expansion and Transformation�, dalam Peter Bellwood, James J. Fox,
Darrell Tryon (eds), The Austronesians: Historical and Comparative
Perspectives, Canberra: ANU, hlm. 96-111.
2000. Prasejarah kepulauan Indo-Malaysia, edisi revisi, Jakarta:
PT.Gramedia Pustaka Utama.
2006 �The Early Movement of Austronesian-speaking-peoples in the
Indonesian Region�, dalam Truman Simanjuntak, dkk. ed, Austronesian
Diaspora and the Ethnogeneses of People in Indonesian Archipelago,
Jakarta: LIPI Press. hlm. 61-82.
Blench, Roger dan Mallam Dendo. 2004. �Stratification in the Peopling of China:
How Far Does the Linguistic Evidence Match Genetics and Archaeology?�,
Paper for the Symposium : Human migrations in continental East Asia
and Taiwan: genetic, linguistic and archaeological evidence, Gen�ve:
Universit� de Gen�ve
Blust, Robert. 1984-1985. �The Austronesian Homeland: A Linguistic Perspective�,
Asian Perspectives 26 (1), hlm. 45-68.
Chambers, Geoffrey K. 2006. �Polynesian Genetic and Austronesian Prehistory�,
dalam Truman Simanjuntak, dkk. ed, Austronesian Diaspora and the
Ethnogeneses of People in Indonesian Archipelago, Jakarta: LIPI Press.
hlm. 299-319.
Diamond, Jared. M. 2000. �Taiwan�s gift to the world�, Nature, Vol. 403, Macmillan
Magazines Ltd
Duff, Roger. 1970. Stone Adze of Southeast Asia, New Zealand: Centerbury
Museum
Fox, James J. 2004. �Current Developments in Comparative Austronesian Studies�,
makalah disampaikan dalam Symposium Austronesia, Pascasarjana
Linguistik dan Kajian Budaya, Universitas Udayana, Bali
Heekeren, H.R. van. 1972. �The Stone Age of Indonesia�, Verhandelingen van
het Koninklijk Instituut voor Tall-, Land-, en Volkenkunde, 61, Revised
Edition, The Hague: Martinus Nijhoff
Mahirta. 2006. �The Prehistory of Austronesian Dispersal to the Southern Island of
Eastern Indonesia�, dalam Truman Simanjuntak, dkk. ed, Austronesian
Diaspora and the Ethnogeneses of People in Indonesian Archipelago,
Jakarta: LIPI Press. hlm. 129-145.
Martins, F.M. 2000. �Susunan Beruntun dalam Bahasa Bunac� dalam Sudaryanto
dan Alex Horo Rambadeta (eds), Antar Hubungan Bahasa dan Budaya di
Kawasan Non-Austronesia, Yogyakarta: PSAP-UGM, hlm. 77-89.
Simanjuntak, Truman, ed. 2000. Gunung Sewu in Prehistoric Times, Yogyakarta:
Gadjah Mada University Press.
Simanjuntak, Truman. 2006. �Advance of Research on the Austronesian in
Sulawesi�, dalam dalam Truman Simanjuntak, dkk. ed, Austronesian
Diaspora and the Ethnogeneses of People in Indonesian Archipelago,
Jakarta: LIPI Press. hlm. 223-231.
Spriggs, Matthew. 1995. �The Lapita Culture and Austronesian Prehistory in
Oceania�, dalam Peter Bellwood, James J. Fox, Darrell Tryon (eds), The
Austronesians: Historical and Comparative Perspectives, Canberra: ANU,
hlm. 112-133.
Tanudirjo, Daud Aris. 2001. �Island In-Between: the Prehistory of Northeastern
Indonesia. Ph.D. Thesis, Canberra: ANU.
2006. �The Dispersal of Austronesian-speaking-people and the
Ethnogenesis Indonesian People� dalam Truman Simanjuntak, dkk. ed,
Austronesian Diaspora and the Ethnogeneses of People in Indonesian
Archipelago, Jakarta: LIPI Press. hlm. 83 - 98.
Tjia, H.D. 2006. �Geological Evidence for Quaternary Land Bridge in Insular
Southeast Asia�, dalam Truman Simanjuntak, dkk. ed. Archaeology:
Indonesian Perspective, R.P. Soejono�s Festschrift, Jakarta: LIPI Press.
hlm. 71-82.
Tryon, Darrel. 1995. �Proto-Austronesian and the Major Austronesian Subgroup�,
dalam Peter Bellwood, James J. Fox, Darrell Tryon (eds.), The
Austronesians: Historical and Comparative Perspectives, Canberra: ANU,
hlm. 17-38.

Friday, October 2, 2009

THE SAUDI DYNASTY? HAVE JEWS ANCESTOR???

THE SAUDI DYNASTY: FROM WHERE IS IT? AND WHO IS THE REAL ANCESTOR OF THIS FAMILY?



RESEARCH AND PRESENTATION OF: MOHAMMAD SAKHER , who was ordered killed by the Saudi Regime for the following findings:

1. Are the Saudi Family members belonging to the Tribe of ANZA BEN WA'EL as they allege to be?
2. Is Islam their actual religion?
3. Are they of an ARAB ORIGIN at all?

In the year 851 A.H. a group of men from AL MASALEEKH CLAN, which was a branch of ANZA Tribe, formed a caravan for buying cereals (wheat and corn) and other food stuff from IRAQ, and transporting it back to NAJD. The head of that group was a man called SAHMI BIN HATHLOOL. The caravan reached BASRA, where the members of the group went to a cereal merchant who was a Jew, Called MORDAKHAI BIN IBRAHIM BIN MOSHE'. During their bargaining with that merchant, the Jew asked them : "Where are you from?" They answered: "From ANZA TRIBE; a clan of AL MASALEEKH." Upon hearing that name, the Jew started to hug so affectionately each one of them saying that he, himself, was also from the clan of AL MASALEEKH, but he had come to reside in BASRA (IRAQ) in consequence to a family feud between his father and some members of ANZA Tribe.

After he recounted to them his fabricated narrative, he ordered his servants to load all the camels of the clan's members with wheat, dates and tamman; a remarkable deed so generous that astonished the MASALEEKH men and aroused their pride to find such an affectionate (cousin) in IRAQ- the source of their sustenance; they believed each word he said , and , because he was a rich merchant of the food commodities which they were badly in need, they liked him (even though he was a Jew concealed under the garb of an Arab from AL MASALEEKH clan).

When the caravan was ready to depart returning to NAJD, that Jewish Merchant asked them to accept his company, because he intended to go with them to his original homeland, NAJD. Upon hearing that from him, they wholeheartedly welcomed him with a very cheerful attitude.

So that (concealed) Jew reached NAJD with the caravan. In NAJD, he started to promulgate a lot of propaganda for himself through his companions (his alleged cousins), a fact, which gathered around him a considerable number of new supporters; but, unexpectedly, he confronted a campaign of opposition to his views led by SHEIKH SALEH SALMAN ABDULLA AL TAMIMI, who was a Muslem religious preacher in AL-QASEEM. The radius of his preaching area included Najd, Yemen, and Hijaz, a fact which compelled the Jew (the Ancestor of the present SAUDI FAMILY to depart from AL QASEEM to AL IHSA, where he changed his name (MORDAKHAI) To MARKHAN BIN IBRAHIM MUSA. Then he changed the location of his residence and settled at a place called DIR'IYA near AL-QATEEF, where he started to spread among the inhabitants a fabricated story about the shield of our Prophet MOHAMMAD (p.b.u.h), that it was taken as a booty by an Arab Pagan in consequence of OHOD Battle between the Arab pagans and the Muslems. "That shield, he said, was sold by the Arab Pagan to a Jewish Clan called BANU QUNAIQA' who preserved it as a treasure! He gradually enhanced his position among the Bedouins through such stories which indicated how the Jewish clans in Arabia were so influential and deserved high esteem. He gained some personal importance among the Bedouins, and decided to settle permanently there, at DIR'IYA town, near AL QATEEF, which he decided to be his (Capital) on the Persian Gulf. He aspired to make it his spring board for establishing a Jewish Kingdom in Arabia.
In order to fulfill his ambitious scheme, he started to approach the desert Arab Bedouins for support of his position, them gradually, he declared himself as their king!

At that juncture, AJAMAN Tribe together with BANU KHALED Tribe became fully aware of that Jewish cunning plan after they had verified his true identity, and decided to put an end to him. They attacked his town and conquered it, but before arresting him he had escaped by the skin of his teeth.

That Jewish Ancestor of the SAUDI FAMILY, (MORDAKHAI), sought shelter in a farm called at that time AL-MALIBEED-GHUSAIBA near AL-ARID, which is called at our present time : AL-RIYADH.

He requested the owner of that farm to grant him an asylum. The farmer was so hospitable that he immediately gave him sanctuary. But that Jew (MORDAKHAI), no longer than a month had he stayed there, when he assassinated the land lord and all members of his family, pretending that all were killed by an invading band of thieves. Then he pretended that he had bought that real estate from them before that catastrophe happened to them! Accordingly, he had the right to reside there as a land lord. He then gave a new name to that place: He named it AL-DIRIYA - the same name as that he had lost.

That Jewish Ancestor of the SAUDI FAMILY (MORDAKHAI), was quick to establish a "GUEST HOUSE" called "MADAFFA" on the land he usurped from his victims, and gathered around him a group of hypocrites who started to spread out false propaganda for him that he was a prominent Arab Sheikh. He plotted against Sheikh SALEH SALMAN ABDULLA AL TAMIMI, his original enemy, and caused his assassination in the mosque of the town called (AL-ZALAFI).

After that, he felt satisfied and safe to make (AL-DIRIYA) his permanent home. There he practiced polygamy at a wide scale, and indeed, he begot a lot of children whom he gave pure Arab names.

Eversince his descendants grew up in number and power under the name of SAUDI CLAN, they have followed his steps in practicing under ground activities and conspiracies against the Arab Nation. They illegally seized rural sectors and farm lands, and assassinated every person who tried to oppose their evil plans. They used all kinds of deceit for reaching their goals: they bought the conscience of their dissidents; they offered their women and money to influential people in that area, particularly to those who started to write the true biography of that Jewish Family; they bribed writers of history in order to purify their ignominious history, and make their lineage related to the most prominent Arab Tribes such as RABI'A, ANZA and ALMASALEEKH.

A conspicuous hypocrite in our era whose name is MOHAMMAD AMIN AL TAMIMI- Director/Manager of the contemporary Libraries of the SAUDI KINGDOM, made up a genealogical tree (FAMILY TREE) for this JEWISH FAMILY (THE SAUDIS), connecting them to our Great Prophet, MOHAMMAD (P.B.U.H) For his false work, he received a reward of 35 (THIRTY FIVE) THOUSAND EYPTIAN POUNDS from the then SAUDI AMBASSADOR TO CAIRO, EGYPT, in the year 1362 AH.- 1943 A.D. The name of that Ambassador is : IBRAHIM AL-FADEL.

As aforementioned, the Jewish Ancestor of the SAUDI FAMILY, (MORDAKHAI), practiced polygamy by marrying a lot of Arab women and begot many children; his polygamous practice is, at the present time, being carried out " to the letter" by his descendants; they cling to his marital heritage!

One of MORDAKHAI'S sons called AL-MAQARAN, arabized from the Jewish root (MACK-REN) begot a son called Mohammad, then another son called SAUD, which is the name of the present day SAUDI DYNASTY.

Descendants of SAUD (the present day SAUDI FAMILY )started a campaign of assassination of the prominent leaders of the Arab Tribes under the pretence that those leaders were apostates; renegading from the Islamic Religion, and deserting their Koranic doctrines; so they deserved the SAUDI condemnation and slaughter!

In the History Book of the SAUDI FAMILY pages (98-101), their private family historian declares that the SAUDI DYNASTY considers all the people of NAJD blasphemous; so their blood must be shed, their properties confiscated, and their females be taken as concubines; no muslem is authentic in his /her belief unless he/she belongs (affiliates) to the sect of MOHAMMAD BIN ABDUL WAHAB, (whose origins are also Jewish from TURKEY.) His doctrines give authority to the SAUDI FAMILY to destroy the villages with all their inhabitants-males including children, and to sexually assault their women; stab the bellies of the pregnant, and cut off the hands of their children, then burn them! They are further authorized by such a BRUTAL DOCTRINE to plunder all the properties of whom they call renegades (not following their Wahabi Sect).Their hideous Jewish Family has, in fact, done all that kind of atrocities in the name of their false religious sect (the Wahabi), which has actually been invented by a Jew so as to sow the seeds of terror in the hearts of people in towns and villages. This Jewish Dynasty has been committing such brutal atrocities eversince 1163 A.H. They have named the whole Arabian Peninsula after their family name (SAUDI ARABIA) as if the whole region is their own personal real estate, and that all other inhabitants are their mere servants or slaves, toiling day and night for the pleasure of their masters (THE SAUDI FAMILY).

They are completely holding the natural wealth of the country as their own property. If any poor person from the common people raises his/her voice complaining against any of the despotic rules of this Jewish Dynasty, (the Dynasty) cuts off his/her head in the public square. A princess of theirs once visited FLORIDA, USA, with her retinue; she rented 90 (NINETY) Suite rooms in a Grand Hotel for about One Million Dollars a night! Can anyone of their subjects comment about that extravagant event If he/she does, his/her fate is quite known: DEATH WITH THE EDGE OF THE SAUDI SWORD IN THE PUBLIC SQUARE!!!!!!

Witnesses on the Jewish Ancestry of this Saudi Family:

In the 1960's the "SAWT AL ARAB" Broadcasting Station in Cairo, Egypt, and the YEMEN Broadcasting Station in SANA'A confirmed the Jewish Ancestry of the SAUDI Family.

King FAISAL AL-SAUD at that time could not deny his family's kindred with the JEWS when he declared to the WASHINGTON POST on Sept. 17, 1969 stating: "WE, THE SAUDI FAMILY, are cousins of the Jews: we entirely disagree with any Arab or Muslem Authority which shows any antagonism to the Jews; but we must live together with them in peace. Our country (ARABIA) is the Fountain head from where the first Jew sprang, and his descendants spread out all over the world." That was the declaration of KING FAISAL AL-SAUD BIN ABDUL AZIZ!!!!!

HAFEZ WAHBI, The SAUDI Legal Adviser, mentioned in his book entitled: "THE PENINSULA OF ARABIA" that KING ABDUL AZIZ AL-SAUD, who died in 1953, had said : "Our Message (SAUDI MESSAGE) encountered the opposition of all Arab Tribes; my grandfather, SAUD AWAL, once imprisoned a number of the Sheikhs of MATHEER Tribe; and when another group of the same tribe came to intercede for the release of the prisoners, SAUD AWAL gave orders to his men to cut off the heads of all the prisoners, then, he wanted to humiliate and derogate the interceders by inviting them to eat from a banquet he prepared from the cooked flesh of his victims whose cut off heads he placed on the top of the food platters!! The interceders became so alarmed and declined to eat the flesh of their relatives; and, because of their refusal to eat, he ordered his men to cut off their heads too. That hideous crime was committed by that self imposed king to innocent people whose guilt was their opposition to his most cruel and extremely despotic rules.

HAFEZ WAHBI, states further that King ABDUL AZIZ AL-SAUD related that bloody true story to the Sheikhs of the MATHEER Tribe, who visited him in order to intercede for their prominent leader at that time, FAISAL AL DARWEESH, who was the king's prisoner. He related that story to them in order to prevent them from interceding for the release of their Sheikh; otherwise, they would face the same fate; He killed the Sheikh and used his blood as an ablution liquid for him just before he stood up for his prayer (after the false sect doctrine of the Wahabi); The guilt of FAISAL DARWEESH at that time was that he had criticized King ABDUL AZIZ AL-SAUD when the king signed the document which the English Authorities prepared in 1922 as a declaration for giving PALESTINE to the Jews; his signature was obtained in the conference held at AL AQEER in 1922.

That was and still is the system of this Regime of the JEWISH FAMILY (SAUDI FAMILY): All its goals are : plundering the wealth of the country, robbing, falsifying, and committing all kinds of atrocity, iniquity, and blasphemy-all are executed in compliance with their self invented Wahabi Sect which legalizes the chopping of the heads of their opposing subjects.

http://www.fortunecity.com/boozers/bridge/632/history.html

Wednesday, July 22, 2009

Maryam Al-Muqadhash

Monday, July 13, 2009

Penebar Islam Liberal = Domba Kaum Zionis

Penebar Islam Liberal = Domba Kaum Zionis


Peran yang dimainkan oleh orang-orang liberal, para pemimpi utopis
itu, pada akhirnya akan dimainkan ketika pemerintah kita mereka akui.
Sampai saat itu, mereka akan tetap melayani kita dengan baik.


Oleh karena itu, kita akan terus mengarahkan pemikiran-pemikiran
mereka kepada segala macam konsepsi dengan teori-teori fantastis,
baru, dan nampak progresif: yang akan sia-sia, karena kita tidak akan
mengisi kepala-kepala kosong para goyim (istilah Ibrani bagi orang
non-Yahudi atau gentile menurut istilah Latin) itu dengan kemajuan
ataupun dengan keberhasilan yang sempuma; hingga tidak satu pun dari
otak para goyim itu yang mampu memahami, bahwa di dalam kata liberal
ini tersembunyi pengertian tentang keberangkatan untuk meninggalkan
segala aspek kebenaran, karena hal itu bukanlah masalah tentang
penemuan-penemuan materi, dan karena kebenaran itu hanya satu, yang di
dalamnya sudah tidak ada lagi tempat bagi kemajuan (progress).
Kemajuan itu bagaikan sebuah gagasan yang keliru, bekerja untuk
menutupi kebenaran, sehingga tak seorang pun dapat mengetahui tentang
kebenaran itu, kecuali kita, Manusia Pilihan Tuhan, yaitu
wali-wali-Nya.” (Kutipan Protokol Ke-13 dari Protocols of the
Learned Elders of Zion).

Pencipta Isme-Isme

Bila Anda pernah membaca Protocols of the Learned Elders of Zion
(Protokol Panatua Panutan Kaum Zionis), yang lazim juga disebut
Protocols of Zion, maka dengan gamblang kita akan memahami bahwa para
Panatua Panutan Zionis di abad ke-18 â€"yang mereka sebut Abad
Pencerahan (Enlightment Era), yang hampir secara bersamaan lahir
gagasan-gagasan tentang nasionalisme sebagai antithesis terhadap
feodalisme dan sosialisme sebagai antithesis terhadap kapitalisme
serta sekularisme sebagai antithesis theokratismeâ€" adalah pencipta
isme-isme dunia yang saling bertentangan itu. Jadi, semua isme dunia
yang pernah kita kenal â€"yang sebagian di antaranya sempat dianut
oleh berbagai golongan atau partai politik di Indonesiaâ€" pada
hakikatnya lahir dari Satu Ibu Kandung yang sama.

Lalu, mengapa mereka harus menciptakan dan mempromosikan isme-isme
yang saling bertabrakan itu?

Untuk mencoba mengerti hal itu, kita harus mampu memahami sistem,
struktur, dan budaya yang mereka anut. Sistem yang mereka anut disebut
Fertile Crescent System, struktur yang mereka gunakan disebut The
Golden Triangle Structure dan budaya yang mereka pakai adalah Conflict
Culture. Artinya, konflik merupakan budaya yang terkandung di dalam
sistem dan struktur yang mereka anut dan gunakan. Tanpa konflik,
struktur yang mereka gunakan akan runtuh dan secara serta-merta sistem
yang mereka anut pun akan hancur (catastrophic level). Oleh karena
selama puluhan abad sistem peradaban yang kita anut mengacu pada
Fertile Crescent System â€" yang konon didesain oleh Raja Babylonia,
Nimrod atau Namrud, 4 millennium yang laluâ€" maka dengan sendirinya
dunia kita selama puluhan pula tak pernah damai, alias selalu
terjerumus dari satu peperangan ke peperangan yang lain. Di Eropa,
Fertile Crescent System dikenal dengan Labyrinth/Knossos dan di China
disebut San Kuo.

Kebenaran Mutlak

Kalau kita berbicara tentang kebenaran, maka tentu saja hanya ada satu
kebenaran, yaitu Kebenaran dengan K besar (uppercase) yang artinya
Kebenaran Mutlak. Tentu saja Kebenaran dengan K besar hanya milik Yang
Satu pula, yaitu Sang Maha Pencipta.
Sebaliknya, bila kita berbicara tentang ‘kebenaran’ dengan ‘k’
kecil (lowercase), kita akan menemukan banyak ‘kebenaran’. Nah, di
sinilah para pemikir, penabur, penganjur, dan penganut Islam Liberal
bermain. Bermain-main dengan ‘kebenaran’ (‘k’ kecil), tetapi
mencoba menghujat Kebenaran (K besar). Tentu saja hal itu bukan
maqom-nya. Artinya tidak sepadan.

Kalau ada cendekiawan yang melayani perdebatan dengan penganut Islam
Liberal, sama dengan mereka bermain gaple, permainan akal-akalan.

Bagaimana tidak? Seorang pemain gaple yang pada gebrakan awal
mengeluarkan kartu balak empat, berharap lawan-lawannya berfikir bahwa
dialah memegang banyak kartu gacoan empat. Ketika lawan-lawannya
menutup kedua pintu empat itu, ia senang sekali, karena pada
kenyataannya kartu gacoan empatnya cuma satu itu. Tentu saja yang
‘main’ adalah kartu lain yang bukan gacoan empat. Lawan-lawannya
kecele, karena kartu empat yang ada di tangan mereka justeru tak
pernah bisa keluar lagi, karena tak diberi kesempatan untuk muncul.

Begitu pula dengan para penganut Islam Liberal, mereka menafikan hukum
wajib menutup aurat dengan pernyataan bahwa pakaian yang tertutup
merupakan budaya Bangsa Arab. Jadi, hukum menutup aurat bukan
Kebenaran, sehingga perintah tersebut boleh-boleh saja tidak diikuti.
Apalagi sekarang ini, wanita-wanita telanjang atau setengah telanjang
atau mempertontonkan pusarnya bertebaran di mana-mana. Dan, hal itu
telah ‘diterima’ zaman, karena tidak ada yang protes dan banyak
pula diikuti oleh kaum wanita dari perkotaan hingga ke pedesaan.
Konsekuensinya, agar Islam dan al-Qur̢۪an tetap eksis, maka Islam dan
al-Qur̢۪an harus mengintil-ngintil di belakang zaman. Inilah
pemahaman mengenai ‘kebenaran’ penganut Islam Liberal, yang
sesungguhnya bukanlah Kebenaran.
Bagi mereka yang cukup mengerti tentang hukum-hukum Islam, tentu saja
akan mampu membaca ‘permainan gaple’ tersebut. Para penganut Islam
Liberal menafikan Kebenaran Mutlak. Kata mereka, “Tidak ada itu
Kebenaran Mutlak, yang ada adalah kebenaran relatif.”

Tetapi, entah karena licik atau idiot, mereka memberikan postulat
(dalil) bahwa zaman ini pasti menuju kepada Kebenaran Mutlak,
karenanya Islam maupun al-Qur’an harus ‘mengikuti’
(mengintil-ngintil) zaman. Terbuktilah bahwa perdebatan tentang ini
hanya ‘akal-akalan’.
Sama persis dengan ‘akal-akalan’-nya para Panatua Panutan Kaum
Zionis, yang menciptakan ide liberal sebagaimana yang dikutip dari
Protocols of Zion di awal tulisan ini. Mereka mengatakan, bahwa untuk
mencapai Kebenaran Mutlak harus melalui proses liberalisasi. Padahal
mereka mengetahui dengan pasti, bahwa di dalam kata liberal itu
terkandung pengertian tentang keberangkatan untuk meninggalkan
Kebenaran yang Satu.
Kemudian, mari kita tengok postulat mereka yang lain, yakni Umat Islam
dilarang memandang dirinya sebagai masyarakat yang terpisah dari
golongan yang lain. Kata ‘terpisah’ dalam hal ini dibuat tidak
jelas. Para penganjur Islam Liberal menganggap wanita muslim yang
mengenakan pakaian tertutup (menutup aurat) sebagai ‘memisahkan
diri̢۪ dari golongan yang lain, sementara yang mempertontonkan paha,
pusar, dan sebagian payudaranya, tidak dianggap ‘memisahkan diri’
dari golongan yang lain; dan bahkan golongan kedua ini tidak
dipermasalahkan, kalau tidak bisa dikatakan ‘didukung’.

Sebagai konsekuensi tidak memisahkan diri dari golongan yang lain,
Umat Islam harus menjadi bagian dari keluarga universal yang
berlandaskan humanisme, demikian pandangan para penganut Islam
Liberal. Humanisme adalah landasan ideal kaum Yahudi-Illuminati
(periksa Piramida Illuminati Bertingkat 13), sama dengan al-Qur̢۪an
yang merupakan landasan ideal bagi Ummat Islam dari dulu hingga
sekarang dan nanti. Jadi, Ummat Islam diminta meninggalkan al-Qur̢۪an
dan menggantinya dengan humanisme, agar bisa menjadi anggota keluarga
universal. Dengan demikian, secara induktif dapat disimpulkan, bahwa
Islam Liberal sama dengan Yahudi-Illuminati. Setidak-tidaknya,
penganut Islam Liberal adalah para goyim yang digembalakan oleh Kaum
Yahudi-Illuminati, atau Domba-domba Kaum Zionis. Betul, nggak ?



----------
Sumber: Indonesia NEWSNET, Juni 2005

HAKIKAT DAJJAL (Dari Darwinisme Hingga Huru Hara Akhir Zaman)

Teman-teman, kita adalah manusia yang ditakdirkan Allah hidup di zaman penghabisan, yaitu zaman dimana dunia hampir saja tutup usia. Zaman dimana Allah dan Rosul-Nya berkali-kali menubuwwatkannya dalam Al Qur`an dan Hadist-hadistnya, dan salah satu tanda akan datangnya hari akhir tersebut adalah munculnya setan besar bernama Dajjal. Tidak ada fitnah yang lebih besar, selain fitnah yang ditimbulkan oleh Dajjal.

Sebagai generasi penerus peradaban Islam, kita mesti tahu dan menyadari dimana posisi kita sebagai mahluk akhir zaman. Apakah kita termasuk orang-orang yang istiqomah ditengah kesesatan yang dahsyat ini dan tetap bergabung dalam pasukan Muhammad, atau menjelma menjadi manusia yang memenuhi kepentingan Dajjal dan antek-anteknya? Karena dengan menyadari posisi ini, kita bisa mengetahui tugas apa yang mesti kita kerjakan.

Panglima besar kita Muhammad SAW bersabda dalam hadistnya bahwa di akhir zaman nanti, kekuatan jahat akan muncul, yang ciri utama kekuatan itu adalah mengacaukan perdamaian, menimbulkan peperangan, dan merusak ketertiban dikalangan umat manusia. Hadist Rosul yang lain mengatakan “tidak akan ada ciptaan (yang menciptakan masalah) melebihi Dajjal, dari penciptaan Adam hingga hari akhir…(shahih Muslim). Dajjal akan muncul ketika masyarakat sudah tidak mampu lagi hidup dengan akhlak yang dituntunkan agama, mengingkari keberadaan Allah secara terang-terangan, merebaknya kebejatan moral, isme-isme sesat, kekacauan, peperangan, bangkitnya penguasa zhalim dan diktator (mulkan jabariyyan), timbulnya kebingungan dan keruwetan yang begitu dahsyat dalam masyarakat. Sehingga banyak manusia yang linglung dan kehilangan pegangan, dikarenakan banyaknya pertentangan pemikiran, sehingga kebenaran menjadi rancu. Dahsyatnya keadaan itu sampai-sampai munculnya sebuah perumpamaan bahwa manusia dizaman itu yang tetap berusaha istiqomah pada diennya, ibarat menggenggam bara api yang sangat panas yang tentu sangat sulit mempertahankannya. Keinginan untuk ‘melepaskannya’ selalu datang mengganggu jiwanya.

Apakah Dajjal itu…?

Dilihat dari asal katanya, bahasa Arab. Dajjal memiliki beragam arti, diantaranya “pembohong dan penyamar”, seseorang yang berbohong, memenuhi dunia dengan pengikut-pengikutnya, dan menyelubungi kebenaran dengan keingkaran (lisanul `Arab). Dalam beberapa hadist rosul lainnya menyebutkan ciri-ciri dajjal, seperti bermata satu, ada tulisan ka far o dijidatnya alias kafir, rambutnya keriting, bentuk badannya jelek, buruk, pokoknya sesosok mahluk yang nggak sedap dipandang mata lah. Dari gambaran hadist-hadist tersebut kita mungkin beranggapan bahwa Dajjal adalah sesosok manusia, akan tetapi selain sebagai sosok manusia secara zahir, Dajjal juga dapat diartikan sebagai sebuah ideology atau paham sesat yang cenderung dengan kekerasan, kekacauan, dan tipu muslihat. Kita bisa menyebutnya dengan istilah “System Dajjal” yang tujuan utamanya adalah menimbulkan huru hara besar, kekacauan, mendorong manusia mengingkari keberadaan Allah, merusak system Islam yang sudah baku, dan kemudian mengganti sepenuhnya dengan system tersebut yakni system perwujudan Dajjal.

Kehadiran Dajjal memiliki tujuan yang sangat besar untuk merekrut manusia agar mau menjadi pengikutnya, untuk kemudian akan bersama-sama masuk ke dalam neraka Jahannam. Ia menyediakan “syurga” dan “neraka” sendiri. Seperti yang digambarkan dalam hadist nabi dibawah ini : “Ketika Dajjal muncul, dia akan membawa api & air bersamanya. Apa yang disebut manusia air yang dingin, sesungguhnya adalah api yang membakar. Jadi barangsiapa diantara kamu menemuinya, dia harus memilih yang tampak olehnya sebagai api, karena sesungguhnya, itu adalah air yang segar dan dingin…(shahih Bukhari)

Itulah salahsatu gambaran tipu muslihat Dajjal. Kita jangan sampai lupa kalau Dajjal itu adalah duta besar Iblis alaihi laknatullah. Musuh abadi kita dari awal kehidupan. Bukankah kinerja Iblis dan setan adalah menjadikan manusia memandang baik perbuatan buruk, dan memandang buruk perbuatan baik? “Air dan api” dajjal dalam hadist tersebut, bisa saja merupakan sebuah perumpamaan untuk pemutarbalikan nilai kebaikan dan keburukan tsb. Allahu a`lam.

Sedikit flash back...”.

Sebelum kita melanjutkan pembahasan ini, kita sebaiknya mengingat kembali tentang perseteruan abadi antara Iblis dan manusia hingga akhir zaman, bermula dari keengganan Iblis ketika disuruh bersujud pada nabi Adam, karena Iblis merasa lebih unggul dari Adam yang hanya diciptakan dari tanah. Murkalah Allah kepada mereka, lalu Allah mengusir dan melaknat bani Iblis dari syurga, Iblis pun menyetujui perintah Allah, namun sebelumnya ia minta diberi tenggang waktu sampai hari akhir agar dapat mengganggu dan menyesatkan anak Adam sebanyak-banyaknya, Allah pun mengabulkan permintaan Iblis. Konspirasi Iblis pertama terjadi di surga, Adam dan Hawa tergoda untuk memakan buah yang menimbulkan penyesalan dihati mereka, atas kehendak Allah, mereka diperintahkan untuk turun ke bumi. Sebelum turun ke bumi, Allah berpesan kepada mereka. “Turunlah kalian semuanya dari syurga, kemudian jika datang petunjuk dariKu (melalui Rosul & kitab-kitab yang diturunkan pada mereka) maka barangsiapa yang mengikuti petunjukku niscaya tidak ada kebimbangan terhadap mereka dan tidak pula bersedih hati…”. Dari sini sudah jelas, bahwa diantara kita dan memang setan memiliki perseteruan abadi hingga akhir zaman. Iblis dan antek-anteknya akan senantiasa berusaha mengajak manusia pada kesesatan, dan mencabut manusia dari akar tauhid.

Dari cerita diatas kita juga bisa melihat perbedaan antara Adam dan Iblis. Adam tidaklah diusir dari syurga ke bumi, akan tetapi diperintahkan Allah turun ke bumi untuk menjadi khalifah pemakmur bumi, karena Adam ketika ia berbuat khilaf (memakan buah khuldi), dia langsung menyadari perbuatannya dan bertobat kepada Allah dengan penyesalan yang sangat mendalam, sedangkan Iblis, ia diusir Allah dari syurga dengan kemurkaan-Nya, karena ketika ia diperintahkan bersujud pada Adam, ia menolaknya dengan sangat sombong, bahkan ketika Allah mengulangi perintahnya, Iblis tetap bertahan pada pendiriannya. Boro-boro mau bertobat, merasa bersalah saja tidak. Dari sini kita bisa mengambil sebuah pelajaran bahwa KERAS KEPALA & SOMBONG adalah PANGKAL/INDUK SEGALA DOSA yang tidak diampuni Allah, kecuali jika ia mau bertobat dan mengakui kesalahannya. Dosa yang berpangkal dari nafsu memiliki harapan ampunan yang lebih besar. Sedang dosa yang berpangkal dari kesombongan akan sulit mendapatkan ampunan Allah selama ia tetap keras kepala.

Dajjal dan Hubungannya Dengan Darwinisme...”

Selama kehidupan masih digelar, pertentangan antara kebaikan dan keburukan akan terus terjadi. Sebagaimana tujuan para nabi diutus adalah untuk menegakan kalimat tauhid, maka sebaliknya, agenda utama Iblis didunia ini adalah mengajak manusia agar berpaling dari tauhid.

Kemunculan Dajjal adalah salah satu rencana dan skenario Iblis (dengan kehendak-Nya). Iblis yang menggenggam erat dendam abadinya, terus berupaya mencari cara agar manusia tercebur dalam lubang kekufuran.

Saat ini, paham materialis (paham kebendaan) menguasai iklim kehidupan dunia, sebenarnya apa akar dari paham tersebut? Mari kita telusuri. Materialisme mengajarkan pada manusia tentang kesegala-galaan materi dalam hidup ini. semua berasal dari materi dan akan kembali pada materi. Itulah pengertian sederhananya. Hal ini selaras dengan Darwinisme, Pencetus teori ini adalah Charles Darwin, pada tahun 1859, dia mengarang sebuah buku berjudul “The Origin Spesies” asal usul manusia. Ia mengatakan bahwa semua spesies mahluk hidup berasal dari sel tunggal 3,8 milyar tahun yang lalu yang muncul secara kebetulan, dan berevolusi (berubah) menjadi bermacam-macam spesies baru yang memenuhi alam ini... (sekilas info : kakeknya Charles Darwin, Erasmus Darwin adalah salah seorang Grand Master Freemason). Meskipun teori ini telah terbantah oleh penemuan-penemuan baru setelahnya, karena tidak memiliki dasar ilmiah, akan tetapi masih ada sekelompok orang yang masih mempertahankannya sampai saat ini , meskipun mereka mengetahui kecacatan teori ini, karena mereka masih memiliki kepentingan dengan teori ini, karena titik tolak Darwinisime adalah pengingkaran menyeluruh terhadap sang pencipta.

Jika kita cermati teori ini, kita akan memahami tujuan sesungguhnya paham ini adalah ingin membuat manusia lupa darimana mereka berasal dan akan kembali kemana? Dalam Islam sudah jelas bahwa manusia adalah ciptaan Allah, berasal dari satu Bapak, yakni Adam dan akan kembali pada Allah (membawa serta tanggung jawab perbuatannya di dunia). Sedangkan orang yang telah terdoktrin dengan pemikiran ini akan beranggapan bahwa dia berasal dari alam (materi) dan akan kembali ke alam pula. Jadi Tuhan sang pencipta tidak memiliki posisi dalam kehidupannya, otomatis orang yang berpikir seperti ini akan menjadi sesosok manusia yang tidak peduli dengan amal perbuatannya, ia akan melakukan segala hal yang disukainya, tidak peduli dengan akibat yang timbul, karena ia tidak merasa akan bertanggung jawab pada siapapun. Inilah sebenarnya akibat yang paling berbahaya dari paham materialisme. Materialisme dengan teori evolusinya tidak hanya menjadikan manusia sebagai Atheis (anti Tuhan) akan tetapi dari paham evolusi ini, lahirlah isme-isme sesat lainnya seperti komunisme, fasisme, dan rasisme. Isme-isme sesat ini lah yang menjadi penyebab kehancuran, kekerasan, peperangan, dan kekacauan sistem kehidupan manusia abad ini. Mari kita lihat hubungan isme-ime ini.



A. Darwinisme

1. Titik tolak Darwinisme adalah pengingkaran menyeluruh terhadap sang pencipta. Tujuan utamanya adalah pembentukan mayarakat yang benar-benar terlepas dari agama. Akibatnya, Darwinisme telah menjadi agama yang bertuhankan kesempatan dan kebetulan



2. Darwinisme berpandangan bahwa ada perjuangan untuk bertahan hidup di alam ini. (ingatlah seleksi alam-nya darwinisme, hanya yang kuat lah yang dapat bertahan) Sehingga kekejaman pun berlaku. Menurut pernyataan ini, perjuangan tanpa kenal kasihan yang terjadi diantara mahluk hidup lainnya juga berlaku pada manusia. Dalam lingkungan tempat seseorang melihat orang lainnya sebagai musuhnya, perasaan yang paling sering muncul adalah kemarahan, kerserakahan, dan kebencian.



3. Jika hanya yang kuat saja yang dapat bertahan hidup, kekacauan dan peperangan akan sangat mudah terjadi. Sebab, masing-masing pribadi memiliki kepentingan sendiri untuk mempertahankan eksistensinya, sehingga sifat egois manusialah yang menonjol. Tenggang rasa, saling menghormati, dan toleransi sangat sulit diterapkan dalam kehidupan bermasyarakat, ujung-ujungnya yang ada hanyalah bahasa PEPERANGAN



4. Darwinisme adalah kebohongan dan tipu daya ilmiah terbesar abad ini, semua pernyataannya telah disangkal ilmu pengetahuan modern, akan tetapi racun-racun yang ditinggalkan masih kita rasakan hingga saat ini, dan telah memiliki bentuk lain bernama komunisme, rasisme, fasisme, dll. Ingat, salah satu arti dari Dajjal adalah KEBOHONGAN BESAR.



B. KOMUNISME

1. Komunisme menggambarkan agama sebagai candu bagi masyarakat. Titik perjuangan paham ini adalah menentang semua kepercayaan dan keberadaan Tuhan (Atheisme), sedang Atheisme bermuara dari paham materialis yang dimotori oleh Darwinisme.



2. Komunisme menyatakan bahwa kemajuan hanya bisa terjadi dengan cara pertentangan. Tidak mungkin ada kemajuan tanpa pertumpahan darah (ini Lenin yang bilang)



3. Pemberontakan senjata dan revolusi merupakan unsur penting dari komunisme



4. Komunisme bertekad melawan setiap penentangan dan perbedaan. Perbedaan berarti hanya satu hal: pertentangan. Hanya boleh ada satu jenis untuk segala hal didalam pemerintahan komunis, termasuk manusia. (artinya manusia yang boleh hidup hanyalah manusia yang memiliki keyakinan komunis)



5. Dalam pelaksanaannya, komunisme menjadi petunjuk yang jelas tentang betapa menipunya pemikiran seperti persamaan, keadilan sosial, dan kebebasan. Inilah ideologi Dajjal abad ini. Sistem yang penuh dengan kepalsuan yang terbungkus dengan kata-kata indah



C. FASISME & RASISME

1. Fasisme dan semua cara yang ditempuhnya, bertentangan langsung dengan akhlak agama. Salah satu sifat yang membedakan fasisme adalah kecendrungannya untuk membunuh orang yang tidak bersalah atas sesuatu yang dinamakan ”nilai-nilai suci” dan menganggap pembantaian sebagai kebajikan. Itulah sebabnya, perang merupakan bagian yang tak bisa dipisahkan dari fasisme.



2. kemarahan dan kebencian yang ditujukan kepa ras yang berbeda merupakan salah satu unsur mendasar dari fasisme, dan ini berhubungan dengan ideologi rasisme. Kecendrungan rasis ini telah mengilhami banyak peperangan, pertentangan, kematian, dan PEMBERSIHAN ETNIS. Keyakinan atas keunggulan ras ini (terutama ras kulit putih) diilhami dari Darwinisme pula, Darwin mengemukakan bahwa ras tertentu, ras Eropa contohnya, telah berkembang melebihi ras lainnya selama proses evolusi. Yang lainnya tidak beranjak jauh dari moyang primitif manusia yaitu KERA. Nauzubillah...akhirnya karena mereka merasa lebih unggul, mereka dengan seenaknya membantai manusia dari ras lainnya, mereka menganggap bahwa ras diluar ras kulit putih (berarti termasuk ras kita, melayu) adalah ras yang terbelakang, bodoh, tidak berguna, jelek, dan cuma menyempit-nyempitkan bumi saja, menghabiskan persediaan makanan, oleh karena itu mereka berangapan, sebaiknya ras lain dimusnahkan saja daripada mengancam keberadaan ras kulit putih, nauzubillah. Dan sebagai perwujudan dari renana itu adalah diciptakanlah peperangan dan pembantaian ras lain.



Semua isme-isme sesat ini pada hakikatnya bermuara dari satu hal yaitu kesombongan Iblis alaihi laknatullah. Iblis dilaknat Allah karena kesombongannya, merasa lebih unggul dari Adam karena Iblis diciptakan dari api, sedang Adam dari Thurab (tanah). (nggak beda dengan sekarang. Ras kulit putih merasa lebih ganteng, cantik, bagus, pintar, sehingga mereka menindas ras lainnya) dan Iblis adalah musuh kita hingga akhir zaman, dan pada zaman sekarang ini, Iblis dan pengikutnya dari golongan manusia semakin berkuasa mencengkram dunia dengan propaganda dan misi-misinya. Tampaknya semua yang diberitakan Rosulullah 15 abad yang lampau telah menjadi kenyataan satu persatu, dan aroma kedatangan akhir zaman mulai tercium oleh hidung-hidung kita.



Temen-temen, kita telah saksikan bersama, bahwa keadaan saat ini betul-betul sesuai dengan yang diprediksikan Rosulullah, jika memang Dajjal adalah sebuah Ideology (bukan hanya berbentuk sesosok mahluk) berarti Dajjal memang akan segera muncul, atau memang benar-benar sudah muncul di zaman ini???. Itu artinya KIAMAT MEMANG BENAR-BENAR SUDAH DEKAT!!!



Allahualam bisshowab

By : Aishawasholihat

Sunday, July 12, 2009

T h e U i g h u r s

The Uighurs

Toward the end of the 19th century and into the first decades of the 20th, scientific and archaeological expeditions to the region of Eastern Turkestan’s Silk Road discovered numerous cave temples, monastery ruins, wall paintings, as well as valuable miniatures, books and documents. Explorers from Europe, America and even Japan were amazed by the art treasures found there, and soon their reports were capturing attention of an interested public around the world. These relics of the Uighur culture constitute today major collections in the museums of Berlin, London, Paris, Tokyo, Leningrad (St-Petersburg) and the Museum of Central Asian Antiquities in New Delhi. The manuscripts and documents discovered in Eastern Turkestan reveal very high degree of civilization attained by the Uighurs.



Throughout the centuries the Uighurs used the following scripts.

1. Confederated with the Kok Turks in the 6th and 7th centuries, they used the Orkhon script, which was developed from the Sogdian alphabet.

2. In the 5th century they adopted Sogdian italic script which became known as the Uighur script. This script was used for almost 800 years not only by the Uighurs, but also by other Turkic peoples, the Mongols, and by the Manchus in the early stage of their rule in China.

3. After embracing Islam in the 10th century the Uighurs adopted the Arabic alphabet, and its use became common in the 11th century.

4. The Uighurs of the former Soviet Union use Cyrillic.

5. The Uighurs of Eastern Turkestan use the Arabic and Latin alphabets and the Uighurs of Turkey use the Latin alphabet.



Most of the early Uighur literary works were represented by translations of Buddhist and Manichean religious texts, but there were also narrative, poetic and epic works. Some of these were translated into German, English, Russian and Turkish.



After embracing Islam the Uighurs continued to preserve their cultural dominance in Central Asia. World-renowned Uighur scholars emerged, and Uighur literature flourished. Among hundreds of important works surviving from that era are "Qutatqu Bilik" by Yüsüp Has Hajip (1069-70), Mähmut Qäşqäri's "Divan-i Lugat-it Türk", and Ähmät Yüknäki's "Atabetul Hakayik".



The Uighurs had an extensive knowledge of medicine and medical practice. Chinese Sung Dynasty (906-960) sources indicate that a Uighur physician Nanto traveled to China and brought with him many kinds of medicine not known to the Chinese. There are 103 different herbs for use in the Uighur medicine recorded in a medical compendium by Li Shizhen (1518-1593), a Chinese medical authority. Tartar scholar, professor Rashid Rahmeti Arat in Zur Heilkunde der Uighuren (Medical Practices of the Uighurs) published in 1930 and 1932, in Berlin, discussed the Uighur medicine. Relying on a sketch of a man with an explanation of acupuncture, he and some Western scholars suspect that acupuncture was not a Chinese, but a Uighur discovery.



The Uighurs were also advanced in fields such as architecture, art, music and printing. Western scholars who have studied Uighur history, culture and civilization have often expressed a high regard for the cultural level of the Uighurs. For instance, according to Ferdinand Sassure, "Those who preserved the language and written culture in Central Asia were the Uighurs". Albert von Lecoq wrote, "The Uighur language and script contributed to the enrichment of civilizations of the other peoples in Central Asia. Compared to the Europeans of that time the Uighurs were far more advanced. Documents discovered in Eastern Turkestan prove that a Uighur farmer could write down a contract, using legal terminology. How many European farmers could have done that at that period? This shows the extent of Uighur civilization of that time". Prof. Dr. Laszlo Rasonyi wrote, "the Uighurs knew how to print books centuries before Gutenberg invented his press". In the judgment of Prof. Dr. Wolfram Eberhard, "in the Middle Ages, Chinese poetry, literature, theatre, music and painting were greatly influenced by the Uighurs".



Chinese envoys such as Hsuan Chang, Wang Yen De and Chang Chun who traveled through Eastern Turkestan within the seventh to the thirteenth centuries reported that they were impressed by the high degree of the Uighur power, prestige and culture they encountered there.



Wang Yen De, who served as an ambassador to the Qarakhoja Uighur Kingdom between the years 981 and 984, wrote in his memoirs: "I was impressed with the extensive civilization I found in the Uighur Kingdom. The beauty of the temples, monasteries, wall paintings, statues, towers, gardens, houses and the palaces built throughout the kingdom cannot be described. The Uighurs are very skilled in handicrafts of gold and silver, vases and potteries. Some say God has infused this talent into this people only".



This Uighur power, prestige, and culture dominated Central Asia for more than 1000 years went into a steep decline after the Manchu invasion in Eastern Turkestan in 1759, and under the rule of the Nationalist and especially the Communist Chinese.

Source: Eastern Turkestan Information, Volume 1, No.2, July 1991

Uighur Architecture


Xinjiang Berdarah, Ummat Digugah

Xinjiang Berdarah, Ummat Digugah
Oleh Prince of Jihad pada Sabtu 11 Juli 2009, 02:34 PM

Kaum Muslimin di Cina, tepatnya di daerah Xinjiang, China barat laut tewas mengenaskan dibantai oleh suku Han China. Jumlah korban kekejian ini diperkirakan mencapai 600 hingga 800 orang. Pimpinan Kongres Uighur (Muslim di China), Dunia, Asgar Can, menyatakan: “Orang yang bertanggung jawab atas serangan ini adalah Wang Leguan, Kepala Partai Komunis Xinjiang, dan juga kebijakan pemerintah,” katanya. Seperti apa kekejaman pemerintah Komunis China ini memperlakukan minoritas kaum Muslimin di China ? Bantuan apa yang harus diberikan oleh kaum Muslimin saat ini ? Berikut kami postingkan kembali artikel tentang Muslim di China!

Apabila mereka (umat Islam) meminta pertolongan kepadamu dalam urusan pembelaan (dikarenakan adanya invansi, dan sejenisnya) agama, maka kamu wajib memberikan pertolongan. “ (QS.8:72)

14 Abad yang lalu Islam datang ke tanah Cina, pada masa pemerintahan Kholifah Ustman ibn Affan (ra), beliau mengirimkan sebuah delegasi di bawah komando Sa’ad ibn Abi Waqqas (ra), paman Nabi (dari garis ibu) ke Cina. Jarak yang ditempuh sekitar 5000 mil mengemban tugas untuk menyebarkan pesan tauhid (agama Islam) ke daerah kekuasaan Cina dan masyarakat cina yang pada waktu itu menganut kepercayaan paganisme. Utusan tersebut berlayar menuju Cina melalui lautan India dan laut Cina sampai di daerah Portugal dari Guangzhou, mereka kemudian berjalan melewati Chang’an (saat ini dikenal dengan Xi’an), perjalanan mereka dikemudian hari dikenal dengan nama Jalur Sutra.

Negara-negara yang terlewati dengan jalur tersebut didakwahi dengan Islam, sehingga orang-orang Muslim tersebar ke setiap bagian Cina, akan tetapi kebanyakan dari mereka bertempat tinggal di Cina bagian barat. Jumlah tertinggi dari ummat Muslim baru-baru ini dapat ditemukan di Xinjiang, Gansu, Ningxia, Yunan dan propinsi Henan. Saat ini jumlah ummat Muslim yang hidup di Cina sekitar 150 juta orang, dengan jumlah masjid lebih dari 30 ribu masjid.

Hari ini, dengan sengaja dan sistematik rezim Cina menyembunyikan keadaan buruk ummat Muslim yang pada kenyataannya berada dalam kondisi disiksa, dianiaya, dan didzolimi. Secara historis rezim buatan manusia ini (Republik Rakyat Cina) secara dahsyat telah memiliki sistem jahat yang tersistematis untuk membersihkan negaranya dari orang-orang Muslim. Berikut rekam sejarah kekejaman rezim Cina kepada Muslim:

- Antara tahun 1949 dan 1965, di bawah rezim komunis Mao, ummat Muslim yang tinggal di Barat laut Cina sejumlah kurang lebih 26 juta Muslim dibunuh oleh tentara Cina atau mati kelaparan karena ulah dari rezim.

- Tahun 1964, peraturan Cina menggunakan orang-orang Muslim di propinsi Xiang untuk percobaan nuklir sebagai akibatnya, orang-orang di daerah tersebut ditemukan meninggal karena penyakit dan lebih dari 20.000 anak-anak dilahirkan cacat. 210.000 orang-orang Muslim kehilangan hidup mereka sebagai akibat dari percobaan nuklir tersebut dan ribuan lainnya mengidap kanker atau lumpuh.

- Sejak tahun 1966, 10.000 orang Muslim ditahan, ditawan di camp-camp selama berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun mendekam sebagai tahanan di penjara Cina, disiksa dengan kejam hanya kerena mereka ingin hidup dengan hukum agama mereka yaitu Islam.

- Antara tahun 1995-1997 lebih dari 500.000 orang muslim ditahan tanpa alasan oleh penguasa Cina. Selama periode yang sama lebih dari 5.000 orang meninggal akibat dari siksaan oleh rezim Cina atau dinyatakan hilang. 119 pemuda Muslim dieksekusi secara terbuka dan 5000 muslim ditelanjangi dan diletakkan dihadapan publik untuk dipertontonkan kepada 50 grup/kelompok.

- Kebijakan rasisme dan pembunuhan masal terus berlangsung sampai abad ke 21:

o Wanita Muslim yang hamil tua, diambil dari rumah-rumah mereka dan dipaksa untuk disterilkan/dimandulkan dibawah kondisi yang tidak higienis (tidak bersih) dan anak-anak yang dilahirkan di luar kuota pemerintah dibunuh.

o Disekolah-sekolah pemerintah guru-guru wanita Muslim dilarang memakai kerudung dan guru laki-laki Muslim harus memotong jenggot mereka.

o Masjid-masjid dihancurkan secara bertahap.

o Murid-murid Muslim dengan sengaja disediakan makan siang selama bulan Ramadan sebagai bujukan untuk membatalkan puasa di siang hari.

o Penduduk Muslim diminta untuk tinggal di rumah-rumah mereka pada jam-jam sholat dan dilarang membawa Al-Qur’an pada waktu kerja.

o Siaran radio yang berisi ceramah-ceramah Islam di Masjd dilarang.

o Hampir setiap Masjid di Cina dipasang tanda peringatan larangan untuk sholat rutin berjamaah bagi mereka yang berumur kurang dari 18 tahun.

o Petani-petani Muslim menjual hasil panen mereka kepada agen-agen pemerintah di bawah harga standar karena mereka dilarang menjual ke pasar secara bebas, adapun penduduk Han (penduduk asli Cina) diperbolehkan berdagang tanpa campur tangan pemerintah.

Di bulan Agustus 2006, polisi masuk secara paksa ke rumah wanita Muslim Aminan Momixi ketika dia mengajar Al-Qur’an kepada 37 muridnya, dia ditahan dan murid-muridnya yang terdiri dari anak-anak yang berusia sangat muda sekitar 7 tahunan juga ikut ditahan. Beberapa anak tidak dibebaskan hingga orang tua mereka membayar denda yang berkisar 7000-10.000 yuan (renmibi), padahal gaji rata-rata setiap tahun untuk seorang Muslim berkisar antara 2400 yuan.

Pada minggu terakhir terjadi serangan yang mematikan di sebuah pos polisi disebabkan banyaknya problem atas pelayanan keamanan Cina khususnya berkaitan atas tindakan rezim terhadap Muslim minoritas. Kelompok Mujahidin (yang berada di Turkistan Timur) berada di belakang operasi tersebut melontarkan kasus-kasus Muslim agar menjadi pusat perhatian dunia dan berusaha mengungkap kejahatan rezim Cina, juga menuntut tegaknya negara Islam di Cina atau kekhilafahan di Cina.

Bukan hal yang mengherankan lagi jika seruan serupapun timbul untuk tegaknya sistem kekhilafahan secara internasional oleh ummat Muslim yang ada di Burma, Kasymir, Kazakhstan, Kyrgyztan, Mongolia, Nepal dan Tibet, semua negara tersebut berbatasan dengan Cina atau mereka dapat dikatakan bertetangga. Sistem kekhilafahan ini bukan isapan jempol belaka dari sebuah imajinasi atau hayalan akan tetapi sistem ini telah tegak selama 1302 tahun dimana orang-orang (Muslim maupun non muslim) hidup di bawah hukum-hukum Allah (SWT) dengan damai, keamanan mereka terjaga dan semua kebutuhan dasarnya tersedia dengan harga yang umum.

Seorang muslim di Cina mengatakan, “Jika kamu mengatakan atau bercerita sedikit tentang rezim Cina maka mereka akan memotong lenganmu dan jika kamu bercerita banyak maka mereka akan membunuhmu.”, Muslim yang lain mengatakan, “Jika kamu mengatakan kebenaran tentang mereka (rezim Cina) maka mereka akan memotong keluar lidah saya.” Semua penyiksaan ini yang terjadi di Cina atas orang-orang Muslim (laki-laki, wanita dan anak-anak) maka itu adalah tanggung jawab dan kewajiban orang-orang Muslim seluruhnya secara global untuk membantu satu sama lain dalam rangka membebaskan diri kita sendiri dari belenggu hukum dan kekuasaan manusia.

Rasulullah Salallahu Alaihi Wasalam bersabda:

‘Umat Muslim adalah satu ummat satu sama lain tanah mereka adalah satu, perang mereka adalah satu, perdamaian mereka adalah satu dan kebenaran mereka adalah satu.’ (HR. Muslim).

Jadi baik ummat Muslim yang hidup di Cina atau di manapun, kita berkewajiban untuk mendukung mereka sebab Allah (SWT) menyatakan kepada kita dalam Al-Qur’an al Karim :

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad dengan harta dan jiwanya pada jalan Allah dan orang-orang yang memberikan tempat kediaman dan pertoIongan (kepada orang-orang muhajirin), mereka itu satu sama lain lindung-melindungi. dan (terhadap) orang-orang yang beriman, tetapi belum berhijrah, Maka tidak ada kewajiban sedikitpun atasmu melindungi mereka, sebelum mereka berhijrah. (akan tetapi) jika mereka meminta pertolongan kepadamu dalam (urusan pembelaan) agama, Maka kamu wajib memberikan pertolongan kecuali terhadap kaum yang telah ada Perjanjian antara kamu dengan mereka. dan Allah Maha melihat apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al Anfaal: 72).

Source: Almuhajirun

Cina Larang Diadakannya Sholat Jumat di Masjid Urumqi

Cina Larang Diadakannya Sholat Jumat di Masjid Urumqi
Oleh Hanin Mazaya pada Jum'at 10 Juli 2009, 03:52 PM

URUMQI (Arrahmah.com) - Otoritas musyrik Cina memerintahkan beberapa masjid di daratannya, tepatnya di wilayah Urumqi, untuk tidak menggelar sholat jumat pada hari ini (10/7), mereka menutup masjid-masjid tersebut sehari penuh.

Salah seorang pejabat negara cina mengatakan bahwa tujuan menutup masjid tersebut adalah untuk menciptakan "keamanan", ia menambahkan "penduduk Muslim dapat berdiam diri di rumah mereka pada hari ini dan melaksanakan sholat di sana," ujarnya seperti yang dilansir AP.

Pejabat di Kashgar, kota lain di provinsi Xinjiang telah melarang turis asing mendatangi wilayah tersebut. Mereka telah memerintahkan turis asing dan para jurnalis untuk meninggalkan kota tersebut.

Unjuk rasa yang terjadi baru-baru ini dan berujung pada bentrokan yang menewaskan sedikitnya 156 orang dan melukai lebih dari 1.100 lainnya, menjadikan otoritas Cina semakin "ketat" memperlakukan Muslim di sana.



Terdapat lebih dari delapan juta kaum muslimin Uighur, yang kebanyakan dari mereka harus menerima pendzaliman secara politik, ekonomi, bahkan untuk menjalankan aturan agama mereka sendiri oleh suku Han Cina selama puluhan tahun.

Selama periode yang panjang ini, muslim Uighur berusaha untuk mempertahankan diri dengan melalui kampanye melawan kekuasaan musyrik Cina. (haninmazaya/prtv/arrahmah.com)

Muslim Uighur di Xinjiang, China, Dilarang Tarawih

Muslim Uighur di Xinjiang, China, Dilarang Tarawih
Written by Redaksi2
Monday, 08 September 2008 18:37
BEIJING -- Pada saat seluruh ummat Islam di dunia menyelenggarakan shalat tarawih usai berbuka puasa, Muslim Uighur di Xinjiang, China, malah bersedih. Ummat Islam di wilayah ini dilarang untuk menyelenggarakan shalat tarawih oleh pemerintah setempat.

Pemerintah setempat juga melarang laki-laki muslim Uighur memelihara janggut dan juga tidak membolehkan para muslimatnya memakai jilbab bercadar.

"Kami harus melakukan ini. Sebab penyelenggaraan ibadah dengan jamaah yang banyak sangat rawan menyulut ketidak
stabilan sosial," kata seorang pejabat setempat dalam lamannya yang dikutip AFP, Jumat (5/9)

Perintah larangan untuk menyelenggarakan ritual keagamaan selama ramadhan ini dikeluarkan pemerintah lokal terhadap
Muslim Uighur karena alasan "untuk mencegah tejadinya kekerasan" di dalam masyarakat.

Sementara bagi laki-laki muslim Uighur yang memelihara jenggot dan wanita yang menutupi wajahnya dengan jilbab," kami akan berusaha dengan cara apapun agar si laki-laki itu harus mencukur jenggotnya dan si wanita harus membuka cadarnya," kata seorang pejabat tanpa merinci bagaimana hal tersebut akan dilakukan.

Untuk mengawasi jalannya larangan tersebut, pemerintah kota setempat telah meningkatkan patroli di sekitar masjid di
wilayah tersebut. " Propaganda agama dalam bentuk apapun dilarang, " katanya. Pemerintah lokal juga mengawasai dengan ketat peredaran video tape recorder, loud speaker, dan tabuhan bedug.

Phelim Kyne, anggota Human Rights Watch yang berbasis di Hongkong menilai larangan yang dikeluarkan oleh pemerintah
lokal Xinjuan, hanya akan menjauhkan Muslim Uighur dengan budaya setempat dan ritual agama mereka.

Sementara itu, Dilxat Raxit, juru bicara the World Uighur Congress, mengingatkan bahwa larangan itu hanya akan lebih
meningkatkan ketegangan di antara Muslim di Xinjiang.

Muslim Uighur , yang berada di barat laut Xinjiang sejak lama berada di bawah pengawasan ketat pemerinah China. "Kami seperti orang Indian di Amerika. Kami menderita di tanah leluhur kami," ujar seorang Muslim Uighur. Xinjiang sendiri
merupakan aset yang tak ternilai bagi Beijing karena mengandungan cadangan minyak dan gas yang sangat besar.

(republika)

Muslim Xinjiang dan Sejarah Ratusan Tahun


Muslim Xinjiang dan Sejarah Ratusan Tahun

Islam is not the Enemy - Islamphobia

Tuesday, 17 May 2005 06:05

Tahun 650 menandai kelahiran agama Islam di daratan Cina. Saat itu, seperti tertulis dalam sebuah catatan kuno dari Dinasti Tang, diketahui adanya kunjungan agung dari Saad ibn Abi Waqqas RA --salah seorang sahabat Nabi Muhammad SAW -- ke negara tersebut. Saad membawa pesan dari Rasulullah untuk memperkenalkan Islam kepada rakyat negeri itu. Dia pun lantas memaparkan inti ajaran Islam di kerajaan yang disaksikan langsung oleh kaisar Cina.

Dari sejak itu, Islam berkembang di Cina. Hubungan antara Cina dan negara-negara Islam di Timur Tengah maju pesat terutama di bidang perdagangan. Banyak pedagang Muslim datang ke Cina.
Umat Muslim secara perlahan tapi pasti mulai mendominasi bidang ekspor dan impor selama masa Dinasti Sung (960 - 1279). Masa pemerintahan Dinasti Ming (1368 - 1644), merupakan masa kejayaan Islam di Cina.
'c2~
Namun Islam mulai mengalami masa suram pada saat Dinasti Ching memerintah tahun 1644 - 1911. Sentimen anti-Islam merebak. Dari sejak itu, Muslim terus mengalami penderitaan dan dianggap sebagai warga negara kelas dua.
'c2~
Ketika keruntuhan Dinasti Manchu tahun 1911, Sun Yat Sen tampil sebagai pemimpin baru Republik Rakyat Cina. Dia memproklamirkan persamaan hak dan kewajiban di antara etnis Han, Hui (Muslim), Man (Manchu), Meng (Mongol), and the Tsang (Tibet). Kebijakan yang pada akhirnya menghadirkan hubungan lebih baik di antara kelompok etnis tersebut.
'c2~
Potret Muslim Uighur/XinJiang di KasgarNamun penderitaan umat Muslim terulang kembali setelah terjadi revolusi pimpinan Mao Zedong dan masa pemerintahan komunis di Cina. Mereka harus berjuang melawan pengaruh komunis. Tahun 1953, meletus perlawanan Muslim yang menginginkan pembentukan negara Islam sendiri. Hal ini dilawan secara represif oleh militer Cina. Disusul kemudian dengan kegiatan propaganda anti-Muslim di seluruh wilayah negeri.
'c2~
Jumlah Muslim di Cina kini diperkirakan sekitar 20 juta jiwa. Mereka terdiri dari beragam etnik. Yang terbesar adalah etnis Hui Cina dengan hampir separo jumlah populasi Muslim Cina. Mereka tinggal di provinsi Ningsha di utara. Etnis lain adalah Uighur (keturunan Turki) yang mendiami wilayah provinsi Kansu dan Xinjiang. Etnis Uygur ini terdiri dari komunitas Uighur, Uzbek, Kazakh, Kirgiz, Tatar, dan Dongshiang.
'c2~
Etnis Uighur mendominasi populasi di Xinjiang atau sebanyak 60 persen. Akan tetapi, angka ini kian lama kian tidak berarti seiring kedatangan orang-orang non-Muslim Cina ke provinsi itu. Situasi tersebut menimbulkan masalah asimilasi dan meningkatkan keprihatinan terhadap gerakan de-Islamisasi di provinsi itu.
'c2~
Arus migrasi ini menuai masalah di wilayah provinsi Muslim tersebut lantaran jumlahnya telah mencapai angka rata-rata 200 ribu orang/tahun. Di banyak tempat di mana sebelumnya Islam mendominasi, sekarang justru menjadi minoritas.
'c2~
Sepanjang pemerintahan rezim Mao Zedong dan Revolusi Budayanya, umat Muslim kerap hidup di bawah tekanan. Dan saat teror dari kaum komunis berlangsung, sekaligus pula muncul upaya untuk menghilangkan jejak-jejak peradaban Islam dan identitas etnis Muslim di Cina.
'c2~
Bahasa Uighur, contohnya, yang selama berabad-abad menggunakan tulisan Arab, dipaksa untuk mengadopsi tulisan alfabet latin. Etnis Uygur dan kaum Muslim lainnya menjadi obyek utama pekerja paksa di sejumlah provinsi yang jumlahnya sekitar 30 ribu jiwa.
'c2~
Pemerintah juga telah menutup paksa sebanyak 29 ribu masjid di sana. Di bawah tekanan pula, di bidang pendidikan sejumlah sekolah Islam ditutup dan murid-muridnya dipindahkan ke sekolah yang hanya mengajarkan ajaran Mao dan Marxis. Belum lagi sekitar 360 ribu Muslim yang ditangkap.

Muslim Uighur tak Lelah Berharap

Muslim Uighur tak Lelah Berharap
Islam is not the Enemy - Islamphobia

Tuesday, 17 May 2005 06:00

Tidak enak memang, menjadi warga negara kelas dua. Perlakuan kurang adil kerap diterima. Seperti misalnya yang dirasakan oleh Abdullah Ahmed, seorang pebisnis dari etnis Uighur di Cina.
Satu dekade lalu, Ahmed memutuskan untuk pergi merantau. Tujuannya kala itu adalah Uni Emirat Arab (UEA), salah satu negara kaya minyak di Timur Tengah. Di sana dia membuka usaha dan berhasil mencapai sukses beberapa tahun kemudian.

Waktu terus bergulir, dan tanpa terasa sudah lebih dari 10 tahun berlalu. Dia pun merasa rindu pulang ke Cina dan kampung halaman. Maka Ahmed menetapkan hati untuk mudik belum lama ini.
Akan tetapi sungguh di luar perkiraannya, sesudah turun dari pesawat, perlakuan tidak menyenangkan diterima. "Pihak hotel tidak bersedia menerima saya sebagai tamu," keluhnya.


Padahal sebelumnya, saat dia menelepon untuk memesan tempat, pihak hotel memastikan ada kamar untuknya. Namun begitu Ahmed datang, si penerima tamu langsung berkata hotel itu sudah penuh.


Tak usah melihat paspor. Penampilan dan identitas nama Ahmed sudah menunjukkan bahwa dia adalah orang Uighur, etnis yang berasal dari keturunan bangsa Turki mayoritas beragama Islam dan tinggal di wilayah Xinjiang. Dan karenanya, tak ada satupun hotel yang mau menampungnya, barang semalam pun!



Malam itu tak ada pilihan buat Ahmed; pulang ke kota kelahirannya, Kashgar. Setelah menempuh penerbangan dari Beijing ke Bishkek, Kyrgystan, maka dilanjutkan dengan perjalanan darat melintasi wilayah pegunungan Xinjiang. "Terkadang, hal yang paling aneh adalah kita menjadi orang asing di negara sendiri," ujarnya. Ada kegetiran dalam ucapannya.
'c2~
Sejak Tragedi 11 September, etnis minoritas Uighur di Cina makin menjadi 'anjing kudisan' di negerinya sendiri. Pemerintah Cina berusaha mencari dukungan internasional bagi kampanyenya untuk memerangi 'kaum separatis' Uighur di Xinjiang - dengan menuduh mereka punya kaitan dengan jaringan terorisme internasional.
'c2~
Retorika yang bernada anti-separatis dari Beijing kian meningkat intensitasnya dalam beberapa pekan belakangan. Bahkan, juru bicara kementerian luar negeri, Zhu Bangzhao pernah mengklaim bahwa terdapat bukti keterkaitan etnis Uighur dengan jaringan Usamah bin Laden.
'c2~
Hampir tiap hari, penyisiran di lakukan di wilayah itu. Dua orang warga Xinjiang telah dijatuhi hukuman mati dan banyak lagi yang dipenjara dengan tudingan terlibat jaringan terorisme. ."Mereka (para pemimpin) ingin mengambil keuntungan dari situasi ini dan melakukan pembersihan," tukas Dru Gladney, ahli masalah Asia Tengah pada Asia-Pacific Center for Security Studies yang berkedudukan di Hawaii.
'c2~
Turdi Ghoja, ketua Asosiasi Uighur-Amerika yang berpusat di Washington, juga melontarkan pendapat serupa. "Pemerintah ingin mengambil manfaat dari momentum perang global melawan terorisme dengan melegitimasikan pembunuhan, penyiksaan dan pemenjaraan warga Uighur."
'c2~
Beberapa kalangan mengatakan, pemerintah hingga kini masih tetap bersikap melebih-lebihkan dari substansi sebenarnya. "Segalanya akan selalu menjadi buruk bagi kaum Uighur di Cina," ungkap seorang diplomat Barat.
'c2~
Bagi Turdi, perbagai laporan terkini menyangkut represi terhadap Muslim Uighur pada dasarnya tidak ada yang baru. "Mereka selalu memperlakukan kaum Uighur sebagai musuh."
'c2~
Padahal, kekhawatiran pemerintah Cina terhadap kemungkinan bergabungnya Muslim Uighur dengan umat Muslim dari negara lain -- Taliban atau lainnya -- tak juga terbukti. Begitu pula menyangkut bangkitnya Pan-Turki mulai dari Afganistan hingga ke Asia Tengah, hanya merupakan desas-desus di warung kopi.
'c2~
Kenyataannya, seperti juga ketika Kabul jatuh beberapa hari menjelang Ramadhan, kehidupan terus berlanjut di sana. Mengutip komentar Ahmed saat keluar dari lobi hotel yang menolaknya, "Dunia berputar dengan caranya sendiri, tetapi Kashgar tidak pernah berubah."
'c2~
Bagi Muslim Uighur, yang diharapkannya hanya satu, hidup tenteram seperti warga negara lainnya. "Kami selalu berdoa untuk perdamaian," kata seorang pria tua, sesaat sebelum melangkahkan kakinya ke masjid terdekat.

Umat Islam Indonesia diam saja saat 600 muslim Uighur tewas dibantai di Xinjiang, China?

Umat Islam Indonesia diam saja saat 600 muslim Uighur tewas dibantai di Xinjiang, China?
2009 Juli 7
tags: kerusuhan etnis, Uighur, ukhuwah islamiyah
by M Shodiq Mustika

Saat ini, umat Islam dari etnis Uighur di Xinjiang, China, sedang berjihad melalui demonstrasi melawan kezaliman pemerintah komunis China. Pemerintah China menghadapi demonstrasi tersebut dengan kekerasan, hingga menewaskan ratusan orang. Namun, sejauh ini aku belum mendengar suara dari umat Islam Indonesia. Akankah kita diam saja? Lupakah kita akan ukhuwah Islamiyah?

Sudah lama sekali etnis Uighur mengalami kezaliman dari pemerintah China. Sudah saatnya para pembela keadilan (apalagi yang menjadi saudara seagama) menyuarakannya pula.

Kami menyatakan ada orang Islam yang dibantai itu bukan berarti bahwa tidak ada orang Islam yang membunuhi orang lain. Mereka yang dibantai oleh beberapa orang Islam itu sudah dibela oleh banyak orang. Apakah salah bila kami turut membela saudara-saudara seagama yang dizalimi?

Bagaimanapun, keadilan harus ditegakkan bagi setiap orang. Jangan sampai ketika orang Islam melakukan kejahatan, hukum ditegakkan; tapi ketika orang Islam yang dijahati, malah tidak ada penegakan keadilan.

Berikut ini kutipan beritanya:

Kelompok Uighur Perkirakan Korban Jiwa Mencapai 800
Kamis, 9 Juli 2009 09:40 WIB

Berlin (ANTARA News) – Kelompok Uighur di pengasingan memperkirakan korban jiwa dalam kerusuhan di kota Urumqi, China, antara orang Uighur Muslim dengan Han China mencapai 600 hingga 800 orang tewa, kata Wakil Presiden Kongres Uighur Dunia, Asgar Can, Rabu.

Asgar Can, yang tinggal di pengasingan di Jerman –tempat organisasi itu berpusat, mengatakan, “Sebagian orang telah memberi tahu kami 600 (orang tewas), yang lain telah mengatakan 800. Kami memperkirakan bahwa jumlah itu adalah antara 600 dan 800“.

Ia menyatakan perkiraan tersebut dilandasi atas perhitungan saksi mata mengenai kerusuhan itu.

China telah menyatakan bahwa 156 orang tewas dalam bentrokan di Urumqi, Ahad. Lebih dari seribu orang cedera.

Pemerintah, Rabu, menyatakan situasi sekarang “dapat dikendalikan” setelah ribuan prajurit memasuki kota tersebut dalam upaya mencegah kerusuhan lebih lanjut.

Beijing telah menyalahkan pemimpin Uighur, Rebiya Kadeer, menghasut kerusuhan itu, tuduhan yang dibantah keras.

Rebiya, Rabu, malah menuduh kebijakan China sebagai pangkal kerusuhan di Xinjiang, dan menyatakan korban jiwa akibat kerusuhan tersebut “jauh lebih banyak” dibandingkan dengan 156 yang dinyatakan oleh Beijing.

Dalam wawancara dengan radio BBC, Rebiya –Presiden Kongres Uighur Dunia– membantah tuduhan resmi China bahwa dialah dalang kerusuhan itu, dan mengatakan tampaknya lebih banyak orang Uighur yang gugur dibandingkan dengan Han China.

“Orang yang bertanggung jawab atas serangan ini adalah Wang Leguan, Kepala Partai Komunis Xinjiang, dan juga kebijakan pemerintah,” katanya.

Delapan juta orang Uighur di Xinjiang merupakan separuh penduduk di wilayah tersebut, daerah pegunungan dan gurun luas yang kaya akan sumber alam dan berbatasan dengan Asia Tengah.

Masyarakat yang berbicara bahasa Turki itu telah lama mengeluh mengenai penindasan dan diskriminasi di bawah kekuasaan China, tapi Beijing berkeras pemerintah telah menyalurkan kemakmuran ekonomi ke wilayah tersebut.

“Dalam delapan tahun belakangan, orang Uighur dicap sebagai separatis, teroris dan ekstremis. Akibat propaganda dari pemerintah China ini, rakyat China mulai percaya bahwa orang Uighur adalah musuh dan mereka mulai membenci orang Uighur,” kata Rebiya. (*)

COPYRIGHT © 2009

Xinjiang Makin Berdarah, yang Tewas Bertambah
Selasa, 7 Juli 2009 | 05:02 WIB

BEIJING, KOMPAS.com – Jumlah kematian akibat kekerasan etnik di daerah Xinjiang, China barat laut, naik menjadi 156 orang. Kerusuhan meluas ke kota Kashgar, tempat polisi membubarkan sekitar 200 orang yang berusaha berkumpul, kata media pemerintah, Selasa (7/7).

Pemrotes yang marah dari minoritas Uighur turun ke jalan-jalan di ibu kota wilayah itu, Urumqi, Minggu, dengan membakar dan menghancurkan kendaraan serta pertokoan, dan bentrok dengan polisi antihuru-hara.

Lebih dari 700 orang ditangkap karena dituduh berperan dalam kekerasan itu, kata kantor berita resmi Xinhua. Namun, penduduk setempat mengatakan kepada Reuters bahwa polsi melakukan operasi membabi-buta di daerah-daerah Uighur.

Lebih dari 20.000 polisi khusus dan bersenjata, pasukan dan pemadam kebakaran dikerahkan dalam penumpasan kekerasan di Urumqi. Meski pengamanan diperketat, kerusuhan tampaknya meluas di wilayah bergolak itu.

Sekitar 200 orang yang “berusaha berkumpul” di masjid Id Kah di pusat kota Silk Road Kashgar dibubarkan oleh polisi pada Senin petang, kata Xinhua.

Polisi juga memperoleh “petunjuk” mengenai upaya-upaya untuk mengatur lagi kerusuhan di kota Aksu dan prefektur Yili, sebuah daerah perbatasan yang dilanda kerusuhan etnik pada akhir 1990-an.

Bersama-sama Tibet, Xinjiang merupakan salah satu kawasan paling rawan politik dan di kedua wilayah itu, pemerintah China berusaha mengendalikan kehidupan beragama dan kebudayaan sambil menjanjikan petumbuhan ekonomi dan kemakmuran.

Namun, penduduk minoritas telah lama mengeluhkan bahwa orang China Han mengeruk sebagian besar keuntungan dari subsidi pemerintah, sambil membuat warga setempat merasa seperti orang luar di negeri mereka sendiri.

Beijing mengatakan bahwa kerusuhan itu, yang paling buruk di kawasan tersebut dalam beberapa tahun ini, merupakan pekerjaan dari kelompok-kelompok separatis di luar negeri, yang ingin menciptakan wilayah merdeka bagi minoritas muslim Uighur.

Kelompok-kelompok itu membantah mengatur kekerasan tersebut dan mengatakan, kerusuhan itu merupakan hasil dari amarah yang menumpuk terhadap kebijakan pemerintah dan dominasi ekonomi China Han.

XVD
Sumber : Ant

Pengadilan AS Menolak Pembebasan Muslim Uighur

http://www.arrahmah.com/index.php/news/read/3426/pengadilan-as-menolak-pembebasan-muslim-uighur
WASHINGTON (Arrahmah.com) - Pengadilan banding AS telah menolak melepaskan 17 Muslim Uighur, Cina, yang berada dalam penjara Guantanamo.

Tiga hakim mengatakan bahwa pengadilan tidak memiliki otoritas untuk memutuskan satu hukum terkait masalah tersebut dan keputusan tersebut hanya bisa dibuat oleh eksekutif AS di bawah presiden.

17 Muslim Uighur tersebut telah berada di penjara AS di Guantanamo sejak enam tahun silam.

AS tidak akan mengembalikan mereka ke daerah asalnya dengan alasan mereka akan mendapatkan penyiksaan dari otoritas Beijing karena Beijing telah memberi peringatan bagi negara-begara lain untuk tidak menerima mereka.

Lalu apakah dengan tetap berada di Guantanamo, mereka tidak mengalami penyiksaan? (Hanin Mazaya/arrahmah.com)

Giliran Etnis Han ‘Berburu’ Muslim Uighur

Giliran Etnis Han ‘Berburu’ Muslim Uighur

Kaum Muslim Uighur di Xinjiang, Cina, masih terus terancam. Setelah aparat kemamanan Cina membantai mereka dalam aksi protes 5 Juli lalu, kini giliran ribuan etnis Han turun ke jalan-jalan di ibu kota Urumqi guna memburu warga Muslim yang tidak berdaya. “Terlalu banyak kebencian di sini sekarang,” ujar Ali, seorang warga Uighur, kepada Agence France Presse (AFP) kemarin (8/7). Kelompok Uighur di pengasingan mengingatkan akan adanya “genocide” (pembunuhan masal) terhadap kaum Muslim di wilayah Xinjiang.

Dikemukakan, ribuan etnis Han yang dimukimkan pemerintah Cina di Xinjiang tumpah ke jalan-jalan bersenjatakan pentungan dan lainnya guna memburu etnis Uighur. “Tangkap mereka! Pukul! Pukul! Pukul!” demikian mereka berteriak saat melihat Muslim Uighur. Warga Muslim yang tidak bisa menyelamatkan diri babak-belur hingga sekarat, menjadi bulan-bulanan kebrutalan etnis Han.

“Saya sangat takut pulang malam ini,” kata Halisha, seorang dokter mata berusia 30 tahun, yang memilih tidur di klinik kecilnya ketimbang harus pulang melalui jalanan yang berbahaya. “Saya tidak tahu apakah harus percaya kepada tetangga saya atau orang-orang di jalanan? Lebih aman (menginap) di sini sekarang.”

Urumqi bergolak sejak Ahad lalu ketika hampir 1.000 Muslim Uighur turun ke jalan-jalan guna memprotes sikap diskriminatif serta kontrol budaya dan agama pemerintah Cina. Sedikitnya 156 orang tewas dan lebih dari 1.000 lainnya terluka ketika polisi Cina membubarkan paksa massa demonstran dengan gas air mata dan tembakan senjata api secara membabi-buta.

Ironisnya, kini etnis Han yang memburu Muslim Uighur di tengah kecaman masyarakat dunia atas kebiadaban aparat keamanan Cina. Kelompok pembela HAM menyebutkan, sedikitnya 1,434 orang Muslim ditahan dan kemungkinan disiksa.

Amuk massa etnis Han Cina meneruskan aksi brutal ribuan tentara Cina. Menurut saksi mata, tak satu pun etnis Han yang melakukan serangan ditahan polisi. Kelompok Uighur di pengasingan mengingatkan akan adanya “genocide” (pembunuhan masal) terhadap kaum Muslim di wilayah Xinjiang.

“Genosida terhadap Muslim Uighur tengah berlangsung,” kata Torgan Tozakhunov, Wakil Direktur Pusat Kebudayaan Uighur di Kahazakhstan tempat sekitar 220.000 warga Uighur tinggal. “Pihak berwenang Cina harus bertanggung jawab atas aksi kriminal ini di depan masyarakat internasiopnal.”

Perdana Menteri Turki, Racab Tayyib Erdogan, menyerukan dunia agar menghentikan “kebuasan” yang kini terjadi terhadap Muslim Uighur. “Kekejaman terhadap Muslim Uighur harus segera dihentikan,” katanya.

Muslim Uighur melakukan aksi damai guna memrotes kebijakan Cina yang selama diskriminatif terhadap mereka. Belakangan, pemerintah Cina berusaha menghapus identitas dan budaya Islam di Xinjiang, termasuk berusaha mengubah komposisi penduduk dengan menempatkan ribuan etnis Han di sana. Pemerintah Cina juga memasukkan pelajaran bahasa Mandarin di sekolah-sekolah Xinjiang guna menghapus bahasa lokal Uighur (Turki). (warnaislam.com, 9/7/2009)

PITI, Umat Islam Harus Bantu Muslim Uighur

JAKARTA (Arrahmah.com) - Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI) mengecam kebrutalan pemerintah Cina dan etnis Han terhadap minoritas Muslim Uighur, dan menyesalkan akan diamnya umat Islam yang mengabaikan penderitaan, penganiayaan serta diskriminasi yang dialami Muslim Uighur.

Muslim Cna terpinggirkan dari dunia Islam. Mereka telah lama mengalami penindasan, tetapi mereka terabaikan," kata juru bicara PITI Steven Indra Wijaya kepada The Jakarta Post via telepon.

"Kami menyerukan kepada seluruh umat Islam untuk menolak penindasan serta membantu etnis Muslim Uighur."

Lebih dari 150 orang terbunuh dalam kerusuhan yang melibatkan etnis Muslim Uighur dengan etnis Han di provinsi Xinjiang Cina. Kerusuhan tersebut pecah setelah ribuan muslim Uighur melakukan protes atas terbunuhnya dua orang etnis Uighur di sebuah pabrik mainan di Guangdong.

Presiden PKS Tifatul Sembiring mengutuk pembunuhan terhadap muslim Xinjiang. "Sebagai bagian dari masyarakat internasional, Cina harus menghentikan semua tindakan yang mengarah kepada pelanggaran HAM," kata Tifatul.

PKS juga mendesak lembaga-lembaga HAM internasional untuk menyelidik kasus tersebut.

Pemerintah Cina lewat presidennya Hu Jintao pada Kamis (9/7) kemarin mengatakan bahwa kejadian kerusuhan tersebut telah direncanakan dan diorganisir oleh tiga gerakan yang di dalam Xinjiang sendiri dan di luar negeri," merujuk kepada ektrimis Islam, separatis dan teroris.

Meningkatnya ketegangan etnis di Xinjiang tampaknya juga dipicu oleh membanjirnya etnis Han ke dalam wilayah tradisional Muslim Uighur.

Pemerintah Cina telah berusaha memadamkan kerusuhan dan pada Kamis kemarin mulai menyerukan persatuan etnis di provinsi Xinjiang. Media melaporkan, bahwa banyak keraguan kedua etnis di Xinjian akan bisa hidup berdampingan kembali.

PITI sendiri memiliki hubungan dekat dengan umat Islam Xinjiang, yang menurut juru bicara PITI Steven Indra Wijaya - merupakan pusat peradaban penting bagi umat Islam di Cina. Muslim Xinjiang, tambahnya, biasanya akan mengunjungi pusat kebudayaan Zheng He (Cheng Ho) di jawa Tengah ketika berkunjung ke Indonesia.

Laksamana Zheng He (Cheng Ho) adalah seorang muslim Cina yang pernah berkunjung ke Indonesia di abad 15. Walaupun masih jadi perdebatan para sejarawan - banyak yang percaya bahwa Islam di nusantara dibawa dari Cina. (era/arrahmah.com)

Cina Tangkapi Muslim Uighur


Awal tahun baru 2009 menjadi lembaran kelabu bagi warga Muslim Uighur di Xinjiang. Hampir 1300 orang ditangkap dan ditahan pemerintah komunis Cina dengan tuduhan terorisme, ekstremisme agama atau membahayakan keamanan negara.

Jika dihitung secara keseluruhan, sepanjang tahun 2008 lalu lebih dari 4000 orang Muslim Uighur yang ditangkap. Namun awal tahun ini merupakan aksi penangkapan besar-besaran yang dilakukan pemerintah Cina terhadap umat Islam di Xinjiang. Tuduhannya macam-macam bahkan terkesan mengada-ada, mulai terorisme, separatisme, dan spionase yang berdampak pada hukuman mati.

Laporan yang dirilis surat kabar kejaksaan Cina, Procuratorial Daily, menyebutkan, kejaksaan di Xinjiang telah menyetujui penangkapan 1295 orang Muslim itu dan memvonis 1154 orang lainnya. Total, 204 kasus telah disidangkan sejauh ini.

Setahun sebelumnya, di 2007, sejumlah orang ditangkap di seluruh wilayah Cina karena dicurigai terlibat dalam kegiatan yang membahayakan keamanan negara. Menurut data Biro Statistik Nasional Cina, penuntut umum telah mendakwa 619 orang di antaranya. “Setengah dari total jumlah tersebut adalah orang-orang Xinjiang,” kata Nicholas Bequelin, peneliti Cina pada HRW (Human Rights Watch), sebagaimana dikutip The New York Times.

Bequelin mengatakan, bertambahnya angka ini muncul karena masalah penegakan hukum, bukan karena bertambahnya jumlah tindak pidana. “Hal ini sangat mengkhawatirkan karena merefleksikan ambang batas pelaku tindak pidana keamanan negara sangat menurun tahun lalu,” ujarnya.

Bequelin menambahkan, tak seorang pun yang meragukan bahwa ada beberapa individu dan kelompok yang menyokong penggunaan kekerasan anti-negara, walau orang-orang ini kelihatan kecil dari segi jumlah dan bukan merupakan ancaman utama keamanan negara Cina. “Masalahnya adalah tidak mungkin mengetahui dari seluruh laporan yang ada, berapa perbandingan jumlah total kasus ini dan berapa pelanggaran yang berdasarkan alasan politik (berbeda agama dan pandangan politik),” jelasnya.

Menurut Bequelin, kian bertambahnya jumlah orang-orang yang ditangkap seiring sejalan dengan usaha agresif pemerintah Cina menghentikan segala bentuk perbedaan dan memperketat keamanan, sebagaimana yang terlihat dalam pagelaran Olimpiade Beijing, Agustus tahun lalu. Pihak berwenang lebih fokus ke Beijing, Tibet dan Xinjiang.

Khusus buat Provinsi Xinjiang, yang dihuni mayoritas Muslim Suku Uighur, pemerintah Cina memberlakukan kontrol sangat ketat, terutama terhadap kegiatan keagamaan warganya. Contoh, pegawai pemerintah yang Muslim dilarang shalat di masjid, kajian al-Qur’an dan majelis taklim tidak diperbolehkan. Padahal, semua itu tidak bertentangan dengan undang-undang dan tidak mengancam keamanan negara.

Sejak pemerintahan Bush memulai kampanye perangnya melawan terorisme tahun 2001 silam, pihak berwenang Cina mengaku telah memerangi apa yang disebut tiga kekuatan separatisme, terorisme dan ekstremisme di wilayah Xinjiang. Tahun lalu, Dui Hua Foundation, sebuah organisasi HAM yang berbasis di San Francisco melaporkan jumlah orang-orang Xinjiang yang ditangkap karena dituduh membahayakan keamanan negara kian meningkat di Cina dalam beberapa tahun terakhir.

Akhir 2008, surat kabar pemerintah Cina, Xinhua, melaporkan dua orang Uighur telah dihukum mati karena didakwa terlibat dalam serangan mematikan 4 Agustus 2008 di Kota Kashgar yang menewaskan 17 orang militer Cina. Tapi kedua orang itu dihukum mati karena pembunuhan dan pembuatan senjata ilegal, bukan karena membahayakan keamanan negara.

Sulitnya jadi Muslim
Hidup sebagai Muslim dan menjalankan ibadah dengan tenang di kawasan baratlaut Cina yang disebut Xinjiang itu bukanlah hal yang mudah. Laksana hidup di bawah rangkaian aturan nan rumit yang cenderung mengontrol penyebaran Islam dan praktek-praktek keagamaan. Mayoritas Suku Uighur yang merupakan keturunan Turki tidak mudah beradaptasi dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku di Cina. Tiap ada maklumat atau putusan pemerintah komunis itu, selalu bertentangan dengan kehidupan keislaman warga Uighur. Yang diperbolehkan hanyalah mengajarkan Qur’an secara resmi dan dikontrol pemerintah. Seorang ulama atau imam dilarang mengajarkan al-Qur’an secara privat atau diam-diam. Pun demikian dengan pengajaran Bahasa Arab, hanya boleh dipelajari di sekolah-sekolah pemerintah.

Dua rukun Islam, puasa dan haji merupakan ibadah yang dikontrol dan diatur secara ketat. Para siswa dan pegawai pemerintah dipaksa makan saat Ramadhan. Paspor milik orang-orang Muslim disita di seluruh Xinjiang untuk memaksa mereka mendaftar haji melalui biro yang ditunjuk pemerintah. Calon jamaah haji dilarang berangkat ke Makkah secara diam-diam. Pegawai pemerintahan dilarang mempraktekkan ajaran Islam, seperti penggunaan jilbab bagi Muslimah, misalnya. Melanggar aturan ini, bisa-bisa ditembak mati.

Untuk haji misalnya, tak mudah bagi Muslim Uighur memenuhi panggilan Ilahi ke Tanah Suci itu. Untuk mendapatkan paspor, calon jamaah haji diharuskan mendatangi biro haji atau biro perjalanan resmi dengan meninggalkan deposito senilai $6.000. Seorang imam masjid di Kashgar, sebagaimana seluruh imam masjid lainnya yang digaji pemerintah, dipaksa berangkat ke Makkah melalui biro resmi. Hal ini tidak mudah bagi kebanyakan orang-orang Uighur. Ongkos naik haji versi resmi ini mencapai $3.700, belum lagi ditambah suap yang kian menambah jumlah dan nominalnya.

Begitu seseorang telah mendaftar haji, maka pejabat berwenang akan memeriksa latar belakang yang bersangkutan dan keluarganya. Jika sang calon haji mempunyai anak, maka anak-anak itu harus sudah cukup usia untuk menghidupi dirinya sendiri. Dan si calon haji juga diharuskan menunjukkan adanya jaminan finansial berupa tabungan di bank. Dalih pemerintah, untuk menjamin bahwa sang calon haji tidak akan meninggalkan keluarganya dalam kemelaratan. Dalam aturan yang tercantum pada website pemerintah Xinjiang disebutkan bahwa sang calon haji harus berusia 50-70 tahun. “Cintailah negerimu dan taatilah hukum!” demikian jargon aturan tersebut.

Tiap tahun, jumlah pendaftar jamaah haji jauh melebih jatah kuota yang tersedia. Dan si pendaftar yang tidak mendapatkan kuota harus menunggu setahun kemudian. Menurut surat kabar Xinhua, tahun 2006-2007, lebih dari 3100 Muslim Xinjiang yang berangkat haji secara resmi, naik dari angka 2000 pada tahun sebelumnya.

Seorang pemuda Uighur di Kashgar mengatakan, kedua orang tuanya memaksa anak-anaknya menikah pada usia dini hanya agar dapat membuktikan bahwa anak-anaknya telah mampu mandiri secara finansial. Dengan demikian mereka dapat melaksanakan ibadah haji. “Keinginan terbesar mereka adalah pergi ke Makkah walau hanya sekali,” kata pemuda yang mengaku bernama Abdullah ini.

Pemerintah Cina yang ateis, mengakui keberadaan lima agama yaitu Islam, Protestan, Katolik, Tao dan Buddha, namun dengan ketat mengontrol administrasi dan prakteknya. Tentu saja, yang paling diwaspadai dan mendapatkan perhatian lebih adalah Xinjiang, karena kekhawatiran adanya gerakan separatis di kawasan itu.

Sejumlah pejabat pemerintah menganggap di Xinjiang terdapat kelompok pemberontak yang merupakan ancaman terbesar di Cina. Pemerintah khawatir masalah tersebut akan mengganggu stabilitas kawasan. Namun, beberapa pakar terorisme berpendapat, justru dengan diterapkannya pembatasan dan kontrol terhadap Islam akan semakin meradikalisasi orang-orang Uighur.

Suku Uighur adalah etnis terbesar di Xinjiang, mencapai 46 persen dari total 19 juta jiwa penduduknya. Walau mayoritas di Xinjiang, namun kaum Muslim Uighur selalu mendapatkan diskriminasi karena perbedaan mencoloknya dengan Suku Han yang mayoritas di Cina, terutama dalam segi bahasa dan agama.

Suku Uighur mulai memeluk Islam Sunni sejak abad ke-10, di tengah beragam bentuk dan banyaknya kepercayaan dan agama waktu itu. Dan Islam kian mendapatkan popularitas yang demikian besar di tengah kerasnya sikap pemerintahan komunis selama beberapa dekade terakhir.

Menurut data statistik pemerintah, terdapat 24.000 masjid dan 29.000 ulama di Xinjiang. Kawasan Muslim paling agamis terdapat di kota-kota Jalur Sutra lama di selatan seperti Kashgar, Yarkand dan Khotan.

Beberapa kritik menyatakan, pemerintah komunis Cina sengaja membatasi gerakan dan aktivitas Muslim Uighur dan mencegah mereka berhubungan dengan Muslim lainnya, karena khawatir hal itu dapat membangun identitas pan-Islamisme di Xinjiang. Sebuah paranoia yang tak bisa dibuktikan.

Muslim Uighur Kecam Penghancuran Kashgar

Muslim Uighur Kecam Penghancuran Kashgar
By Republika Newsroom
Kamis, 24 Juni 2009 pukul 14:43:00

Muslim Uighur Kecam Penghancuran KashgarWEBGEEK.FLICKR.COM

KOTA KASHGAR: Pemandangan di salah satu sudut kota. Kota tua warisan leluhur Muslim Uighur terancam dihancurkan seluruhnya oleh pemerintah Cina.

UIGHUR, CINA — Pemimpin Muslim Uighur mengecam keras penghancuran Kota Tua di Kasghar oleh Pemerinta Cina. Kota kuno terebut menyimbolkan identitas leluhur Muslim Uighur yang telah dijaga lama , komunitas tersebut juga mendesak dunia internasional ikut membantu penyelamatan kota.

"Pihak berewenang Cina tidak lagi segan menghapuskan bahasa kami di sekolah-sekolah dan agama kami dari masjid-masjid," ujar kepala Asosiasi Uighur Amerika (UAA), Rebiya Kadeer seperti yang dikutip oleh Islamonline. "Kini mereka secara fisik mencabik rumah-rumah kami, tempat bisnis dan juga tempat ibadah kami," imbuhnya.

Pemerintah Cina telah mengumumkan kepada sekitar 200 ribua penghuni kota tua yang masih kental dengan budaya Uighur, hingga 18 Juni lalu, untuk pindah sukarela sebelum rumah mereka dihancurkan. "Para penghuni Kota Tua tidak diberi kesempatan untuk menyatakan opini mereka terhadap proyek penghancuran perumahaan mereka," ujar Rebiya.

"Komunitas internasional harus menyeru kepada Cina untuk mencegah perusakan lebih jauh terhada Kota Tua itu," katanya "Ini demi kepentingan identitas budaya Uighur dan demi mencegah hilangnya pusat arsitektur dan warisan dunia yang tak tergantikan," tegasnya.

Alasan pemerintah Cina sendiri, proyek dilakukan untuk mengatur ulang penempatan penghuni Kashgar karena khawatir terhadap ancaman gempa bumi, drainase yang buruk dan demi keamanan publik. Namun para pakar menyatakan rumah-rumah tradisional terbuat dari batu-bata dan lumpur, yang tela berdiri berabad-abah justru tidak berbahaya tidak pula ketinggalan jaman.

Seorang guru besar di Beijing malah menyarankan alih-alih menghancurkan sepenuhnya, rumah-rumah tersebut hanya perlu dikuatkan dan diperbaiki. Dalam rencana tersebut, pemerintah telah meratakan Madrasah Xanliq, sekolah Islam berusia satu abad di kota tua, yang terdaftar sebagai situs budaya dilindungi.

Laporan juga mengatakan landmark sekolah tak luput dihancurkan demi membuat ruang untuk lapangan atletik. "UAA sangat prihatin dengan bagian tersisa dari Kota Tua yang mencerminkan karakter budaya Uighur, tempat di mana sebuah komunitas sangat hidup, tinggal di sana,"

Tidak diketahui secara pasti berapa bagian dari Kota Kashgar seluas delapan kilometer persegi yang tersisa. Namun laporan telah mendokumentasikan penghancurkan sebagian kota dan evakuasi penghuni ke blok-blok apartemen, tak jauh di luar Kasghar.

"Sebagai tambahan telah dicabut dari pekerjaan, komunitas, dan pusat ibadah, residen dilaporkan pula menerima kompensasi tak sebanding," demikian ujar UAA. Padahal Kasghar telah lama di kenal sebagai pusat politik dan bisnis di Xinjiang, kawasan otonom bermayoritas Muslim sejak 1955.

Beijing melihat, kawasan luas tersebut sebagai aset berharga karena letaknya sangat strategis, yakni dekat Asia Tengah. Itu belum termasuk cadangan minyak dan gas yang melimpah. Xinjiang, dan Muslim Uighurnya, etnis minoritas berbahasa Turki yang berjumlah lebih dari delapan juta, selalu menjadi subjek pengawasan dan pemeriksaan ketat pihak keamanan.

Komunitas Muslim menuding pemerintah memapankan jutaan etnis Han ke dalam kawasan tersebut dengan tujuan utama menghapus identitas dan budaya Uighur. Mereka juga mengriktik rencana pemerintah terbaru yang membawa pelajaran Cina Mandarin di sekolah-sekolah Xinjiang, dan menggantikan dialek lokal mereka. (itz)

Sudah 800 Muslim Uighur Terbunuh


Sudah 800 Muslim Uighur Terbunuh

By Republika Newsroom
Jumat, 09 Juli 2009 pukul 10:22:00

Sudah 800 Muslim Uighur Terbunuh DAYLIFE/AP

Sebuah aksi unjuk rasa didekat menara Eiffel,Paris, Perancis, mengutuk kekerasan yang dilakukan tentara Cina terhadap muslim Uighur.

BERLIN -- Kelompok Uighur di pengasingan memperkirakan korban jiwa dalam kerusuhan di kota Urumqi, China, antara orang Uighur Muslim dengan Han China mencapai 600 hingga 800 orang tewas, kata Wakil Presiden Kongres Uighur Dunia, Asgar Can, Rabu.

Asgar Can, yang tinggal di pengasingan di Jerman --tempat organisasi itu berpusat, mengatakan, "Sebagian orang telah memberi tahu kami 600 (orang tewas), yang lain telah mengatakan 800. Kami memperkirakan bahwa jumlah itu adalah antara 600 dan 800".

Ia menyatakan perkiraan tersebut dilandasi atas perhitungan saksi mata mengenai kerusuhan itu.

China telah menyatakan bahwa 156 orang tewas dalam bentrokan di Urumqi, Ahad. Lebih dari seribu orang cedera.

Pemerintah, Rabu, menyatakan situasi sekarang "dapat dikendalikan" setelah ribuan prajurit memasuki kota tersebut dalam upaya mencegah kerusuhan lebih lanjut.

Beijing telah menyalahkan pemimpin Uighur, Rebiya Kadeer, menghasut kerusuhan itu, tuduhan yang dibantah keras.

Rebiya, Rabu, malah menuduh kebijakan China sebagai pangkal kerusuhan di Xinjiang, dan menyatakan korban jiwa akibat kerusuhan tersebut "jauh lebih banyak" dibandingkan dengan 156 yang dinyatakan oleh Beijing.

Dalam wawancara dengan radio BBC, Rebiya --Presiden Kongres Uighur Dunia-- membantah tuduhan resmi China bahwa dialah dalang kerusuhan itu, dan mengatakan tampaknya lebih banyak orang Uighur yang gugur dibandingkan dengan Han China.

"Orang yang bertanggung jawab atas serangan ini adalah Wang Leguan, Kepala Partai Komunis Xinjiang, dan juga kebijakan pemerintah," katanya.

Delapan juta orang Uighur di Xinjiang merupakan separuh penduduk di wilayah tersebut, daerah pegunungan dan gurun luas yang kaya akan sumber alam dan berbatasan dengan Asia Tengah.

Masyarakat yang berbicara bahasa Turki itu telah lama mengeluh mengenai penindasan dan diskriminasi di bawah kekuasaan China, tapi Beijing berkeras pemerintah telah menyalurkan kemakmuran ekonomi ke wilayah tersebut.

"Dalam delapan tahun belakangan, orang Uighur dicap sebagai separatis, teroris dan ekstremis. Akibat propaganda dari pemerintah China ini, rakyat China mulai percaya bahwa orang Uighur adalah musuh dan mereka mulai membenci orang Uighur," kata Rebiya. ant/afp/yto

Urumqi Masih Rawan Kerusuhan, China Kerahkan Ribuan Pasukan


Urumqi Masih Rawan Kerusuhan, China Kerahkan Ribuan Pasukan
Kamis, 09/07/2009 16:22 WIB

Pemerintah China akan menerapkan kebijakan yang makin represif di Xinjiang menyusul kerusuhan antar etnis di wilayah itu. Pemerintah menambah ribuan pasukannya ke Urumqi-ibukota Xinjiang-untuk memulihkan situasi di kota itu. Pimpinan Partai Komunis di China bahkan mendesak agar pemerintah mengeksekusi mereka yang tertangkap dalam kerusuhan tersebut.

Laporan Al-Jazeera menyebutkan bahwa meski aparat keamanan sudah berjaga-jaga dan situasi kota Urumqi sudah berangsur-angsur normal, ketegangan di kota itu masih terasa dan masih berpotensi terulangnya kembali kerusuhan yang lebih besar. Aksi massa Muslim Uighur hari Minggu (5/7) yang memprotes kebijakan diskriminatif pemerintah China berakhir bentrokan dengan aparat yang meluas menjadi bentrokan dengan etnis Han.

Kerusuhan ini menjadi kerusuhan antar etnis yang paling berdarah di China, yang mengakibatkan 150 orang tewas dan ribuan orang luka-luka. Sampai hari Rabu kemarin, aparat keamanan China menangkap lebih dari 1.000 orang. Pemerintah China mengingatkan, mereka yang terbukti bersalah melakukan pembunuhan akan dieksekusi.

"Kami akan mengeksekusi mereka yang melakukan kejahatan secara keji," ujar Ketua Partai Komunis China untuk Urumqi, Li Zhi.

Aparat keamanan China dalam beberapa hari ke depan, masih akan terus melakukan penangkapan menyusul pernyataan Presiden China Hu Jintao yang mendesak aparatnya untuk menindak tegas mereka yang terlibat dalam kerusuhan. Pemerintah China menuding warga Muslim Uighur sebagai biang keladi kerusuhan dan mengecam para tokoh etnis Han yang sudah ikut memperkeruh situasi.

Untuk mengendalikan situasi, pemerintah China bukan hanya memberlakukan jam malam, tapi juga mengerahkan ribuan pasukan militernya ke Urumqi. Konvoi panjang kendaraan tempur dan truk-truk militer mengintensifkan patrolinya di jalan-jalan di kota itu dan helikopter-helikopter militer secara rutin melakukan pengamatan dari udara di atas kota Urumqi.

Perhatian dunia, terutama dunia Muslim dan Arab atas nasib Muslim Ughhur dalam kerusuhan di China sampai hari ini masih minim. Perdana Menteri Turki Recep Tayyip adalah pemimpin Muslim pertama yang menyerukan agar aksi kekerasan di China dihentikan.

Ahmet Davutoglu, Menlu Turki juga mendesak pemerintah China mengadili para pelaku kerusuhan dengan cara yang transparan. "Kami memantau peristiwa ini dengan perasaan prihatin, khawatir dan sedih," kata Davutoglu.

Negara Turki punya ikatan moral atas nasib Muslim Uighur yang menjadi penduduk mayoritas di wilayah Xinjiang. Muslim Uighur yang jumlahnya mencapai delapan juta jiwa memiliki kedekatan dengan Turki, karena Muslim Uighur menggunakan bahasa Turki.

Sejak pemerintah China mengambil kendali pemerintahan atas wilayah Xinjiang, Muslim Ughur mengalami penindasan dan diskriminasi. Pemerintah China bahkan berusahan menghapus jejak budaya Muslim Uighur dengan program imigrasi massal etnis Han ke wilayah otonomi itu yang kerap menimbulkan gesekan dengan Muslim Uighur. Berbagai penindasan dan dikriminasi memicu munculnya gerakan perlawanan etnis Uighur sejak era tahun 1990-an.

Xinjiang adalah kota di sebelah Barat wilayah China yang kaya akan sumber alam minyak, gas dan mineralnya. Xinjiang dulunya adalah tempat transit bagi para pedagang yang melewati Jalan Sutra yang menghubungkan China ke Eropa. (ln/aljz)

Genosida Mengancam Muslim Uighur


Genosida Mengancam Muslim Uighur
Kamis, 09/07/2009 17:02 WIB

Muslim Uighur di Xinjiang tidak punya pilihan lain selain bertahan dan melakukan perlawanan sebisa mungkin menghadapi amukan dan kebringasan etnis Han yang menyerang mereka. Tak jarang mereka harus lari menyelamatkan diri dari kejaran ribuan orang Han yang membawa tongkat pemukul dan senjata lainnya.

"Cari mereka (Uighur)! Serang! Serang! Serang!" teriak belasan orang Han dengan senjata siap di tangan, ketika melihat tiga lelaki Muslim Uighur lewat. Mendengar teriakan itu, ketiga lelaki Muslim itu ketakutan dan lari menyelamatkan diri. Tapi malang, salah satu diantara mereka berhasil tertangkap, kemudian dikeroyok dan dipukuli oleh sekelompok orang Han.

Pada saat yang sama, di tengah kota Urumqi, sekitar 20 orang perusuh dari etnis Han juga mengeroyok seorang lelaki Uighur dan dipukuli hingga nyaris tewas. Kondisi ini membuat Muslim Uighur yang tak berdaya khawatir akan keselamatan diri mereka.

"Terlalu banyak kebencian di sekeliling kami saat ini," kata Ali, seorang lelaki Uighur.

"Saya sangat takut untuk pulang ke rumah malam ini," kata Halisha, seorang Muslim Uighur yang berprofesi sebagai dokter mata. Ia pun memilih menginap di kliniknya yang kecil daripada harus pulang ke rumah di tengah situasi jalanan yang berbahaya.

Sejumlah saksi mata mengungkapkan, aparat keamanan China menangkap ribuan Muslim Uighur tapi tak satupun etnis Han yang terlibat kerusuhan ditangkap. Aparat China hanya mengusir etnis Han jika terlihat melakukan aksi anarkis dan kekerasan.

Organisasi-organisasi Muslim Uighur di pengasingan menyebut situasi di Xinjiang saat ini sebagai "genosida" terhadap warga Muslim Uighur. "Genosida sedang berlangsung terhadap komunitas Muslim Uighur. Otoritas pemerintah China harus bertanggung jawab atas kejahatan ini di hadapan dunia internasional," tukas Torgan Tozakhunov, deputi direktur Pusat Kebudayaan Uighur di Kazakhstan. (ln/iol)

Ribuan Warga Turki Sholat Ghaib dan Demo Mengecam Pemerintah China






Ribuan Warga Turki Sholat Ghaib dan Demo Mengecam Pemerintah China
Sabtu, 11/07/2009 06:16

Ribuan masyarakat Turki di masjid Fatih kota Istanbul tumpah ruah dalam amarah terhadap pemerintah rejim komunis China setelah 156 orang etnis Muslim Uighur tewas di wilayah provinsi Xinjiang.

Masyarakat melaksanakan sholat ghaib bagi muslim Uighur yang menjadi korban atas kerusuhan sebagai protes terhadap serangan etnis Han yang menyerang pekerja pabrik dari etnis Uighur, yang menewaskan dua orang serta melukai 118 orang lainnya.

Seorang ulama - Dr. Nedim Urhan memimpin sholat ghaib bagi muslim Uighur yang tewas dalam kerusuhan, ribuan warga Turki mengikuti prosesi sholat ghain tersebut di masjid Fatih di salah satu distrik kota Istanbul.

Setelah pelaksanaan sholat ghaib, terjadi demonstrasi besar-besaran mengutuk pembantaian yang terjadi di Xinjiang atau Turkistan timur sambil membakar bendera negara China.

Banyak wanita yang menghadiri sholat ghaib yang dilaksanakan setelah pelaksanaan Jumat tersebut, kebanyakan dari wanita itu adalah etnis Uighur yang telah tinggal di Turki. Mereka menangisi kematian saudara-saudara mereka di sana akibat kerusuhan.

Dengan keras para demonstran meneriakkan,"Umat Manusia, anda tidak bisa menutup mata anda," "Hidup Muslim Turkistan Timur" dan "Muslim di Turkistan Telah di Bantai".

Setelah doa bersama, LSM-LSM Turki membuat pernyataan bersama dan menuntut pemerintah dan masyarakat Islam untuk memboikot terhadap produk ekonomi asal China dari seluruh negeri-negeri Muslim.

Presiden dari Asosiasi solidaritas dan kebudayaan masyarakat Turkistan Timur - Hidayat Oguzhan mengucapkan banyak terima kasih terhadap dukungan serta sensitivitas masyarakat Turki.

Banyak LSM-LSM dan beberapa pihak yang mewakili organisasi kepemudaan ikut dalam demonstrasi yang dilaksanakan setelah sholat Jumat tersebut dan akhir dari demonstrasi ditutup dengan pembacaan doa.

Kepolisian China telah menahan 1434 etnis Muslim Uighur dua hari setelah tewasnya 156 dan melukai lebih dari 1000 orang sejak Muslim Uighur memulai demonstrasi di pusat kota Urumqi.

Pernyataan resmi dari pemerintah komunis China menyatakan bahwa 156 orang tewas akibat bentrok dengan aparat kepolisian pada kerusuhan tersebut, namun Kongres Dunia Uighur mengatakan etnis Uighur yang tewas lebih banyak dari itu, sekitar 600 sampai 800 orang, perkiraan tersebut berdasarkan saksi mata yang melihat langsung kejadian.(fq/wb)

Muslim Uighur Sudah Lama Tertekan

Muslim Uighur Sudah Lama Tertekan

Tindak kekerasan di Xinjiang tidak terjadi tiba-tiba. Akar penyebabnya adalah ketegangan etnis antara warga Uighur Muslim dan warga Cina etnis Han.

Masalah ini bisa dirunut balik hingga beberapa dekade, dan bahkan ke penaklukan wilayah yang kini disebut Xinjiang oleh Dinasti Qing Manchu pada abad ke-18.

Pada tahun 1940-an, muncul Republik Turkestan Timur di sebagian Xinjiang, dan banyak warga Uighur merasakan itu menjadi hak asasi mereka.

Namun, kenyataannya, mereka menjadi bagian Republik Rakyat Cina pada tahun 1949, dan Xinjiang dinyatakan sebagai salah satu kawasan otonomi Cina dengan mengesampingkan fakta bahwa mayoritas penduduk di sana pada saat itu orang Uighur.

Status otonomi tidak tulus, dan meski Xinjiang dewasa ini dipimpin oleh gubernur dari kalangan warga Uighur, orang yang memegang kekuasaan riil adalah sekretaris jenderal daerah Partai Komunis Cina , Wang Lequan, yang orang Cina etnis Han.

Perpindahan warga

Di bawah pemerintahan Partai Komunis, terjadi pembangunan ekonomi yang sangat gencar, namun kehidupan warga Uighur semakin sulit dalam 20-30 tahun terakhir akibat masuknya banyak warga Cina muda dan memiliki kecakapan teknis dari provinsi-provinsi di bagian timur Cina.

Para migran ini jauh lebih mahir berbahasa Cina dan cenderung diberi lapangan pekerjaan terbaik. Hanya sedikit orang Uighur berbahasa Cina.

Tidak mengejutkan, ini menimbulkan penentangan mendalam di kalangan warga Uighur, yang memandang perpindahan orang-orang Han ke Xinjiang sebagai makar pemerintah untuk menggerogoti posisi mereka, merongrong budaya mereka dan mencegah perlawanan serius terhadap keuasaan Beijing.

Dalam perkembangan yang lebih baru, anak-anak muda Uighur terdorong untuk meninggalkan Xinjiang untuk mendapatkan pekerjaan di belahan lain Cina, dan proses ini sudah berlangsung secara informal dalam beberapa tahun.

Ada kekhawatiran khusus atas tekanan pemerintah Cina untuk mendoroang wanita muda Uighur pindah ke bagian lain Cina untuk mendapatkan pekerjaan. Dan, ini memperkuat kekhawatiran bahwa mereka akhirnya akan bekerja di bar atau klub malam atau bahkan pelacuran tanpa perlindungan keluarga atau masyarakat mereka.

Islam adalah bagian integral kehidupan dan identitas warga Uighur Xinjiang, dan salah satu keluhan utama mereka terhadap pemerintah Cina adalah tingkat pembatasan yang diberlakukan oleh Beijing terhadap kegiatan keagamaan mereka.

Jumlah masjid di Xinjiang merosot jika dibandingkan dengan jumlah pada masa sebelum tahun 1949, dan institusi keagamaan itu menghadapi pembatasan yang sangat ketat.

Anak-anak di bawah usia 18 tahun tidak diizinkan beribadah di masjid. Demikian juga pejabat Partai Komunis dan aparat pemerintah.

Madrasah dibatasi

Lembaga-lembaga Islami lain yang dulu menjadi bagian sangat penting kehidupan kegamaan di Xinjiang dilarang, termasuk persaudaraan Sufi, yang berpusat di makam pendirinya dan menyediakan jasa kesejahteraan dan semacam kepada anggotanya.

Semua agama di Cina dikendalikan oleh Administrasi Negara untuk Urusan Agama, tapi pembatasan terhadap Islam di kalangan warga Uighur lebih keras daripada terhadap kelompok-kelompok lain, termasuk etnis hui yang juga muslim, tapi penutur bahasa Cina.

Ketatanya pembatasan itu akibat pertautan antara kelompok-kelompok muslim dan gerakan kemerdekaan di Xinjiang. Gerakan ini sangat bertentangan dengan posisi Beijing.

Ada kelompok-kelompok di dalam Xinjiang yang mendukung gagasan kemerdekaan, tapi mereka tidak diperkenakan mewujudkannya secara terbuka, sebab “memisahkan diri dari ibu pertiwi” dipandang sebagai penghianatan.

Pada dekade 1990-an, setelah ambruknya Uni Soviet dan munculnya negara-negara muslim independen di Asia Tengah, terjadi peningkatan dukungan terbuka atas kelompok-kelompok “separatis”, yang memuncak pada unjukrasa massal di Ghulja pada tahun 1995 dan 1997.

Beijing menindas unjukrasa dengan penggunaan kekuataan luar biasa, dan para akitvisi dipaksa keluar dari Xinjiang ke Asia Tengah dan Pakistan atau terpaksa bergerak di bawah tanah.

Iklim ketakutan

Penindasan keras sejak digulirkannya kampanye “Strike Hard” (Gebuk Keras” pada 1996 mencakup kebijakan memperketat pengendalian terhadap kegiatan agama, pembatasan pergerakan orang dan tidak menerbitkan paspor dan menahan orang-orang yang didicurigai mendukung separatis dan anggota keluarga mereka.

Ini menciptakan iklim ketakutan dan kebencian sangat kuat terhadap pemerintah Cina dan warga Cina etnis Han.

Mengejutkan bahwa kebencian ini tidak meledak menjadi kemarahan publik, dan unjukrasa sebelumnya, tapi itu dampak ketatnya kontrol yang diberlakukan Cina atas Xinjiang.

Ada banyak organisasi kaum pendatang Uighur di Eropa dan Amerika Serikat. Dalam banyak kasus mereka mendukung otonomi sejati bagi kawasan tanah asal mereka.

Di masa lalu, Beijing juga mempersalahkan Gerakan Islami Turkestan Timur memicu kerusuhan, meski tidak ada bukti bahwa gerakan ini pernah muncul di Xinjiang.

Aparat di Beijing tidak bisa menerima bahwa kebijakan mereka sendiri di Xinjiang mungkin penyebab konflik, dan berupaya mempersalahkan orang luar yang mereka tuding memicu tindak kekerasan. Itu juga terjadi dalam kasus Dalai Lama dan Tibet.

Kalau pun organisasi pelarian Uighur ingin menggerakan kerusuhan, tentu sangat sulit bagi mereka untuk melakukannya, dan ada banyak alasah lokal menjadi penyebab kerusuhan tanpa perlu ada campur tangan dari luar. (Republika 08/07/2009)

Turki Serukan Boikot Produk China


Turki Serukan Boikot Produk China
Jumat, 10/07/2009 17:45 WIB

Menteri Perdagangan dan Industri Turki Nihat Ergun menyerukan boikot terhadap produk China sebagai protes atas aksi kekerasan yang dilakukan etnis Han dan aparat China terhadap Muslim Uighur di Xinjiang. Sementara itu, Perdana Menteri Turki Recep Tayyib Erdogan menyatakan Turki siap menerima tokoh gerakan Muslim Uighur, Rabiya Kadeer jika ia diasingkan menyusul kerusuhan antar etnis di Xinjiang.

Dalam pernyataannya, Menteri perdagangan dan Industri Turki mengancam China dengan mengatakan, jika negara yang produk-produknya dikonsumsi oleh rakyat Turki tidak menghormati nilai-nilai kemanusiaan maka Turki akan meninjau kembali konsumsi produk-produk itu.

"Konsumen yang membeli sebuah produk harus tahu apakah negara yang memproduksi barang itu menghormati nilai-nilai kemanusiaan atau tidak," kata Ergun saat ditanya para wartawan tentang kerusuhan di Xinjiang.

Turki, negara yang paling keras mengkritik pemerintah China atas apa yang terjadi di Xinjiang. Turki menyatakan menghormati wewenang pemerintah China di Xinjiang, namun Turki juga punya hubungan budaya dengan Muslim Uighur karena Muslim Uighur masih banyak yang menggunakan bahwa Turki.

Erdogan juga mengatakan akan memberikan visa untuk Rebiya Kadeer, tokoh Muslim Uighur yang berada dalam pengasingan di AS. Menurut Rebiya, ia pernah dua kali mengajukan permohonan visa ke Turki tapi ditolak.

Sementara itu, arus pengungsian Muslim Uighur mulai mengalir. Warga Muslim meninggalkan ibukota Xinjiang, Urumqi untuk menghindari aksi-aksi kekerasan dari etnis Han China. Pemerintah China juga melarang Muslim Uighur untuk salat di masjid-masjid.

Di terminal bis Bayi, terlihat tumpukan penumpang yang jumlahnya diperkirakan mencapai 10.000 orang. Menurut seorang petugas terminal, jumlah ini dua kali lipat dari jumlah penumpang dalam situasi normal. Para pengungsi bercampur dengan para siswa sekolah yang akan pergi liburan musim panas. (ln/yn/asiaone)

Kaum Muslim Uighur Menangis


Kaum Muslim Uighur Menangis
Saturday, 11 July 2009 10:49

[Berita foto] Pasca 'pembantaian' etnis Muslim Uighur, kaum Muslim menangis di Masjid Dong Kuruq usai shalat Jumat kemarin. Sementar tentara China mengawasinya di depan pintu masjid. [foto: cbc]

Video Dan Foto Eksklusif Kerusuhan SARA Di China, Muslim Uighur dan Suku Han

Video Dan Foto Eksklusif Kerusuhan SARA Di China, Muslim Uighur dan Suku Han

Kerusuhan dan kekerasan antaretnis meletus di Tiongkok, terutama di Provinsi Xinjiang. Pertikaian yang melibatkan etnis muslim Uighur dan etnis Han itu pada Minggu lalu (5/7) menewaskan sedikitnya 160 orang dan menyebabkan 828 orang terluka. Insiden itu tejadi setelah ribuan demonstran turun ke jalan. Ratusan orang telah ditangkap.

Saksi mata mengungkapkan, kedua etnis saling menyerang dan menendang. Mereka menjadikan apa saja yang ada di sekitar mereka sebagai sasaran amukan. ”Lebih dari 260 kendaraan diserang dan dibakar. Sebanyak 203 toko juga dirusak,” ujar Wu Nong, direktur kantor berita milik pemerintah di Provinsi Xinjiang, seperti dikutip Associated Press, kemarin (6/7).

Kerusuhan itu bermula dari protes damai yang dilancarkan warga etnis Uighur. Mereka meminta keadilan terkait nasib dua warga Uighur yang tewas terbunuh dalam pertikaian dengan pekerja Han di sebuah pabrik di selatan Tiongkok sebelumnya. ”Kami saling meneriaki, tetapi tidak ada pertikaian dan kontak fisik saat itu,” tutur Yagupu, seorang di antara pendemo warga etnis Uighur di luar sebuah masjid.
Tentara berusaha membubarkan pengunjuk rasa

Tentara berusaha membubarkan pengunjuk rasa

Tanpa diketahui penyebabnya, kedua kubu yang tidak bisa menerima teriakan saling menyerang. Korban langsung berjatuhan. Seorang saksi mata mengaku melihat puluhan mayat tergeletak di dekat lokasi bazar. Kakharman Khozamberdi, pemimpin pergerakan politik Uighur di Kazakhstan, mengungkapkan bahwa suara tembakan terdengar semalaman.

Di tempat lain, saksi mata melihat protes skala kecil di Kashgar, kota terbesar kedua di Xinjiang, kemarin (7/7). Karena itu, pihak yang berwenang melakukan operasi pemeriksaan yang lebih ketat di perbatasan. Pemerintah juga memutuskan koneksi telepon dan internet di wilayah itu. Kalaupun bisa dipakai, akses internet berjalan sangat lambat.
Korban wanita terluka, berawal dari unjuk rasa damai kaum wanita

Korban wanita terluka, berawal dari unjuk rasa damai kaum wanita

Pembatasan akses atas video terkait pertikaian ditingkatkan. Misalnya, Urumqi dihapus sebagai kata kunci dari berbagai situs di Tiongkok, seperti Youku (mirip YouTube). Begitu juga dengan blogging, seperti Fanfou (microblogging Tiongkok) serta Twitter. Hal yang sama diberlakukan pada portal, seperti Sina.com, Sohu.com and 163.com.

Wilayah Uighur dikenal kaya dengan mineral dan minyak. Etnis Uighur memang merupakan mayoritas di Provinsi Xinjiang, tetapi tidak di ibu kota Urumqi. Tiongkok memberikan label beberapa kelompok separatis Uighur sebagai teroris.

Sementara itu, Rebiya Kadeer, mantan pengusaha Xinjiang yang saat ini tinggal di Washington, AS, dituduh sebagai yang bertanggung jawab dalam kerusuhan tersebut. ”Rebiya sempat bercakap-cakap dengan warga Tionghoa di Tiongkok pada 5 Juli lalu untuk menghasut. Selanjutnya, website seperti Uighurbiz.cn dan Diyarim.com digunakan untuk menyebarkan propaganda,” kecam Nur Bekri, gubernur Xinjiang, di stasiun televisi kemarin.
Rebiyaa Kadeer Dituduh Beijing sebagai dalang kerusuhan

Rebiya Kadeer Dituduh Beijing sebagai dalang kerusuhan

”Kita harus menyingkap topeng Rebiya dan juga membiarkan dunia melihat kebenarannya,” tambah Wang Lequan, seorang eksekutif Partai Komunis.

Peristiwa berdarah tersebut mendapat reaksi dari berbagai pihak. Sekjen PBB Ban Ki-moon meminta Tiongkok menggunakan cara-cara yang damai untuk menyelesaikan pertikaian etnis tersebut. Dia meminta semua pemerintahan juga melindungi kehidupan dan keamanan warga sipil yang ada.

Kecaman lebih keras disuarakan Alim Seytoff, wakil presiden Asosiasi Uighur-Amerika yang berpusat di Washington D.C. ”Kami meminta komunitas internasional mengutuk pembunuhan di Tiongkok terhadap warga Uighur yang tak bersalah,” desaknya.
Pihak berwenang Cina memberlakukan larangan keluar malam di Urumqi, ibukota Provinsi Xinjiang, menyusul kerusuhan besar oleh warga Uighur setempat dan unjuk kekuatan oleh warga suku Han Cina.

Massa warga Cina etnis Han berarak di kota Urumqi, sementara ketegangan antara kelompok etnis dan polisi meningkat.
Berawal dari unjuk rasa damai menjadi kerusuhan massa yang tidak terkendali

Berawal dari unjuk rasa damai menjadi kerusuhan massa yang tidak terkendali

Massa warga Han tampak membawa parang dan tongkat serta bermacam senjata lain saat berarak di kota Urumqi.
Aparat keamanan menembakkan gas air mata untuk membubarkan warga Cina yang menyatakan mereka memprotes tindak kekerasan yang dilakukan oleh warga etnis Uighur Muslim.

Sebelumnya, ratusan wanita Uighur berunjukrasa atas penahanan lebih dari 1.400 orang berkaitan dengan bentrokan berdarah hari Minggu.
Kedua pihak saling mempersalahkan atas pecahnya tindak kekerasan.

Jumlah warga Cina Han yang berarak di kota Urumqi mencapai ratusan, mungkin ribuan. Mereka berjalan dengan bersenjata tiang besi dan tongkat bambu
Korban tewas di berbagai jalan utama

Korban tewas di berbagai jalan utama

Mereka meneriakkany yel-yel bahwa mereka akan melindungi Xinjiang, melindungi diri dan rumah mereka, dan juga berpekik “mampuslah orang Uighur”.
Wartawan BBC melaporkan, balabantuan polisi dan tentara tampak dikerahkan di sana.

Meski masih ada orang-orang Cina Han berkeliaran dengan senjata di tangan, banyak tampaknya sudah pulang.

Aparat Cina mengatakan, 156 orang, kebanyakan warga Cina etnis Han, meninggal dalam tindak kekerasan yang terjadi hari Minggu ketika massa demonstran Uighur menyerang kendaraan sebelum melabrak warga Cina Han setempat dan menghadapi pasukan keamanan di ibukota provinsi Xinjiang, Urumqi.
Korban Kerusuhan bernuansa SARA

Korban Kerusuhan bernuansa SARA

Kelompok-kelompok warga Uighur mengatakan, lebih banyak lagi orang tewas dalam kerusuhan dan menyatakan 90% korban tewas orang Uighur.
Kerusuhan tampaknya dipicu oleh perkelahian antara orang Uighur dan Cina Han beberapa pekan lalu di sebuah pabrik mainan yang berlokasi ribuan kilometer di Provinsi Guangdong.

Hari Selasa sekitar 200 orang Uighur, yang kebanyakan wanita, menghadapi polisi untuk meminta lebih dari 1.400 orang ditahan atas tindak kekerasan hari Minggu dibebaskan.

Polisi Cina menangkap 1.434 orang karena kerusuhan di Propinsi Xinjiang, demikian laporan media resmi Cina.
Kerusuhan Etnis Di Cina, diduga disebabkan kesenjangan sosial antara suku

Kerusuhan Etnis Di Cina, diduga disebabkan kesenjangan sosial antara suku

Kerusuhan pecah hari Minggu di Urumqi, ibu kota Xinjiang, menyebabkan 156 tewas dan lebih dari 800 terluka.

Hari Senin, kerusuhan itu menyebar ke kota kedua.

Polisi membubarkan aksi protes yang baru di Kashgar, mengusir lebih dari 200 “perusuh” di masjid utama.

Beijing menuduh etnik Muslim Uighur penyebab kekerasan, namun orang Uighur di pengasingan nmengatakan, polisi yang menembaki mahasiswa.
Korban berjatuhan di berbagai penjuru kota

Korban berjatuhan di berbagai penjuru kota
Foto foto para korban kerusuhan SARA di Cina

Foto foto para korban kerusuhan SARA di Cina


Pemicu Kerusuhan SARA
Tindak kekerasan di Xinjiang tidak terjadi tiba-tiba. Akar penyebabnya adalah ketegangan etnis antara warga Uighur Muslim dan warga Cina etnis Han.

Masalah ini bisa dirunut balik hingga beberapa dekade, dan bahkan ke penaklukan wilayah yang kini disebut Xinjiang oleh Dinasti Qing Manchu pada abad ke-18.

Pada tahun 1940-an, muncul Republik Turkestan Timur di sebagian Xinjiang, dan banyak warga Uighur merasakan itu menjadi hak asasi mereka.

Namun, kenyataannya, mereka menjadi bagian Republik Rakyat Cina pada tahun 1949, dan Xinjiang dinyatakan sebagai salah satu kawasan otonomi Cina dengan mengesampingkan fakta bahwa mayoritas penduduk di sana pada saat itu orang Uighur.
Shalat Berjamaah di salah satu masjid utama di

Shalat Berjamaah di salah satu masjid utama di Propinsi Xinjiang

Status otonomi tidak tulus, dan meski Xinjiang dewasa ini dipimpin oleh gubernur dari kalangan warga Uighur, orang yang memegang kekuasaan riil adalah sekretaris jenderal daerah Partai Komunis Cina , Wang Lequan, yang orang Cina etnis Han.

Perpindahan warga

Di bawah pemerintahan Partai Komunis, terjadi pembangunan ekonomi yang sangat gencar, namun kehidupan warga Uighur semakin sulit dalam 20-30 tahun terakhir akibat masuknya banyak warga Cina muda dan memiliki kecakapan teknis dari provinsi-provinsi di bagian timur Cina.

Para migran ini jauh lebih mahir berbahasa Cina dan cenderung diberi lapangan pekerjaan terbaik. Hanya sedikit orang Uighur berbahasa Cina.

Tidak mengejutkan, ini menimbulkan penentangan mendalam di kalangan warga Uighur, yang memandang perpindahan orang-orang Han ke Xinjiang sebagai makar pemerintah untuk menggerogoti posisi mereka, merongrong budaya mereka dan mencegah perlawanan serius terhadap keuasaan Beijing.

Dalam perkembangan yang lebih baru, anak-anak muda Uighur terdorong untuk meninggalkan Xinjiang untuk mendapatkan pekerjaan di belahan lain Cina, dan proses ini sudah berlangsung secara informal dalam beberapa tahun.

Ada kekhawatiran khusus atas tekanan pemerintah Cina untuk mendoroang wanita muda Uighur pindah ke bagian lain Cina untuk mendapatkan pekerjaan. Dan, ini memperkuat kekhawatiran bahwa mereka akhirnya akan bekerja di bar atau klub malam atau bahkan pelacuran tanpa perlindungan keluarga atau masyarakat mereka.

Islam adalah bagian integral kehidupan dan identitas warga Uighur Xinjiang, dan salah satu keluhan utama mereka terhadap pemerintah Cina adalah tingkat pembatasan yang diberlakukan oleh Beijing terhadap kegiatan keagamaan mereka.

Jumlah masjid di Xinjiang merosot jika dibandingkan dengan jumlah pada masa sebelum tahun 1949, dan institusi keagamaan itu menghadapi pembatasan yang sangat ketat.

Anak-anak di bawah usia 18 tahun tidak diizinkan beribadah di masjid. Demikian juga pejabat Partai Komunis dan aparat pemerintah.

Madrasah dibatasi

Lembaga-lembaga Islami lain yang dulu menjadi bagian sangat penting kehidupan kegamaan di Xinjiang dilarang, termasuk persaudaraan Sufi, yang berpusat di makam pendirinya dan menyediakan jasa kesejahteraan dan semacam kepada anggotanya.

Semua agama di Cina dikendalikan oleh Administrasi Negara untuk Urusan Agama, tapi pembatasan terhadap Islam di kalangan warga Uighur lebih keras daripada terhadap kelompok-kelompok lain, termasuk etnis hui yang juga muslim, tapi penutur bahasa Cina.

Ketatanya pembatasan itu akibat pertautan antara kelompok-kelompok muslim dan gerakan kemerdekaan di Xinjiang. Gerakan ini sangat bertentangan dengan posisi Beijing.

Ada kelompok-kelompok di dalam Xinjiang yang mendukung gagasan kemerdekaan, tapi mereka tidak diperkenakan mewujudkannya secara terbuka, sebab “memisahkan diri dari ibu pertiwi” dipandang sebagai penghianatan.

Pada dekade 1990-an, setelah ambruknya Uni Soviet dan munculnya negara-negara muslim independen di Asia Tengah, terjadi peningkatan dukungan terbuka atas kelompok-kelompok “separatis”, yang memuncak pada unjukrasa massal di Ghulja pada tahun 1995 dan 1997.

Beijing menindas unjukrasa dengan penggunaan kekuataan luar biasa, dan para akitvisi dipaksa keluar dari Xinjiang ke Asia Tengah dan Pakistan atau terpaksa bergerak di bawah tanah.

Iklim ketakutan

Penindasan keras sejak digulirkannya kampanye “Strike Hard” (Gebuk Keras” pada 1996 mencakup kebijakan memperketat pengendalian terhadap kegiatan agama, pembatasan pergerakan orang dan tidak menerbitkan paspor dan menahan orang-orang yang didicurigai mendukung separatis dan anggota keluarga mereka.

Ini menciptakan iklim ketakutan dan kebencian sangat kuat terhadap pemerintah Cina dan warga Cina etnis Han.

Mengejutkan bahwa kebencian ini tidak meledak menjadi kemarahan publik, dan unjukrasa sebelumnya, tapi itu dampak ketatnya kontrol yang diberlakukan Cina atas Xinjiang.

Ada banyak organisasi kaum pendatang Uighur di Eropa dan Amerika Serikat. Dalam banyak kasus mereka mendukung otonomi sejati bagi kawasan tanah asal mereka.

Di masa lalu, Beijing juga mempersalahkan Gerakan Islami Turkestan Timur memicu kerusuhan, meski tidak ada bukti bahwa gerakan ini pernah muncul di Xinjiang.

Aparat di Beijing tidak bisa menerima bahwa kebijakan mereka sendiri di Xinjiang mungkin penyebab konflik, dan berupaya mempersalahkan orang luar yang mereka tuding memicu tindak kekerasan. Itu juga terjadi dalam kasus Dalai Lama dan Tibet.

Kalau pun organisasi pelarian Uighur ingin menggerakan kerusuhan, tentu sangat sulit bagi mereka untuk melakukannya, dan ada banyak alasah lokal menjadi penyebab kerusuhan tanpa perlu ada campur tangan dari luar.
Sumber: Jawapos, BBC,Republika, Xinhua,AFP, AP,Dailymail

"Perang Salib" Cina terhadap Muslim di Xinjiang

‘Perang Salib’ Cina terhadap Muslim di Xinjiang
http://hizbut-tahrir.or.id/2009/07/10/%E2%80%98perang-salib%E2%80%99-cina-terhadap-muslim-di-xinjiang/


Dalam perkembangan terakhir di Xinjiang lebih 150 warga tewas dan 1434 dipenjara, artikel ini akan mengupas bagaimana Islam memasuki Cina dan penindasan terhadap muslim oleh rezim pemerintahan Cina. Artikel ini merupakan kompilasi dari publikasi sebelumnya di majalah Khilafah di bulan Maret 1997.

Sejarah Muslim

Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan menjadi rahmat bagi seluruh alam [Al-Anbiyaa, 21:107]

Risalah yang diemban Nabi Muhammad akan mendominasi dunia. Sesuai dengan visi ini para Sahabah yang meneruskan garis perjuangan Nabi berupaya untuk memperluas tapal batas wilayah Negara Islam semakin jauh ke depan. Dengan pandangan untuk mencapai tujuan yang mulia untuk menaungi dunia dengan risalah yang suci, Khalifah Uthman ibn Affan memulai kontak dengan Cina. Setelah menundukkan Romawi dan Persia, Khalifah Uthman bin Affan mengirim delegasi yang dipimpinm Sa’ad ibn Abi Waqqas ra (paman Nabi Saaw) ke Cina pada tahun 29 H (651 M). Misi delegasi ini adalah mengundang kaisar Cina untuk memeluk Islam.

Masjid pertama di Cina dan Pendatang Muslim

Delegasi muslim lalu membangun Masjid di kota Kanton. Masjid ini dikenal hingga hari ini sebagai ‘Masjid Memorial’. Ada beberapa laporang yang mengatakan bahwa Sa’ad juga dikubur di Cina. Selama bertahun-tahun aktifitas perdagangan di Cina, membawa pendatang muslim yang berprofesi sebagai pedagang dan pelaut. Daerah dimana para pendatang muslim tersebut bermukin dikenal sebagai pelabuhan Chen Aan pada masa Dinasti Tang.

Dari sini mulai tumbuh benih kebencian terhadap muslim di Cina. Akan tetapi keberadaan Khilafah, memelihara berkobarnya semangat jihad di antara umat. Maka tidak ada satupun penindasan yang dibiarkan begitu saja kecuali dengan jihad fii sabilillah. Salah satu perang yang berkobar di perbatasan Cina terjadi di tahun 1334H, dimana Ziyad memimpin pasukan jihad. Meski berjumlah lebih sedikit, dengan bantuan Allah SWT, pasukan muslim berhasil menggempur Cina dengan telak. Setelah itu, Muslim pun dihormati sebagai kekuatan yang diperhitungkan hingga mampu mengontrol sebagian besar Asia Tengah. Di tahun 138H, Khalifah Mansur juga mengirim ke sana tidak kurang dari 4000 pasukan muslim bersenjata lengkap sebagai simbol kekuatan adidaya.

Mutiara Rahmat

Kemenangan demi kemenangan ini membuka pintu Cina bagi muslim untuk menyebarkan keindahan dan kebenaran Islam. Dengan demikian kemenangan itu pun terkonsolidasi dengan mengikut metoda Islam. Muslim yang berpindah dan bermukim di Cina juga menikahi gadis Cina. Pendatang muslim generasi awal ini pun juga mendirikan mesjid, sekolah, dan madrasah. Di perkotaan, para ulama mendominasi. Madrasah menjadi tempat menimba ilmu bagi banyak pelajar. Pelajar pun datang dari berbagai wilayah termasuk Rusia dan India, sehingga benar-benar menjadi arti harfiah dari ungkapan ‘Belajarlah hingga ke Cina.” Di tahun 1790an, menurut tradisi, ada sekitar 30 ribu pelajar muslim. Kota Bukhara yang saat itu masih merupakan bagian dari Cina, menjadi terkenal dengan julukan sebagai ‘Pilar Islam.’ Di kota inilah, Imam Bukhari lahir dan dikenal sebagai ahli hadits atau Muhaditsiin.

Jihad menghadapi Ancaman

Pendatang muslim generasi awal di Cina mengalami berbagai kesulitan dan penindasan. Pemerintah Dinasti Manchu (1644-1911) adalah rezim terburuk dan terbrutal yang pernah mempersulit kehidupan umat Islam. Tidak kurang dari 5 kali peperangan dikobarkan Dinasti Manchu terhadap muslim

(1) Perang Lanchu 1820-28
(2) Perang Che Kanio 1830
(3) Perang Sinkiang 1847
(4) Perang Yunan 1857
(5) Perang Shansi 1861

Masa ini adalah masa kebencian Manchu terhadap Islam dan Muslim. Pada zamannya, Muslim dibantai dan Masjid diratakan dengan tanah. Saat itu kaum muslimin masih dipimpin oleh umat yang tidak diam begitu saja tapi mengobarkan jihad terhadap ancaman brutal seperti itu. Salah satu komandan militer umat Islam Yaqoob Beg (1820-77) membebaskan Turkestan dan memerintah dengan aturan Islam di sana. Khalifah yang berkuasa masa itu juga mengakui perjuangan Beg sebagai perjuangan Islam dan gembira dengan berita kemenangannya. Di masa kekuasaannya Beg juga berhasil menghapus tindak kejahatan kekerasan.

Pejabat Rusia dan Inggris sangat khawatir terhadap naik daunnya kekuatan Islam dan mengatakan bahwa kekuatan Islam yang muncul di Asia Tengah, meliputi propinsi-propinsi Yunan, Szechawan, Shensi dan Kansu. Salah satu pejabat Inggris berkata,” Di hadapan kita saat ini ditengah-tengah wilayah yang jauh dari mana-mana nampak tanda-tanda akan adanya kebangkitan besar umat Islam.”

Permusuhan Cina terhadap Islam

Sejak Komunis menguasai wilayah muslim Turkistan Timur (yang oleh kaum komunis dinamai XingXang atau ‘Wilayah Baru’) di tahun 1949, nampaknya terjadi pemutusan komunikasi total sehingga tidak diketahui berita apa saja yang terjadi di sana. Ada dugaan terjadi pembersihan massal ala Stalin di Rusia, namun apa persisnya tidak diketahui pasti. Kunjungan terakhir oleh koresponden majalah Khilafah ke Beijing di tahun 1992 melaporkan adanya penindasan terhadap umat Islam di sana. Saat itu terjadi ketegangan sesama penduduk Turkistan Timur di Beijing. Di sekitar Beijing ada daerah yang sering dikunjungi oleh pedagang Turkistan, yang sebagian besar adalah pedagang sutra, yang dikenal sebagai Kanjacou. Kebencian mereka terhadap petugas pemerintah Cina yang sedang lalu lalang pun nampak, dimana terungkap dengan kata-kata “Kafir, Kafir! Jihad, Jihad!”

Penyelidikan yang semakin dalam menunjukkan mimpi buruk yang sedang dialami kaum muslim di Turkistan Timur. Seseorang diburu polisi karena ‘kejahatannya’ mengajarkan Qur’an ke anak-anak. Sering juga terjadi razia terhadap umat Islam di Beijing. Hal ini terjadi di Beijing, entah di tempat lain, apalagi di Turkistan Timur yang sangat tidak bisa dibayangkan. Penindasan terhadap umat Islam di sana nampaknya memiliki satu tujuan: menghapus identitas Islam dari umat muslim.
Tidak lama setelah komunis mengambil alih kekuasaan di tahun 1949, pemerintah Mao membagi umat Islam ke dalam identitas suku bangsa, sehingga umat dipecah menurut ras mereka, dan bukan lagi oleh kesamaan aqidah, yaitu ‘identitas keislamannya’. Menurut statistik kependudukan di tahun 1936, pemerintahan Kuomintang Republik Cina saat itu memperkirakan jumlah warga muslim sebesar 48.104.240 orang. Sejak diberlakukannya kebijakan Mao, angka tersebut menurun menjadi 10 juta warga saja. Tidak ada penjelasan resmi, kemana hilangnya 38 juta nyawa. Pembersihan massal seperti ini sangat luarbiasa dan membuat apa yang terjadi di Tibet tidak ada apa-apanya. Padahal Barat begitu getolnya membela hak asasi pendeta dan dalai lama Tibet akibat pendudukan Cina di sana dan juga peristiwa Tiannamen Square, tapi tidak pernah mengucurkan air mata untuk nasib umat Islam.

Di samping penghilangan secara fisik, Muslim juga sering dihujani dengan serangan yang mengancam identitas keislaman mereka. Masa Revolusi Budaya (1966-76) menunjukkan bagaimana brutalnya kebijakan dan sikap kaum Komunis. Ini terlihat dari poster yang terpampang di Beijing saat itu di tahun 1966, yang menyerukan penghapusan ritual Islam.

Muslim juga dilarang untuk mempelajari bahasa tulis semasa Revolusi Budaya tersebut. Bahasa tulis muslim di sana memiliki unsur huruf Arab dan dipengaruhi oleh Arab, Turki dan Farsi. Kebijakan ini sangat bahaya karena memisahkan muslim dari bahasa Arab, bahasa Qur’an dan Negara Islam. Taktik seperti ini memang sering dipraktikkan oleh musuh-musuh Islam termasuk Mustapha Kamal, seorang laki-laki yang menghapus Khilafah. Pada masa ini, kaum komunis menutup Masjid dan menyebarkan fitnah tentang Islam dan muslim .

Saat ini kita bisa lihat dari kerusuhan yang terjadi di Turkistan Timur, dimana perlawanan umat terhadap kaum komunis masih menyala. Komunis pun menyadari bahwa semangat kaum muslim tidak mudah dipatahkan, maka mereka pun mengambil kebijakan yang bertujuan untuk menekan Islam sebagai pandangan hidup dengan mendorong berdirinya organisasi dan institut islam yang tidak lain hanya sekedar boneka yang dikendalikan penguasa. Kebijakan licik seperti ini juga dipakai oleh rezim yang berkuasa di Yordania, Sudan dan Kuwait dengan ‘membiarkan’ kaum ‘islamist’ untuk memasuki pemerintahan untuk meredam keinginan umat yang menuntut untuk menerapkan syariah secara total. Contoh di Cina nampak terlihat jelas dengan didirikannya Institut Teologi Islam dan Pusat Asosiasi Islam Cina, dimana keduanya menerima dana dan legitimasi dari pemerintah. Di samping melakukan aktifitas yang pro-kebijakan pemerintah Cina, mengorganisir Haji, para pekerja di kedua organisasi ini diseleksi dengan ketat sekali. Artinya, pemerintah Cina juga tidak ingin bahwa berita tentang penindasan terhadap umat Islam di sana tidak sampai terdengar oleh umat Islam di seluruh dunia.

Sejak terjadinya Revolusi Budaya, properti Wakaf juga disita dan masjid diduduki paksa. Kampanye yang didukung pemerintah membidik sebagian pimpinan umat Islam sebagai tokoh ‘reaksioner’ dan ‘anti rakyat’. Kebijakan untuk membersihkan etnik (baca: muslim) pun masih berlansung. Etnik Han (mayoritas etnik di Cina, yang kafir) mulai banyak bertransmigrasi ke Turkestan Timur untuk memastikan adanya mayoritas non-muslim di sana. Pada tahun 1949 hanya ada 2-3% etnik Han di sana, namun kini mereka mencapai 38%.

Perlawanan masih berlangsung

Meski ditindas oleh tirani pemerintah Cina, muslim di Turkestan Timur masih bertahan. Anak-anak muda mengenakan kalung berlogo bulan bintang, yang mirip dengan simbol yang digunakan Khilafah Uthmani di masa lalu. Mengenakan kalung ini bisa berakibat penjeblosan ke penjara. Di daerah Kajacou di Beijing, seorang muslim ditanya tentang anak-anaknya, yang ia jawab ada 6. Angka ini sangat tinggi karena hukum di Cina mengatakan bahwa muslim di Turkistan Timur hanya boleh punya anak 2 saja! Muslim juga bangga dengan semua hal Islami. Di Kanjacou, ketika mereka mendapat 1 kaset bacaan Quran, maka esoknya kaset itu sudah tersebar kopi-annya. Sikap seperti sempat menyulut demonstrasi masif di tahun 1953 yang memproklamirkan propinsi Islam yang merdeka di wilayah Cina tersebut. Tentu ini mengundang reaksi yang keras dari pemerintah Cina. Namun demikian, ini menunjukkan bahwa umat pun masih tidak menyerah begitu saja. Ikatan dan kecenderungan setiap muslim untuk menjadi bagian dari umat Islam dunia yang lebih besar merupakan bukti penolakan mereka terhadap sistem komunis dan juga menunjukkan bahwa penindasan apapun yang pemerintah Cina perlakukan terhadap mereka tidak akan menggoyahkan semangat juang. Sebagaimana pejabat Cina mengatakan,’ Seperti menikam mereka dengan pisau, mereka tidak akan pernah lupa dengan lukanya.’

Dan juga kita tidak akan boleh lupa dan biarkan mereka semua tahu bahwa Khalifah di masa yang tidak lama lagi, insya ALLAH, akan mengirim pasukan Mujahidin yang siap membela Islam tepat di halaman depan Cina itu sendiri.

(Rusydan : http://www.khilafah.com/index.php/concepts/islamic-culture/6938-chinas-crusade-against-the-muslims-of-xinjiang)

Sekolah Islam Ditutup Paksa Otoritas Cina

Sekolah Islam Ditutup Paksa Otoritas Cina
http://hizbut-tahrir.or.id/2009/04/01/sekolah-islam-ditutup-paksa-otoritas-cina/

Umat Muslim di Kota Hotan, Provinsi Xinjiang, Cina, kembali mendapat perlakuan buruk dari otoritas Partai Komunis Cina (PKC). Kongres Uighurs Dunia, sebuah organisasi perjuangan umat Muslim Uighurs, mengungkapkan, otoritas Cina telah menutup paksa sekolah-sekolah Islam dan menggeledah rumah-rumah penduduk di Kota Hotan pada malam hari.

Penduduk Hotan umumnya adalah etnis Uighurs yang beragama Islam. Masyarakat Muslim yang tinggal di wilayah Jalan Sutera itu selama bertahun-tahun berada dalam tekanan dan intimidasi otoritas PKC. Selain dilarang melaksanakan aktivitas keagamaan, Muslim di wilayah itu juga kerap dituduh dan dicurigai sebagai teroris.

Menurut Juru Bicara Kongres Uighurs Dunia, Dilxat Raxit, pasukan tentara dan polisi Cina telah menciptakan ketakutan. Menurut Raxit, pada malam hari, aparat menggeledah rumah-rumah. Selain itu, papar dia, tak kurang dari tujuh sekolah agama ditutup secara paksa. ”Sejauh ini sebanyak 39 Muslim ditangkap tanpa alasan yang jelas,” tutur Raxit.

Kantor berita resmi RRC, Xinhua News Agency, awal bulan ini melaporkan otoritas Hotan telah meluncurkan sebuah program perlawanan terhadap ‘aktivitas keagamaan yang ilegal’. Menurut Xinhua, otoritas PKC di kota itu telah menutup sekolah-sekolah Islam yang dinilai ilegal. Tak hanya itu, penguasa Cina juga menyita buku-buku, tulisan, compact disk, dan rekaman audio.

Namun, seorang pejabat Departemen Propaganda PKC membantah telah menutup sekolah dan menangkap warga Muslim serta menyita peluru dan bahan peledak. Pejabat itu hanya mengatakan, telah menghentikan aktivitas keagamaan ilegal serta menyita buku-buku, tulisan, compact disk, serta rekaman audio ilegal.

Otoritas PKC telah melakukan tindakan represif terhadap Muslim Uighurs yang tinggal di Provinsi Xinjiang. Setahun lalu, ratusan Muslim di Hotan sempat memprotes kebijakan Cina yang melarang wanita Muslim berjilbab. Selama 2008, sekitar 1.300 Muslim Uighurs ditangkap otoritas Cina. Bahkan, 17 orang di antaranya dijebloskan ke penjara Guantanamo.

Baru-baru ini, otoritas PKC juga berupaya mengusir dan memusnahkan identitas dan budaya Muslim Uighurs yang tinggal di Kashgar. Dengan alasan sudah terlalu padat, Rezim PKC telah berencana untuk ‘mengusir’ sekitar 50 ribu umat Muslim dari kota tua Kashgar. Kota Kashgar dihuni sekitar 220 ribu jiwa. Mereka dipindahkan penguasa Cina ke bangunan modern.

Padahal, bangunan tua khas Uighurs itu telah dirawat secara baik-baik oleh umat Muslim di wilayah itu. Bangunan yang terbuat dari bata lumpur itu merupakan identitas dan budaya masyarakat Muslim. Sebanyak 100 keluarga telah dipaksa pindah dan harus menempati rumah yang dibangun pemerintah.

”Bangunan-bangunan itu justru sangat kaya dengan ilmu pengetahuan,” papar Prof Wu Dianting, seorang guru besar perencanaan wilayah pada Fakultas Geografi, Beijing Normal University. (republika online)

Saturday, June 27, 2009

Kerangka Berpikir

Kerangka berpikir sebenarnya dibuat untuk menghindari kesalahan-kesalahan dalam berargumentasi (fallacy). Beberapa contoh fallacy ini antara lain:

"Inconsistent": Contohnya si A bilang "Sirah dan hadits tidak bisa dipercaya karena banyak isinya yang tidak masuk akal". Tapi ketika A ditanya dari mana ia tahu adanya seorang Nabi yang bernama Muhammad, atau dari mana ia tahu Qur'an yang ia percayai terjaga kemurniaannya sejak zaman Nabi sampai sekarang, bila si A menjawab dengan basis sirah dan hadith, ini namanya inkonsistensi. Kalau tidak percaya sirah dan hadits, mengapa masih dipakai untuk dasar keimanannya?

Contoh lainnya adalah sikap misionaris yang ketika menghujat Nabi SAW dengan leluasa menggunakan cuplikan-cuplikan hadits dan sirah sesukanya (Nabi berpoligami, kisah-kisah dalam peperangan beliau, dlsb). Tapi ketika ditunjukkan hadits dan sirah dari sumber yang sama, yang menunjukkan tanda-tanda kenabian Nabi seperti mu'jizat-mu'jizat beliau, mereka berkomentar bahwa hadits dan sirah tidak bisa dipercaya karena dibukukan jauh sesudah Nabi wafat. Kalau tidak bisa dipercaya, mengapa tadi masih dipakai untuk menghujat Nabi?

Contoh lainnya adalah sikap yang membenarkan semua pendapat yang pada kenyataannya jelas-jelas berbeda. Kalau ada orang yang bilang "Semua interpretasi atau tafsiran agama adalah sah-sah saja dan benar adanya karena kebenaran itu relatif sifatnya", maka ia harus bisa konsisten untuk tidak menyalahkan pendapat yang menghalalkan terorisme membunuh orang-orang tak berdosa, atau pendapat-pendapat yang menghalalkan sex bebas, incest, dlsb, dengan alasan selama suka sama suka dan tidak merugikan orang tidak ada salahnya. Apakah dua pendapat yang berbeda, yang satu bilang halal, yang lain bilang haram, benar kedua-duanya? Kalau kita mau jujur, kita akan mengakui bahwa "logical circuit" dalam otak kita jelas menolaknya.

"Incomprehensive": Si A bilang "Orang Islam diajarkan Qur'an ayat 5:51 untuk membenci dan dilarang berteman dengan orang-orang non-Muslim." Selain harus memiliki pengetahuan akan makna kata-kata, context maupun historical perspectives, si A sebelum mengeluarkan penafsirannya akan ayat tsb seharusnya tahu ada ayat-ayat Al Qur'an lain yang menjelaskan lebih jauh mengenai hal serupa, misalnya 60:8. Pengetahuan yang partial terhadap hal-hal ini akan menyebabkan kesalahan dalam mengambil kesimpulan.

"Out-of-context": Si A bilang "Dalam Al Qur'an ayat 9:5, orang Islam diperintahkan membunuh orang-orang musyrik di mana saja mereka jumpai". Si A seharusnya tahu konteks diturunkannya ayat tsb sebelum mengambil kesimpulan demikian (yaitu peperangan Nabi dengan orang-orang kafir Quraisy serta sekutu-sekutu mereka yang memerangi umat Islam saat itu).

"Generalization": Ini serupa dengan pepatah "Karena nila setitik rusak susu sebelanga". Si A menuduh Islam sebagai agama teroris karena di antara pemeluk-pemeluknya tidak sedikit melakukan aksi terorisme dengan dalih agama. Si A seharusnya tahu bahwa kalau dilihat persentasinya, mayoritas umat Islam adalah umat yang cinta damai dan tetap berpegang teguh pada prinsip-prinsip agama yang jelas-jelas melarang aksi terorisme. Apakah orang-orang Kristen di barat rela kalau agamanya dituduh sebagai agama penjajah "gold-glory-gospel" karena perlakuan sebagian kelompok mereka terhadap bangsa-bangsa di dunia?

"Double-standard": Si A yang beragama Kristen bilang "Islam adalah agama palsu karena Nabinya berpoligami". Seharusnya si A tahu bahwa Nabi-nabi yang diakui dalam agamanya sendiri berpoligami. Atau si B yang mengutuk pembunuhan orang-orang tak bersalah sebagai perbuatan terorisme, tapi di lain waktu si B tidak mengutuk pembunuhan serupa malah melabelnya sebagai "collateral damage". Dengan menggunakan standard yang sama, pembunuhan orang-orang tak bersalah akan selalu dikutuk sebagai tindakan terorisme, tidak peduli siapa korban dan siapa pelakunya.

"Straw-man" : menyerang argument yang sudah diubah bentuknya (biasanya dicampur "half-truth" atau "twisted-truth"). Misalnya si A menuduh "Al Qur'an merendahkan status wanita di bawah status laki-laki". Meskipun dalam Qur'an disebutkan "Laki-laki adalah pelindung/pemimpin kaum wanita" ini tidak berarti di dalam Islam status wanita itu lebih rendah dari status laki-laki karena masing-masing memiliki role yang berbeda dalam pandangan Allah SWT.

"Red-herring" : mengalihkan subject sehingga bukan membahas argument yang tengah didiskusikan, tapi argument lainnya. Misalnya, ketika si A ditanya tentang kontradiksi di dalam Bible, bukannya menjawab pertanyaan tsb, si A malah membawa tuduhan banyaknya kontradiksi di dalam Qur'an.

"Appeal to authority": Si A bilang ke si B "Argument anda pasti salah karena berlawanan dengan pendapat seorang professor yang ahli dalam bidang ini". Si A sudah men-shut-off the discussion hanya dengan merefer ke authority yang dipercayainya, tanpa menjelaskan argument si professor yang disebutnya tadi.

"Ad-hominem" (argument to the man): bukan argumentnya yang dibahas, tapi yang diserang adalah pribadi lawan debat yang tidak berhubungan dengan argument yang didebatkan. Misalnya, "Pendapat si A itu sudah pasti salah karena si A itu tidak pernah sekolah di pesantren", atau "Ah, pendapat si B yang playboy kayak gitu kok dibahas!". Padahal logis tidaknya suatu argument tidak bisa ditentukan dari pribadi orang yang berargument. Dalam beargumentasi, yang harus dilihat adalah argumentnya, jangan diserang orangnya.

etc.

Kerangka berpikir hanyalah "tool" (framework) yang bisa digunakan dalam proses berpikir kita, yang tidak hanya berhubungan dengan masalah-masalah agama, tapi juga masalah-masalah dalam hidup lainnya. Karena hanya general framework untuk proses berpikir, ia bisa dipakai oleh siapa saja. Karena itu sayang kalau ketika berdiskusi dengan orang-orang non-Muslim orang-orang Islam tidak memahami framework ini. Mungkin dengan mengetahui kerangka dasar dalam berpikir dan berargumentasi macam ini, metode dalam memahami permasalahan dan perbedaan pandangan dalam agama dapat dimengerti, sehingga diskusi-diskusi maupun debatdebat dalam memahami agama dapat berjalan dengan baik, dengan menganalisa argument masing-masing pihak yang berbeda, tanpa menyerang pribadi, sehingga pertikaian dan perpecahan yang tidak diinginkan bersama bisa dihindari.

Sudah bukan zamannya lagi menuduh kaum Muslimin “anti-Pancasila”

Sudah bukan zamannya lagi menuduh kaum Muslimin “anti-Pancasila”.
Catatan Akhir Pekan [CAP] Adian Husaini ke-264

Oleh: Dr. Adian Husaini

Tanggal 22 Juni biasanya dikenang oleh umat Muslim Indonesia sebagai hari kelahiran Piagam Jakarta. Tetapi, tampaknya, kaum Kristen di Indonesia masih tetap menjadikan Piagam Jakarta sebagai momok yang menakutkan. Padahal, Piagam Jakarta bukanlah barang haram di negara ini. Bahkan, dalam Dekritnya pada 5 Juli 1959, Presiden Soekarno dengan tegas mencantumkan, bahwa “Piagam Jakarta tertanggal 22 Juni 1945 menjiwai dan merupakan suatu rangkaian kesatuan dengan konstitusi tersebut.”

Tapi, entah kenapa, kaum Kristen di Indonesia begitu alergi dan ketakutan dengan Piagam Jakarta. Sebagai contoh, Tabloid Kristen REFORMATA edisi 103/Tahun VI/16-31 Maret 2009 menurunkan laporan utama berjudul “RUU Halal dan Zakat: Piagam Jakarta Resmi Diberlakukan?” Dalam pengantar redaksinya, tabloid Kristen yang terbit di Jakarta ini menulis bahwa dia mengemban tugas mulia untuk mengamankan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang pluralis, sebagaimana diperjuangkan oleh para pahlawan bangsa.

“Hal ini perlu terus kita ingatkan sebab akhir-akhir ini kelihatannya makin gencar saja upaya orang-orang yang ingin merongrong negara kita yang berfalsafah Pancasila, demi memaksakan diberlakukannya syariat agama tertentu dalam seluruh aspek kehidupan berbangsa dan bernegara. Sebagaimana kita saksikan, sudah banyak produk perundang-undangan maupun peraturan daerah (perda) yang diberlakukan di berbagai tempat, sekalipun banyak rakyat yang menentangnya. Para pihak yang memaksakan kehendaknya ini, dengan dalih membawa aspirasi kelompok mayoritas, saat ini telah berpesta pora di atas kesedihan kelompok masyarakat lain, karena ambisi mereka, satu demi satu berhasil dipaksakan. Entah apa jadinya negara ini nanti, hanya Tuhan yang tahu,” demikian kutipan sikap Redaksi Tabloid Kristen tersebut.

Cornelius D. Ronowidjojo, Ketua Umum DPP PIKI (Persekutuan Inteligensia Kristen Indonesia), seperti dikutip tabloid Reformata menyatakan, bahwa Piagam Jakarta sekarang sudah dilaksanakan dalam realitas ke-Indonesian melalui Perda dan UU. “Sekarang tujuh kata yang telah dihapus itu, bukan hanya tertulis, tapi sungguh nyata sekarang,” tegasnya. Yang menggemaskan, demikian Cornelius, yang melakukan hal itu, bukan lagi para pejuang ekstrim kanan, tapi oknum-oknum di pemerintahan dan DPR. “Ini kecelakaan sejarah. Harusnya penyelenggara negara itu bertobat, dalam arti kembali ke Pancasila secara murni dan konsekuen,” kata Cornelius lagi. Bahkan, tegasnya, “Saya mengatakan bahwa mereka sekarang sedang berpesta di tengah puing-puing keruntuhan NKRI.”

Bagi umat Islam Indonesia, sikap antipati kaum Kristen terhadap syariat Islam tentulah bukan hal baru. Mereka –sebagaimana sebagian kaum sekular– berpendapat, bahwa penerapan syariat Islam di Indonesia bertentangan dengan Pancasila. Pada era 1970-1980-an, logika semacam ini sering kita jumpai. Para siswi yang berjilbab di sekolahnya, dikatakan anti Pancasila. Pegawai negeri yang tidak mau menghadiri perayaan Natal Bersama, juga bisa dicap anti Pancasila. Pejabat yang enggan menjawab tes mental, bahwa ia tidak setuju untuk menikahkan anaknya dengan orang yang berbeda, juga bisa dicap anti-Pancasila. Kini, di era reformasi, sebagian kalangan juga kembali menggunakan senjata Pancasila untuk membungkam aspirasi keagamaan kaum Muslim.

Rumusan Pancasila yang sekarang adalah: 1. Ketuhanan Yang Maha Esa, 2. Kemanusiaan yang adil dan beradab, 3. Persatuan Indonesia, 4. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan, dan 5. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Rumusan Pancasila tersebut adalah yang tercantum dalam Pembukaan UUD 1945 yang merupakan hasil dekrit Presiden 5 Juli 1959, yang dengan tegas menyatakan: “Bahwa kami berkeyakinan bahwa Piagam Jakarta tertanggal 22 Juni 1945 menjiwai dan merupakan suatu rangkaian kesatuan dengan konstitusi tersebut.”

Jadi, Dekrit Presiden Soekarno itulah yang menempatkan Piagam Jakarta sebagai bagian yang sah dan tak terpisahkan dari Konstitusi Negara NKRI, UUD 1945. Dekrit itulah yang kembali memberlakukan Pancasila yang sekarang. Prof. Kasman Singodimedjo, yang terlibat dalam lobi-lobi tanggal 18 Agustus 1945 di PPKI, menyatakan, bahwa Dekrit 5 Juli 1959 bersifat “einmalig”, artinya berlaku untuk selama-lamanya (tidak dapat dicabut). “Maka, Piagam Jakarta sejak tanggal 5 Juli 1959 menjadi sehidup semati dengan Undang-undang Dasar 1945 itu, bahkan merupakan jiwa yang menjiwai Undang-undang Dasar 1945 tersebut,” tulis Kasman dalam bukunya, Hidup Itu Berjuang, Kasman Singodimedjo 75 Tahun (Jakarta: Bulan Bintang, 1982).

Karena itu, adalah sangat aneh jika masih saja ada pihak-pihak tertentu di Indonesia yang alergi dengan Piagam Jakarta. Dr. Roeslan Abdulgani, tokoh utama PNI, selaku Wakil Ketua DPA dan Ketua Pembina Jiwa Revolusi, menulis: “Tegas-tegas di dalam Dekrit ini ditempatkan secara wajar dan secara histories-jujur posisi dan fungsi Jakarta Charter tersebut dalam hubungannya dengan UUD Proklamasi dan Revolusi kita yakni: Jakarta Charter sebagai menjiwai UUD ’45 dan Jakarta Charter sebagai merupakan rangkaian kesatuan dengan UUD ’45.” (Dikutip dari Endang Saifuddin Anshari, Piagam Jakarta 22 Juni 1945: Sebuah Konsensus Nasional Tentang Dasar Negara Republik Indonesia (1945-1949), (Jakarta: GIP, 1997), hal. 130).

Dalam pidatonya pada hari peringatan Piagam Jakarta tanggal 29 Juni 1968 di Gedung Pola Jakarta, KHM Dahlan, tokoh NU, yang juga Menteri Agama ketika itu mengatakan: “Bahwa di atas segala-galanya, memang syariat Islam di Indonesia telah berabad-abad dilaksanakan secra konsekuen oleh rakyat Indonesia, sehingga ia bukan hanya sumber hukum, malahan ia telah menjadi kenyataan, di dalam kehidupan rakyat Indonesia sehari-hari yang telah menjadi adat yang mendarah daging. Hanya pemerintah kolonial Belandalah yang tidak mau menformilkan segala hukum yang berlaku di kalangan rakyat kita itu, walaupun ia telah menjadi ikatan-ikatan hukum dalam kehidupan mereka sehari-hari.” (Ibid, hal. 135).

Meskipun Piagam Jakarta adalah bagian yang sah dan tidak terpisahkan dari UUD 1945, tetapi dalam sejarah perjalanan bangsa, senantiasa ada usaha keras untuk menutup-nutupi hal ini. Di zaman Orde Lama, sebelum G-30S/PKI, kalangan komunis sangat aktif dalam upaya memanipulasi kedudukan Piagam Jakarta. Ajip Rosidi, sastrawan terkenal menulis dalam buku, Beberapa Masalah Umat Islam Indonesia (1970): “Pada zaman pra-Gestapu, PKI beserta antek-anteknyalah yang paling takut kalau mendengar perkataan Piagam Jakarta… Tetapi agaknya ketakutan akan Piagam Jakarta, terutama ke-7 patah kata itu bukan hanya monopoli PKI dan antek-anteknya saja. Sekarang pun setelah PKI beserta antek-anteknya dinyatakan bubar, masih ada kita dengar tanggapan yang aneh terhadapnya.” (Ibid, hal. 138).

Jadi, sikap alergi terhadap Piagam Jakarta jelas-jelas bertentangan dengan Konstitusi Negara RI, UUD 1945. Meskipun secara verbal “tujuh kata” (dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya) telah terhapus dari naskah Pembukaan UUD 1945, tetapi kedudukan Piagam Jakarta sangatlah jelas, sebagaimana ditegaskan dalam Dekrit Presiden 5 Juli 1959. Setelah itu, Piagam Jakarta juga merupakan sumber hukum yang hidup. Sejumlah peraturan perundang-undangan yang dikeluarkan setelah tahun 1959 merujuk atau menjadikan Piagam Jakarta sebagai konsideran.

Sebagai contoh, penjelasan atas Penpres 1/1965 tentang Pencegahan Penyalahgunaan dan/atau Penodaan Agama, dibuka dengan ungkapan: “Dekrit Presiden tanggal 5 Juli 1959 yang menetapkan Undang-undang Dasar 1945 berlaku lagi bagi segenap bangsa Indonesia ia telah menyatakan bahwa Piagam Jakarta tertanggal 22 Juni 1945 menjiwai dan merupakan suatu rangkaian kesatuan dengan konstitusi tersebut.”

Dalam Peraturan Presiden No 11 tahun 1960 tentang Pembentukan Institut Agama Islam Negeri (IAIN), juga dicantumkan pertimbangan pertama: “bahwa sesuai dengan Piagam Djakarta tertanggal 22 Djuni 1945, yang mendjiwai Undang-undang Dasar 1945 dan merupakan rangkaian kesatuan dengan Konstitusi tersebut…”.

Sebuah buku yang cukup komprehensif tentang Piagam Jakarta ditulis oleh sejarawan Ridwan Saidi, berjudul Status Piagam Jakarta: Tinjauan Hukum dan Sejarah (Jakarta: Mahmilub, 2007). Ridwan menulis, bahwa hukum Islam adalah hukum yang hidup di tengah masyarakat Muslim. Tanpa UUD atau tanpa negara pun, umat Islam akan menjalankan syariat Islam. Karena itu, Piagam Jakarta, sebenarnya mengakui hak orang Islam untuk menjalankan syariatnya. Dan itu telah diatur dalam Dekrit Presiden 5 Juli 1959 yang dituangkan dalam Keppres No. 150/tahun 1959 sebagaimana ditempatkan dalam Lembaran Negara No. 75/tahun 1959.

Hukum Islam telah diterapkan di bumi Indonesia ini selama ratusan tahun, jauh sebelum kauh penjajah Kristen datang ke negeri ini. Selama beratus-ratus tahun pula, penjajah Kristen Belanda berusaha menggusur hukum Islam dari bumi Indonesia. C. van Vollenhoven dan Christian Snouck Hurgronje, misalnya, tercatat sebagai sarjana Belanda yang sangat gigih dalam menggusur hukum Islam. Tapi, usaha mereka tidak berhasil sepenuhnya. Hukum Islam akhirnya tetap diakui sebagai bagian dari sistem hukum di wilayah Hindia Belanda. Melalui RegeeringsReglement, disingkat RR, biasa diterjemahkan sebagai Atoeran Pemerintahan Hindia Belanda (APH), pasal 173 ditentukan bahwa: “Tiap-tiap orang boleh mengakui hukum dan aturan agamanya dengan semerdeka-merdekanya, asal pergaulan umum (maatschappij) dan anggotanya diperlindungi dari pelanggaran undang-undang umum tentang hukum hukuman (strafstrecht).” (Ridwan Saidi, Status Piagam Jakarta hal. 96).

Jadi, meskipun sudah berusaha sekuat tenaga, Belanda akhirnya tidak berhasil sepenuhnya menggusur syariat Islam dari bumi Indonesia. Ridwan menulis: “Sampai dengan berakhirnya masa VOC tahun 1799, VOC terus berkutat untuk melakukan unifikasi hukum dengan sedapat mungkin menyingkirkan hukum Islam, tetapi sampai munculnya Pemerintah Hindia Belanda usaha itu sia-sia belaka.” (Ibid, hal. 94).

Kegagalan penjajah Kristen Belanda untuk menggusur syariat Islam, harusnya menjadi pelajaran berharga bagi kaum Kristen di Indonesia. Mereka harusnya menyadari bahwa kedudukan syariat Islam bagi kaum Muslim sangat berbeda dengan kedudukan hukum Taurat bagi Kristen. Dengan mengikuti ajaran Paulus, kaum Kristen memang kemudian berlepas diri dari hukum Taurat dengan berbagai pertimbangan.

Dalam bukunya yang berjudul Syariat Taurat atau Kemerdekaan Injil? (Mitra Pustaka, 2008), Pendeta Herlianto menguraikan bagaimana kedudukan hukum Taurat bagi kaum Kristen saat ini. Dalam konsep Kristen, menurut Herlianto, keselamatan dan kebenaran bukanlah tergantung dari melakukan perbuatan hukum-hukum Taurat, melainkan karena Iman dan Kasih Karunia dengan menjalankan hukum Kasih. Jadi, hukum Kasih itulah yang kemudian dipegang kaum Kristen. Hukum sunat (khitan), misalnya, meskipun jelas-jelas disyariatkan dalam Taurat, tetapi tidak lagi diwajibkan bagi kaum Kristen. ‘Sunat’ yang dimaksud, bukan lagi syariat sunat sebagaimana dipahami umat-umat para Nabi sebelumnya, tetapi ditafsirkan sebagai “sunat rohani”. (Rm. 2:29). (Herlianto, Syariat Taurat atau Kemerdekaan Injil? Hal. 16-17).

Babi, misalnya, juga secara tegas diharamkan dalam Kitab Imamat, 11:7-8. Tetapi, teks Bibel versi Indonesia tentang babi itu sendiri memang sangat beragam, meskipun diterbitkan oleh Lembaga Alkitab Indonesia (LAI). Dalam Alkitab versi LAI, tahun 1968 ditulis: “dan lagi babi, karena sungguh pun kukunya terbelah dua, ia itu bersiratan kukunya, tetapi dia tiada memamah biak, maka haramlah ia kepadamu. Djanganlah kamu makan daripada dagingnya dan djangan pula kamu mendjamah bangkainya, maka haramlah ia kepadamu.” (Dalam Alkitab versi LAI tahun 2007, kata babi berubah menjadi babi hutan: “Demikian juga babi hutan, karena memang berkuku belah, yaitu kukunya bersela panjang, tetapi tidak memamah biak, haram itu bagimu. Daging binatang-binatang itu janganlah kamu makan dan bangkainya janganlah kamu sentuh; haram semuanya itu bagimu.”). Pada tahun yang sama, 2007, LAI juga menerbitkan Alkitab dalam Bahasa Indonesia Masa Kini, yang menulis ayat tersebut: “Jangan makan babi. Binatang itu haram, karena walaupun kukunya terbelah, ia tidak memamah biak. Dagingnya tak boleh dimakan dan bangkainya pun tak boleh disentuh karena binatang itu haram.”

Jika dibaca secara literal, maka jelaslah, harusnya babi memang diharamkan. Tetapi, kaum Kristen mempunyai cara tersendiri dalam memahami kitabnya. Menurut Herlianto, Rasul Paulus telah memberikan pengertian hukum Taurat dengan jelas: “Tetapi sekarang kita telah dibebaskan dari hukum Taurat, sebab kita telah mati bagi dia, yang mengurung kita, sehingga kita sekarang melayani dalam keadaan baru dan bukan dalam keadaan lama menurut hukum-hukum Taurat.” (Rm. 7:6). (Herlianto, Syariat Taurat atau Kemerdekaan Injil? Hal. 20).

Pandangan kaum Kristen terhadap hukum Taurat tentu saja sangat berbeda dengan pandangan dan sikap umat Islam terhadap syariat Islam. Sampai kiamat, umat Islam tetap menyatakan, bahwa babi adalah haram. Teks al-Quran yang mengharamkan babi juga tidak pernah berubah sepanjang zaman, sampai kiamat. Hingga kini, tidak ada satu pun umat Islam yang menolak syariat khitan, dan menggantikannya dengan “khitan ruhani”. Sebab, umat Islam bukan hanya menerima ajaran, tetapi juga mempunyai contoh dalam pelaksanaan syariat, yaitu Nabi Muhammad saw. Karena sifatnya yang final dan universal, maka syariat Islam berlaku sepanjang zaman dan untuk semua umat manusia. Apa pun latar belakang budayanya, umat Islam pasti mengharamkan babi dan mewajibkan shalat lima waktu. Apalagi, dalam pandangan Islam, syariat Islam itu mencakup seluruh aspek kehidupan manusia; mulai tata cara mandi sampai mengatur perekonomian.

Pandangan dan sikap umat Islam terhadap syariat Islam semacam ini harusnya dipahami dan dihormati oleh kaum Kristen. Sangat disayangkan, tampaknya, kaum Kristen di Indonesia masih saja melihat syariat Islam dalam perspektif yang sama dengan penjajah Kristen Belanda, dahulu. Padahal. sudah bukan zamannya lagi menuduh kaum Muslimin yang melaksanakan ajaran Islam sebagai “anti-Pancasila”, “anti-NKRI”, dan sebagainya. [Depok, 16 Juni 2009/www.hidayatullah.com]

Catatan Akhir Pekan [CAP] Adian Husaini adalah hasil kerjasama antara Radio Dakta dan www.hidayatullah.com

http://2i2h.multiply.com/journal/item/689

Thursday, June 25, 2009

Penguasa Boneka

Memanasnya isu Ambalat, yang secara kasatmata melibatkan Indonesia dengan Malaysia, tidak bisa dilihat sebagai konflik antara Indonesia dan Malaysia.

Ambalat adalah blok kaya minyak. Produksinya, menurut sumber resmi Kementerian ESDM, diperkirakan sekitar 30.000-40.000 barel perhari. Bahkan kawasan perairan Ambalat ini, menurut ahli geologi dari lembaga konsultan Exploration Think Tank Indonesia (ETTI), Andang Bachtiar, mengandung cadangan minyak yang luar biasa. Satu titik tambang di Ambalat menyimpan cadangan potensial 764 juta barel minyak dan 1,4 triliun kaki kubik gas. “Itu baru satu titik dari sembilan titik yang ada di Ambalat,” ujarnya (Tempo interaktif, 2/6/2009).

Dari situlah semuanya bermula. Petronas, perusahaan minyak milik Malaysia, memberikan konsesi pengeboran minyak di Blok Ambalat kepada Shell (perusahaan milik Inggris dan Belanda) 15 Februari 2005. Indonesia sendiri, menurut Marty Natalegawa, Jubir Deplu kala itu, sudah memberikan konsesi kepada beberapa perusahaan minyak dunia di lokasi ini sejak tahun 1960-an, antara lain kepada Total Indonesie untuk Blok Bunyu sejak 1967 yang dilanjutkan dengan konsesi kepada Hadson Bunyu BV pada 1985. Konsesi lainnya diberikan kepada Beyond Petroleum (BP) untuk Blok North East Kalimantan Offshore dan ENI Bukat Ltd. Italia untuk Blok Bukat pada 1988.

Jadi, perairan Ambalat, yang terdiri atas tiga blok—East Ambalat (dikelola Chevron-AS), Ambalat (ENI Lasmo-Italia) dan Bougainvillea—secara bisnis dan ekonomi memang sangat menggiurkan. Lalu siapa yang diuntungkan dari konflik ini? Jelas bukan Malaysia dan Indonesia, tetapi negara-negara penjajah seperti AS, Inggris, Belanda dan Italia. Karena itu, konflik Ambalat ini sejatinya adalah konflik kepentingan negara-negara penjajah itu. Hanya saja, mereka tidak berhadap-hadapan secara langsung, tetapi cukup dengan menggunakan para penguasa boneka, baik di Indonesia maupun Malaysia.

Di Pakistan, kita menyaksikan bagaimana para penguasa boneka Barat digunakan untuk membumihanguskan rakyatnya sendiri di Lembah Swat. Di negeri tetangganya, Afganistan, para penguasa boneka itu bahu-membahu dengan tentara NATO dan AS untuk melawan rakyat Afganistan yang tergabung dalam gerakan Taliban.

Di Somalia, Syeikh Syarif Ahmad yang kemarin menjadi mitra partai Islam dan para pemuda Mujahidin dalam peperangan menghadapi pemerintah yang loyal kepada Amerika dan pasukan Ethiopia, kini harus berbalik arah. Sang boneka itu pun berhasil dibeli oleh Amerika dan kini harus memerangi kedua kelompok yang sebelumnya berjuang bersamanya.

Para tentara penguasa boneka Arab seperti Mesir, Suriah dan Arab Saudi juga sama. Mereka telah berperang di pihak Amerika dalam Perang Teluk, dengan alasan membebaskan Kuwait dari pendudukan Irak, yang dianggap orang-orang asing. Penguasa boneka di Irak sendiri juga telah memerangi kelompok perlawanan Kurdi. Bahkan setelah pendudukan Amerika di Irak, penguasa boneka itu pun memerangi para Mujahidin di Irak. Ironisnya, mereka sama sekali tidak berusaha memerangi Amerika, Inggris dan sekutunya.

Di Palestina juga demikian. Aparat keamanan Palestina yang kemarin menjadi mitra kelompok perlawanan dan pemerintah, kini harus berhadap-hadapan. Ironisnya, mereka tidak sungguh-sungguh melakukan perlawanan terhadap Israel.

Iran juga sama. Para penguasa boneka di negeri mullah itu membantu Amerika di Irak dan Afganistan. Bahkan beberapa waktu yang lalu para penguasa Iran, Afganistan dan Pakistan bertemu. Mereka sepakat untuk memerangi terorisme dan menjaga keamanan di perbatasan, agar para teroris itu tidak bisa keluar-masuk wilayah mereka.

Siapapun yang mencermati peristiwa dan realitas politik di atas akhirnya bisa menemukan jawaban, bahwa sesungguhnya Amerika, Inggris dan negara-negara penjajah telah menggunakan negeri-negeri tersebut berikut para tentaranya untuk menceburkan diri dalam medan peperangan dengan menjadi bonekanya di wilayah-wilayah tersebut.

Operasi militer yang dilakukan tentara Pakistan sejatinya merupakan operasi yang dilakukan untuk menggantikan Amerika di wilayah kabilah (FATA) yang telah dikuasai kelompok perlawanan Afganistan. Karzai dan gerakan-gerakan yang berkoalisi dengannya juga sama. Mereka telah terlibat dalam peperangan dan bahu-membahu dengan tentara Amerika di Afganistan untuk mempertahankan posisi, aset dan kepentingan Amerika di wilayah itu.

Di Irak, sudah menjadi rahasia umum, bahwa para penguasa Arab telah bersekutu dengan Amerika. Mereka terlibat dalam peperangan untuk melawan tentara Irak; membuka jalan bagi Amerika untuk menduduki Irak, merampas kekayaannya, membunuh dan mengusir jutaan warganya. Begitu juga dengan pemerintah boneka yang dibentuk oleh Amerika di Irak. Pemerintahan ini dibentuk atas dasar aliran, termasuk membentuk gerakan Ashahwah. Kelompok ini berhasil digunakan untuk memerangi semua gerakan perlawanan di Irak, menggantikan tugas Amerika.

Di Somalia, tugas Amerika berhasil digantikan dengan baik oleh pemerintah boneka, Syeikh Syarif Ahmad.

Di Palestina, Jenderal Amerika, Dayton, berhasil mengerahkan seluruh kemampuannya untuk membersihkan semua kekuatan perlawanan dari aparat keamanan. Kemudian, ia melatih generasi baru yang rela untuk mengawasi dan menangkapi “saudara-saudara mereka sendiri, meski harus menggunakan kekuatan senjata”, atau bahkan menjadi mitra pemerintah dalam rangka menjaga keamanan orang-orang Yahudi serta melestarikan kepentingan, pengaruh dan cengkeraman Amerika di Palestina.

Mereka inilah yang disebut oleh Nabi saw., “ar-Rajulu at-tâfih yar’a syu’ûna al-’âmmah (Orang idiot yang mengurus urusan orang banyak).”

Tepat sekali sebutan Nabi saw. Bagaimana tidak idiot, seorang presiden kafir, dari negara kafir, yang tangannya masih berlumuran darah kaum Muslim, dan pasukannya siang dan malam masih terus membantai saudara-saudara mereka di Irak, Afganistan, Pakistan dan Somalia disambut begitu rupa, bahkan mengajari mereka kepentingan mutual respect (saling menghormati)?

Mengapa umat Islam belum juga mengambil kendali kekuasaannya, menyatukan dirinya dan menegakkan Khilafah yang akan menerapkan Islam secara kâffah, mengemban risalah, cahaya dan petunujuk kepada seluruh umat manusia, sehingga umat manusia terbebas dari kegelapan, kezaliman dan kejahatan Amerika dan negara-negara penjajah lainnya menuju keadilan Islam? Setelah itu, Khilafah akan mengembalikan posisi kaum Muslim pada kedudukan yang semestinya dan menjadikan negaranya sebagai negara adadidaya dunia, menggantikan AS, Inggris, Uni Eropa, Rusia dan Cina. []Hafidz Abdurrahman

Krisis Iran : Diambang Revolusi Baru?

Adnan Khan (Jumat 19 Juni 2009)

Apa penyebab krisis di Iran yang menyebabkan demonstrasi besar-besaran di kota Teheran?

Krisis ini disebabkan oleh hasil pemilu yang terjadi pada tanggal 12 juni 2009.

Hasil pemilu yang diumumkan pada tanggal 13 Juni 2009 oleh Mendagri Sadiq Mahsouli.
Ia menyatakan bahwa Mahmoud Ahmadinejad telah terpilih kembali dengan 62% suara, sedangkan kandidat reformis Mir Hossein Mousavi hanya mampu meraih 33% suara saja. Mahsouli menambahkan bahwa jumlah pemilih mencapai 85% dengan lebih dari 39 juta dari 46,2 juta pemilih telah melakukan pilihan mereka di TPS. Pemimpin Iran Ayatollah Ali Khameini pun dengan segera mengeluarkan pernyataan bahwa ia mendukung hasil pemliu dan menyerukan kepada publik untuk mendukung pemenangnya.

Uni Eropa dan beberapa negara barat menyuarakan keprihatinan mereka terhadap adanya dugaan kecurangan dalam pemilu tersebut. Beberapa analis dan jurnalis dari media Eropa dan Amerika mengutarakan keraguan terhadap keabsahan hasil pemilu tersebut.

Mousavi mengeluarkan pernyataan,” Saya ingatkan bahwa saya tidak akan menyerah terhadap kepalsuan,” dan dia mendorong para pendukungnya untuk melawan keputusan ini sekaligus mengingatkan untuk tidak melakukan aksi kekerasan. Protes yang mendukung Mousavi dan dugaan kecurangan pun meletus di Tehran.

Pada prinsipnya, dunia Barat dan kandidat dari kalangan reformis partai oposisi menolak hasil pemilu.

Apakah ada tanda-tanda kebenaran dari klaim tersebut?

Beberapa tindakan inkonsistensi telah dilaporkan dan dugaan adanya rekayasa perhitungan suara juga tidak bisa ditepis begitu saja. Di saat yang sama, diamnya tokoh yang jauh lebih berpengaruh seperti Rafsanjani dan Larijani juga merupakan indikasi yang kuat bahwa dugaan kecurangan kurang mendapat dukungan yang luas. Klaim kecurangan juga sulit diverifikasi kalaupun akan diselidiki. Hasil final yang memberikan Ahmadinejad perbedaan marjin sebesar 11 juta kartu suara akan sangat sulit untuk di hitung ulang.

Padahal tanpa penyelidikan akan sulit untuk membuktikan adanya rekayasa penghitungan suara. Namun akan juga sulit bagaimana Ahmadinejad mampu mencuri suara sebesar itu dengan marjin yang sangat besar. Untuk mencapai hasil seperti itu membutuhkan tim yang sangat besar dan ditempatkan pada setiap TPS. Resikonya akan sangat besar karena Ahmadinejad memiliki banyak rival politik yang akan dengan cepat mengambil kesempatan kalau memang ada indikasi kecurangan. Mousavi setelah 5 hari menyampaikan keluhannya kepada dewan Keamanan belum menghasilkan suatu penjelasan bagaimana kecurangan ini bisa terjadi.

Yang membuat tuduhan kaum reformis tentang kecurangan pemilu menjadi lemah adalah fakta bahwa keberadaan Ahmadinejadi dalam konferensi puncak Shanghai Cooperation Organisation (SCO) beberapa hari setelah hasil pemilu diumumkan. Kepergiannya tentu tidak akan terjadi tanpa sepengetahuan pemimpin spiritual tertinggi Ali Khomeini dan tokoh berpengaruh lainnya.

Khutbah Jumat pertama setelah pemilu nampaknya juga akan menghentikan arus demonstrasi dan juga pemilu ulang. Pemimpin spiritual Iran dalam khutbahnya di Universitas Tehran mengkritik Mousavi yang tidak menerima hasil pemilu dan yang juga bertanggungjawab terhadap adanya rentetan demonstrasi. Maka pernyataan Ali Khomeini ini secara tidak langsung merupakan dukungan terhadap hasil pemilu.

Saat ini kandidat dari kaum reformis menyatakan bahwa hasil pemilu ini berlawanan dengan mayoritas warga Iran yang menurut mereka beroposisi terhadap presiden Iran sekarang Mahmoud Ahmadinejad dan kebijakannya. Mereka juga mengatakan bahwa aspirasi ini dicuri oleh diktator yang tidak populer yang terkesan memenangkan pemilu dengan angka yang sangat dramatis.

Seberapa jauh persaingan antara kubu konservatif melawan kubu reformis?

Kaum konservatif mulai berkuasa sejak keberhasilannya mencetuskan revolusi Islam Iran di tahun 1979. Mahmoud Ahmadinejad sendiri dilaporkan sebagai salah satu otak yang mengendalikan terjadinya krisis penyanderaan di kedubes AS sebagai bentuk dukungan terhadap revolusi Iran. Akhirnya, Iran pun mengalami masa isolasi dari masyarakat internasional, yang menyebabkan rendahnya kepercayaan antara Iran dengan dunia Barat. Meninggalnya Ayatollah Rahullah Khomeini menyebabkan beberapa ulama senior Iran menyerukan adanya penghentian isolasi dari dunia internasional dan mendorong adanya perbaikan hubungan dengan Barat. Seruan reformasi ini dipimpin oleh Ali Akbar Hashemi Rafsanjani dan Mohammad Khatami, yang hingga kini merupakan perbedaan mendasar yang menimbulkan perbedaan aliran politik Iran.

Mohammad Khatami mengundurkan diri dari pemilu dan memberikan dukungannya kepada Mousavi untuk memastikan tidak adanya perpecahan suara untuk kubu reformis. Pemilu ini merupakan pertarungan antara kandidat konservatif yang yakin dengan Revolusi Islam dan kaum reformis yang percaya bahwa Iran harus meninggalkan revolusi Islam dan memperbaiki hubungan dengan Barat. Saat ini rezim Iran dan aparatnya dikendalikan oleh kaum konservatif.

Beberapa hari setelah pemilu terjadi berbagai demonstrasi yang menyerukan reformasi. Untuk beberapa waktu ada kesan bahwa Mousavi akan menyerukan gelombang perlawanan di Tehran secara besar-besaran. Namun kemungkinan itu berlalu ketika pasukan keamanan Ahmadinejad yang berkendaraan sepeda motor melakukan intervensi. Pada akhirnya Barat pun menghadapi skenario terburuk: pemimpin anti-liberal yang terpilih secara demokratis.

Media Barat banyak meliput permasalahan pemilu dan melaporkannya sebagai tanda-tanda akan terjadinya revolusi. Meski dua kandidat dalam pemilu ini mewakili dua kubu yang berbeda, garis yang membedakan mereka sebenarnya tidak terlalu jelas karena keduanya mulai bersikap dan mengambil kebijakan pragmatis.

Dalam wawancaranya dengan John Harwood dari CNBC, Barack Obama mengatakan,” Perbedaan antara Ahmadinejad dan Mousavi tentang kebijakan yang akan mereka ambil sebenarnya tidak tidak terlalu berbeda sebagaimana yang selama ini dilaporkan. Apapun hasilnya, kami akan tetap bekerjasama dengan siapapun yang memimpin rezim Iran, yang selama ini memusuhi AS.”

Meski di masa lalu perbedaan antara kaum reformis dan konservatif jelas terlihat, saat ini tidak demikian. Meski pada setiap kubu ada anggota yang saling menyerang, hal ini lebih bersifat personal ketimbang ideologi konservatif ataupun reformis. Kebencian terhadap
Ali Akbar Rafsanjani lebih karena ia melakukan korupsi ketimbang dia sebagai konservatif.

Media Barat melaporkan tanda-tanda akan adanya revolusi baru, apakah demikian?

Peliputan media massa Barat terhadap Iran saat ini terlalu berlebihan dan sangat bias. Ide revolusi ini terucap oleh laporan Barat dengan slogan seperti revolusi seru, generasi ipod, revolusi facebook, revolusi blog, dan revolusi hijau. Pangkal dari laporan Barat semacam ini berakar dari permusuhan mereka terhadap Revolusi Islam dan mendukung para reformis yagn menginginkan kebebasan di Iran yang liberal. Barat selalu mengangkat isu ini dalam interaksinya dengan Iran, dan tidak akan berhenti melakukannya.

Cerita mitos di dunia barat mengatakan bahwa kejatuhan Shah Iran adalah gerakan masyarakat yang menginginkan liberalisasi. Kalau saja kelompok reformis didukung oleh Barat, maka mereka akan menjadi penguasa dan pemerintah. Wartawan asing percaya bahwa mereka yang mendengarkan Beyonce memiliki iPod, memiliki blog, dan tahu bagaimana membuat hal-hal Seru, tentu merupakan penggemar habis liberalisme Barat. Individu semacam ini bisa ditemukan di kalangan profesional di Tehran dan juga pada kelompok mahasiswa.

Banyak diantara mereka yang berbicara bahasa Inggris sehingga bisa dikontak oleh wartawan Barat, diplomat, dan agen intelijen. Merekalah yang bisa dan mau berbicara kepada masyarakat Barat. Dari merekalah Barat memiliki informasi bahwa revolusi sedang terjadi di sana. Namun orang-orang ini tidaklah mayoritas. Kebanyakan warga Iran adalah miskin dan tidak mampu membeli iPod apalagi telpon, dan merekapun senang mendengarkan pidato Ahmadinejad yang anti Barat.

Kandidat yang kalah pemilu ini juga menggunakan data dari survei untuk membuktikan keluhan mereka. Hampir semua survei memprediksi kekalahan Ahmedinijad. Ia memiliki masa pemerintahan yang buruk dan sedikit sekali janji kebijakan politik yang berhasil ia lunasi, seperti tingginya pengangguran dan rusaknya infrastruktur industri energi Iran. Maka tidak heran apabila para pendukung kaum reformis oposisi, baik dari Iran maupun luar Iran, sangat terkejut mendengar kekalahan kaum reformis.

LSM AS Strategic Forecasting, yang bergerak di bidang kegiatan intelijen- melaporkan:” Hasil dari survei menunjukkan bahwa bekas perdana menteri Iran Mir Hossein Mousavi mengalahkan Ahmadinejad. Akan sangat menarik untuk dipelajari bagaimana seseorang bisa melakukan survei di negeri dimana telpon belum umum digunakan. Maka survei kemungkinan dilakukan terhadap orang yang punya telpon dan tinggal di Tehran dan sekitarnya. Untuk daerah seperti itu, Mousavi memang bisa saja menang. Tapi, di luar Tehran, angka survei bisa saja berbeda.”

Abbas Barzegar, yang melaporkan untuk harian The Guardian menceritakan reaksi Barat terhadap hasil pemilu sebagai angan-angan. Katanya, “ Wartawan Barat selama ini melaporkan dari sumber yang berasal dari daerah yang kaya di perkotaan dan tidak memperhitungkan besarnya dukungan terhadap Ahmadinejad di daerah yang miskin dan pedesaan.”

Akan tetapi hubungan Barat dan Iran mulai berubah dan diawali sejak pemerintahan Bush. Iran terus bekerjasama dengan AS dan melindungi kepentingannya. Di Iraq, Tehran terus mendukung pemimpin SCIRI, Ayatollah Hakim dan Brigade Badr yang telah menjadi kunci rencana AS untuk Iraq Selatan. Di Afghanistan, Iran melakukan aktifitas rekonstuksi yang ekstensif dan program pelatihan di Kabul, Herat, dan Kandahar. Sejauh ini Iran masih mencegah rasa malu AS di masing-masing negara. Meski media massa Barat masih menfokuskan kepada ketidakpercayaan antar dua negara ini, Barack Obama merencanakan untuk memulai meladeni hubungan dengan Tehran dalam beberapa minggu ke depan.

Apakah demonstrasi yang terjadi adalah bukti perlawanan terhadap Revolusi Islam atau Islam itu sendiri

Banyak sekali warga Iran di tahun 1979 bergerak secara serentak untuk menjatuhkan pemerintahan Shah. Kegagalan ekonomi dan kediktatorannya menjadi faktor pemersatu antara kaum reformis, marxist, sosialis, mahasiswa, profesor, dan kaum anarkis. Namun revolusi Islam tidak membawa perbaikan dalam hal ekonomi. Khomeini memulai proses mengontrol kegiatan masyarakat, mengasingkan, membunuh, dan menahan siapapun yang telah membantunya naik ke panggung kekuasaan. Perang melawan Iraq selama 8 tahun juga menghisap perekonomian Iran dan menciptakan semakin banyak kemiskinan daripada sebelum revolusi.

Ekonomi Iran sejauh ini masih tergantung kepada minyak dan sektor energi lainnya. Iran memiliki cadangan gas terbesar di dunia setelah Rusia dan memiliki cadangan minyak terbesar di dunia setelah Saudi Arabia. Namun infrastruktur energi yang dibangun sejak tahun 1940an mulai rusak, inflasi meninggi, dan pengangguran sulit dikendalikan. Ahmadinejad meraih kekuasaan dengan berjanji memperbaiki semua itu tapi hingga kini belum terjadi. Dia berusaha menyelesaikan masalah dengan program belanja publik yang masif dan mensubsidi minyak dan gas, dimana hal ini tidak bisa dilanjutkan. Di tahun 2007, akibat manajemen yang tidak baik Ahmadinejad melakukan usaha memperbaiki dengan tindakan membagikan bensin, namun hal ini justru menimbulkan kerusuhan.

Demonstrasi yang kini memenuhi laporan media massa Barat mewakili mereka yang ingin berubah akibat kegagalan ekonomi pemerintahan Ahmadinejad. Dia telah gagal dalam melaksanakan janji ekonominya dan menciptakan bom ekonomi yang bisa meledak kapan saja. Kemenangan pemilunya banyak dilihat sebagai kelanjutan kebijakan ekonomi yang gagal. Ahmadinejad tidak melakukan apapun untuk 3 juta penganggur. Meskipun isu pemilu menjadi katalis aksi demonstrasi, isu pemilu sendiri juga meliputi isu ekonomi dan pengangguran. Media Barat akan terus mengekspos para demonstran sebagai kaum yang mewakili sentimen publik Iran, dan mereka gagal melihat bahwa permasalahan ekonomi yang menghantui negeri itu, atau bahkan gagal melihat bahwa para demostransi adalah sekedar para pendukung kandidat yang kalah pemilu secara telak.